Jumat, 07 Juni 2019

Mentalism




Kondisi mentalmu menentukan realita duniamu.

Artikel ini sebaiknya dibaca bila sudah membaca artikel-artikel saya sebelumnya.
Terlebih baik lagi bila sudah pula menghadiri seminar-seminar saya.






Dari The 7 Principles of Hermetica, The Sacred Knowledge of Thoth;


The Principle of Mentalism
(Prinsip Mentalisme)

"The universe is mental in the mind of God."


Seluruh alam semesta ini berada di dalam mental/batin Zat Yang Maha Esa, Tuhan. Tuhan adalah tempat/medium dimana alam semesta ini eksis. Alam semesta adalah proyeksi dari sebuah Kehendak. Tuhan mem-batin akan keberadaan suatu alam semesta beserta seluruh isinya, maka terciptalah alam itu di dalam-Nya.



"Before believing there is knowing."
(Sebelum keyakinan, ada kepahaman)


Dasar dari keyakinan adalah Kepahaman. Sang Guru Agung, mengawali ajarannya kepada umat manusia untuk tahu dan paham. Seseorang diharuskan memahami terlebih dahulu sebelum meyakininya / mengimaninya. Sedangkan kita perhatikan kebanyakan manusia cenderung dipaksa untuk meyakini terlebih dahulu sebelum kemudian perlu bertanya untuk mengetahui dan memahaminya. Ajaran seperti ini disebut doktrin. 

Tidaklah demikian yang seharusnya terjadi. Pengetahuan harus datang terlebih dahulu. Ini adalah proses alamiah. Di ajaran Islam sendiri, sang Rosul, diharuskan mengetahui terlebih dahulu. "Iqra" atau "Recite" atau "Ucapkan kembali", atau "Bacalah" yang sebuah kata itu sesungguhnya bermakna (ditafsirkan sebagai) 'mengetahui'. Sang Rosul harus mengetahui terlebih dahulu sebelum ajaran dapat dilanjutkan dan kemudian bisa diyakini. 

Untuk mencapai kondisi 'mengetahui' dan 'memahami', maka manusia diharuskan berpikir, belajar, menganalisa, mengkaji, dan menguji kembali hasil kajiannya, - serangkaian proses yang tak kan pernah selesai selagi manusia masih hidup - untuk mencapai kepahaman yang sempurna.

Yang harus diketahui dan dipahami pertama kali adalah bahwa alam semesta ini merupakan ciptaan batin Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan berkehendak, maka terciptalah alam ini di batin-Nya. Dengan demikian maka manusia harus melatih diri untuk mendekatkan atau menyelaraskan batin diri dengan Tuhan. 

Alam ini eksis di dalam Tuhan, maka alam ini mematuhi hukum Tuhan. Tidak ada satupun yang berada di dalam alam ini bisa luput dari hukum Tuhan. Hanya Tuhan yang tidak terikat dengan hukum-Nya. Hukum Tuhan adalah pengetahuan yang kita cari dan pelajari. Inilah tujuan utama dari pencarian ilmu, yaitu memahami hukum Tuhan, memahami batin Tuhan. Maka dengan menyelaraskan batin diri ini dengan batin Tuhan, otomatis manusia dapat mencapai pemahaman mutlak akan pengetahuan alam yang tanpa batas. Pengetahuan Tuhan. Hukum Tuhan. 

Bagi praktisi spiritual dan meditator, mereka sudah paham apa yang saya maksudkan di sini. Alam ini berperilaku dengan hukum/pengetahuan Tuhan. Maka, dengan menyerahkan batin diri ini untuk selaras dengan batin Tuhan, akan terbukalah pengetahuan Tuhan yang hakiki tanpa batas, dengan penyampaiannya mengunakan bahasa yang dimengerti secara universal, Bahasa Ruh. Bahasa Rasa. Bahasa Energi.

Keselarasan dengan Tuhan berarti keselarasan dengan batin Tuhan. Jika saya pahami sungguh-sungguh, batin, bisa kita sesuaikan sebagai kondisi mental manusia.


Man is the Agent of Creation
(Manusia adalah Agen Penciptaan)

Oleh karena seluruh alam ini termasuk manusia ada di dalam Tuhan, maka manusia memiliki semua sifat-sifat Tuhan. Satu sifat Tuhan yang terutama adalah Pencipta. Maka manusia pun dilengkapi dengan sifat pencipta. 

