Senin, 18 Februari 2019

Gong!




Apakah kau merasakan-Nya?
Apakah kau merasakan Dia merasakanmu?



Terima kasih Tuhan, yang telah memberiku hidup.
Karena hidup adalah kisah. Dan kisahku adalah anugerah terbesarku dari-Mu.

Aku menengok ke belakang dan tersenyum melihat jejak kakiku sendiri yang.. yah... tidak lurus jalanku. Di kejauhan tampak aku yang berputar-putar seperti orang kebingungan. Di masa lainnya tampak aku yang tersungkur, beguling-guling di tanah...
Bahkan ada pula jejakku yang tak tampak. Hmm.. sedang apa aku waktu itu? Ah, aku ingat... aku melompat kegirangan... bersorak gembira karena prestasiku.

Aku tersenyum haru karena aku sudah sampai di sini yang mampu melihat semua kejadian itu sebagai karunia Tuhan untukku. Dan aku mampu bersyukur karenanya.

Dulu aku meratap kepada-Mu, ya Tuhan, "Apakah kau mendengarkanku?"
Betapa sombongnya aku dulu