Seorang Sufi Master yang hampir semua bukunya sudah saya baca, Llewellyn Vaughan-Lee mengatakan "Man is the agent of creation" (manusia adalah agen penciptaan), maknanya adalah manusia dapat melakukan penciptaan seperti halnya Tuhan. Dan apa yang diutarakannya ini sejalan dengan kepahaman saya. Manusia dilengkapi dengan otak yang sangat istimewa. tidak ada makhluk lain di alam ini memiliki kemampan berimajinasi dan berpikir seperti manusia. Dari otak yang luar biasa ini manusia dapat menciptakan sesuatu.

Proses penciptaan yang dilakukan oleh manusia diawali dari imajinasi. Imajinasi adalah sebuah penciptaan di dalam benak. Banyak yang terjadi di dalam benak seorang manusia. Imajinasi selalu disertai dengan rasa yang selaras dengan imajinasinya itu sendiri. Imajinasi dan rasa selalu timbul bersama dan keduanya dapat saling mempengaruhi.

Rasa dapat membentuk imajinasi, dan imajinasi dapat membentuk rasa. Dengan demikian imajinasi yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi psikologis manusia itu sendiri. Apa yang ia rasakan korespon terhadap imajinasi yang dihasilkan. Jika seorang merasakan hal yang positif, maka imajinasinya berwujud positif. Begitu pula sebaliknya, bila yang dirasakan adalah hal yang negatif, maka imajinasinya pun berwujud negatif.

Di dalam tulisan saya "The Healer" telah saya tuliskan cukup jelas bagaimana pengaruh rasa ini mempengaruhi seseorang. Dan kapan seorang timbul rasa positif dan kapan timbul rasa negatif. Saya anjurkan anda membacanya.


The Principle of Correspondence
(Prinsip Korespondensi)

"As above so below, as below so above."


Dengan penjabaran yang sudah cukup baik di dalam aritkel The Healer, saya ingin menekankan sekali lagi bahwa apa yang terjadi di dalam diri seseorang terpancarkan ke luar, ke dunianya. Hal ini bukanlah sebuah teori belaka, melainkan benar adanya. Alam semesta ini bereaksi dan merespon apa yang ada di dalam diri anda. Oleh karena di dalam diri terdapat benak, rasa, imajinasi, psikologis - bisa kita gunakan kata mental; Kondisi mental seseorang terpancar ke luar dan mempengaruhi hidupnya atau dunianya.

Inilah prinsip Koresponden. Apa yang terjadi di dalam diri, terjadi di luar diri. Apa yang di dalam mikro kosmos, ada pula di makro kosmos. Kita saling terhubung, karena memang kita semua berada di dalam Tuhan Yang Satu itu, kita menggunakan zat dasar yang sama, yaitu Zat Tuhan.


The Principle of Vibration
(Prinsip Vibrasi)


Zat Tuhan yang kita bicarakan di atas adalah energi. Saya sudah sering menuliskan ini; bahwa semua yang ada di alam ini adalah energi. Bahkan sebentuk wujud yang kita lihat sebagai materi sesungguhnya dibentuk dari energi yang sama. Termasuk pula rasa dan imajinasi -- mental -- adalah energi. 

Jika kita bicara mengenai energi, maka tidak ada satu pun yang diam. Energi senantiasa bergetar. Energi yang bergetar ini menghasilkan gelombang - frekuensi - tertentu yang bisa berbeda antara satu dan lainnya bergantung sumbernya. Dan seumpamanya gelombang radio, dua gelombang radio hanya dapat tersambung apa bila mereka memiliki frekuensi yang sama.

Frekuensi getaran energi yang dihasilkan dari kondisi mental seseorang juga akan memenuhi keselarasannya dengan frekuensi yang sama di alam ini. Ketiga prinsip; Mental + Korensponden + Vibrasi adalah kesatuan yang tak terpisahkan dan bagian dari hukum alam yang berlaku universal. 

Kondisi mentalmu mempengaruhi alam di sekitarmu. Alam merespon apa yang kau alami di dalam diri - kondisi mentalmu.
Jika alam merespon hal yang sama dengan kondisi mentalmu, maka alam akan menghadirkan realita bagimu yang sesuai dengan kondisi mentalmu.
Kondisi mentalmu menjadikan realitamu.


"Aku sesuai persepsi hamba-Ku."
(HR. Bukhari)


Para Nabi dan Rosul, Buddha, dan tokoh-tokoh spiritual lain, serta para Guru Agung, mereka adalah para MysticAlchemist, yang menyampaikan kepahaman kepada manusia. Mereka menyampaikan pesan illahi - yaitu pesan yang didapat setelah kondisi mental mereka selaras dengan batin Tuhan. Walaupun bahasa mereka berbeda-beda, dan di zaman yang berbeda, pesan mereka secara esensial adalah serupa. 
Keagungan Tuhan, hanya dapat dipahami bila manusia yang memahaminya mencapai kondisi mental yang agung.
Kemuliaan Tuhan, hanya dapat dipahami bila manusia yang memahaminya mencapai kondisi mental yang mulia.
Keberlimpahannya Tuhan, hanya dapat dipahami bila manusia yang memahaminya mencapai kondisi mental yang berkelimpahan.
Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, hanya dapat dipahami bila manusia yang memahaminya mencapai kondisi mental yang Pengasih dan Penyayang.
Tuhan yang Maha Kaya, hanya dapat dipahami bila manusia yang memahaminya mencapai kondisi mental yang kaya.
dll. 

Di atas adalah kondisi mental manusia yang bermuatan positif. Di bawah ini adalah kondisi mental manusia yang bermuatan negatif;
Seorang yang kondisi mentalnya terpuruk karena selalu merasa gagal, ia akan memahami Tuhan sebagai Tuhan yang sangat membencinya.
Seorang yang kondisi mentalnya terhina karena dibuang atau disiksa (abused) oleh orang tuanya dikala ia kecil, ia akan memahami Tuhan sebagai Tuhan yang sangat merendahkannya atau mengutuknya.
Seorang yang kondisi mentalnya kecil, sempit, susah, karena menganggap hidup banyak tuntutan yang harus dipenuhi, ia akan memahami Tuhan sebagai Tuhan yang menuntut untuk dipuaskan dan memaksakan banyak syarat padanya.
dll.

Saya ingin mengajak anda membayangkan dan menjawab ini;
kira-kira bagaimana bentuk kehidupan orang yang bermental positif seperti keterangan di atas? Dan bagaimana pula bentuk kehidupan orang yang bemental negatif?

Kita sudah tahu jawabannya. Sudah pasti hidup mereka adalah cerminan atau proyeksi atau manifestasi dari kondisi mental mereka. Bila kondisi mentalnya positif, maka hidup mereka positif. Bila kondisi mentalnya negatif, maka hidup mereka pun negatif. 

Dunia / hidup mereka sesuai persepsi mereka terhadap Tuhan.
Dunia / hidup mereka sesuai persepsi mereka terhadap Hidup ini.

Saya anjurkan anda membaca artikel "The Great Attractor".



Mentality
Mentalitas

Sekarang saya ingin membawa kepahaman yang sudah saya tuliskan di atas, ke kehidupan kita. Tapi saya tidak akan menuliskan yang terlalu spesifik. Saya tidak pernah menuliskan sesuatu terlalu spesifik karena saya ingin anda berpikir sendiri untuk memahami tulisan saya. Dengan berpikir maka anda akan paham. Kepahaman adalah pencapaian yang seharusnya anda utamakan. 

Jika Kondisi mental mempengaruhi realita kita, bagaimanakah anda menjadikan realita kehidupan yang penuh kebahagiaan? Jawabannya adalah anda harus sudah memiliki kondisi mental yang SUDAH BIASA hidup berbahagia. -- atau kalau saya boleh meminjam kata yang digunakan oleh sahabat saya, Sdr. Saeful Segara untuk kepahaman yang sama, yaitu 'LAYAK' - hidup berbahagia. Sikap yang keluar dari anda adalah rasa syukur yang besar. 

Bila anda me-rasa bahwa hidup bahagia sebagai hal yang tidak biasa, atau sulit dicapai, atau anda tidak layak mendapatkannya, ini artinya mental anda tidak siap menerima kehidupan yang bahagia itu. Maka kebahagiaan tidak akan menghampiri anda.

Bagaimana dengan menjadikan kehidupan anda yang penuh peluang, sukses, kejayaan rizki, dan lain-nya? Sampai di sini anda seharusnya sudah mampu menjawabnya sendiri.
Pertanyakanlah ini kepada diri anda sendiri; SUDAH BIASA kah anda dengan kondisi itu?

Tuhan hanya merespon apa yang dipersepsikan oleh makhluk-Nya terhadap-Nya.
Tuhan adalah Zat yang Maha Berlimpah. Berlimpahnya Keberkahan, Kebaikan, dan Kemuliaan dilayakkan-Nya kepada manusia dalam jumlah yang tak berhingga, bagaikan hujan lebat tak berkesudahan. Bagaimanakah anda menampung keberlimpahan Tuhan itu? Apa yang anda dapatkan adalah sesuai dengan ukuran daya tampung anda. Apakah anda menampungnya dengan membuat kolam yang sangat besar, atau hanya dengan cangkir kecil?

Lagi, saya ingin meminjam satu kata ini dari Sdr Saeful Segara; WADAH. 
Ukuran wadah anda menentukan seberapa besar keberlimpahan Tuhan yang layak anda peroleh. Dan saya perlu tambahkan, di dalam konteks ini adalah mutlak dipahami bahwa mental anda harus SUDAH BIASA memiliki wadah yang besar itu.

Dari ulasan di atas, dapat kita kelompokkan manusia ke dua kategori ini; Mereka yang bermental berkelimpahan, dan mereka yang bemental berkekurangan. 

Mereka yang bermental berkelimpahan adalah mereka yang mentalnya bermuatan positif. Mereka yang sudah biasa dan layak akan keagungan kemuliaan dan keberlimpahannya hidup. Yaitu mereka yang memandang Tuhan dalam keagungan, Kemuliaan, dan Keberlimpahan-Nya. Dengan demikian mereka jauh dari kondisi / rasa sempit, kecil, minder,  khawatir, ragu, maupun takut.

Tiada satu pun peristiwa di dunia ini yang negatif bagi mereka. Bencana dan musibah pun disambut dengan positif karena dibalik setiap peristiwa ada hikmah yang sangat beharga - bahkan lebih berharga dari semua kekayaan di dunia.

Mereka akan giat, aktif, semangat, dan memandang hidup ini segagai tempat yang penuh peluang emas. Kemana pun mereka pergi akan selalu ada ilmu atau peluang baru yang mereka peroleh. Sehingga mereka pun kerap mencari kesempatan untuk hadir dan atau terlibat di dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang sukses dan berilmu tinggi.

Namun mereka tidak sombong atas apa pun yang mereka peroleh. Tiada lagi yang patut dipamerkan dan disombongkan. Karena mereka sudah biasa dengan keberlimpahan itu. Yang terpancar dari mereka hanyalah rasa syukur yang besar atas segalanya, baik yang kecil maupun yang besar.

Sedangkan mereka yang bemental berkekurangan adalah mereka yang mentalnya bemuatan negatif. Mereka sudah biasa akan hidup berkekurangan, sempit, kecil, dan minder terhadap kondisi orang lain. Sehingga mereka pun sudah biasa hidup dalam kekhawatiran, keraguan, dan ketakutan. Mereka adalah yang memandang Tuhan sebagai Tuhan yang menakutkan dan menuntut banyak syarat.

Mereka akan berusaha menghindar dari tempat-tempat atau lingkungan yang tidak nyaman bagi mereka. Hal ini dikarenakan mental kecil dan minder yang sudah menjadi biasa bagi mereka. Sehingga perkumpulan-perkumpulan atau pertemuan-pertemuan yang seharusnya menjadi tempat pengembangan / pemberdayaan diri justru mereka hindari.

Apabila mereka mendapatkan sesuatu yang besar (rizki yang banyak misalnya), mereka akan menyombongkannya. Mengapa? Karena mereka tidak biasa menerima kebaikan seperti itu, mereka 'kaget', kemudian memperlakukan kebaikan itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Dan kebanyakan dari mereka pun menaruh syarat untuk sebentuk kebaikan. Mereka menaruh syarat untuk besyukur. Kondisi ini menjadikan mereka tidak pernah bersyukur.




Bila anda seperti saya yang sering berkontemplasi, merenung, mengkaji pemahaman anda mengenai alam ini, dan jika kitalah yang menyesuaikan diri pada Sang Penciptanya, ketimbang memaksakan Sang Pencipta yang memahami kita (seperti yang pada umumnya saya termukan di sekitar saya), maka sesungguhnya sangat sederhana bagaimana Tuhan menjalankan alam ini.

Di tingkat kesadaran-Nya, anda akan mendapati kesederhanaan namun keagungan yang tiada tandingan, kebersahajaan namun elegan yang tak terlukiskan. Semakin tinggi tingkat kesadaranmu, semakin sederhanalah cara berpikirmu. Seperti halnya Tuhan itu sendiri.

Di tempat berpijaknya manusia - di atas bumi ini, lebih banyak manusia yang memiliki pemahaman terbalik, yaitu ketimbang menyelaraskan cara bepikir dengan Tuhan, mereka memaksa Tuhan yang menyelaraskan dengan mereka. Ketimbang meluaskan mental mereka untuk selaras dengan luasnya Tuhan, mereka memaksa Tuhan menyesuaikan dengan sempitnya mental mereka. 

Untuk memahami Tuhan kita harus memahami ciptaan-Nya. Pernyataan ini berlaku pula sebaliknya, yaitu untuk memahami ciptaan-Nya kita harus memahami Pencipta-Nya - Tuhan.

Yang membedakan antara manusia yang satu dan yang lain adalah tingkat KEPAHAMAN mereka akan kebenaran hakiki - Tuhan. Dan kebanyakan mereka yang mengaku paham, melandaskan kepahaman mereka di atas logika yang salah. Sangatlah penting memahami logika Tuhan untuk bisa melandaskan kepahaman kita di atas sesuatu yang merupakan kebenaran hakiki.

Ternyata Tuhan tidak pernah menempatkan syarat atau batasan atau perantara apa pun dalam memahami-Nya. Ia sudah selalu terbuka dan senantiasa menanti kita untuk mendekatkan diri pada-Nya dan memahami-Nya. Ia menantikan kesederhanaan cara berpikir kita seiring dengan meningkatnya kepahaman kita.



Dan begitu kau mengakuinya, akan terjadi peristiwa yang hanya dapat dirasakan olehmu dan Tuhan. 

Mengalirlah bersama Tuhan, dan sempurnakan kepahamanmu dengan menjadi sungai itu. 
Gunakanlah logika Tuhan, dan sempurnakan kepahamanmu dengan membiarkan Ia yang berpersepsi atasmu.
Berdirilah di sisi-Nya, sempurnakan kepahamanmu dengan bergerak bersama-Nya.

Capailah keharmonisan hidup dalam harmonisasi-Nya.





Jika kau berdoa kepada-Ku, maka kau berdoa kepada dirimu.
Jika kau meminta kepada-Ku, maka kau meminta kepada dirimu. 
Kau adalah dimana Aku, dan Aku adalah dimana dirimu.
Hadirnya dirimu adalah hadirnya Aku.
Bawalah Aku dalam wujudmu.

Aku adalah sesuai persepsimu terhadap-Ku.







~ Erianto Rachman ~

2 komentar:

Anonim mengatakan...

mohon maap mas, bagaimana kalau nomer urutan artikelnya dibalik mulai dari artikel 001 diatas terus berurutan nomernya kebawah, karena awalnya saya bingung karena membacanya gak berurutan dari awal dan gak melihat nomer urutan karena kebiasaan yang diatas pasti urutan pertama, mungkin banyak juga teman2 lain yang awalnya tersesat kebingungan dan salah persepsi seperti saya, tapi syukur sekarang akur lagi dipikiran saya setelah mengulang pelan2 baca dari awal artikel nomer 001 tapi harus banyak berhenti istirahat karena capek banget rasanya otak saya mikirnya, terima kasih banyak ilmunya sangat bermanfaat sekali

Erianto Rachman mengatakan...

Terima kasih sudah membaca tulisan saya.
Urutannya memang saya buat seperti itu, Yang terkini ada di paling atas.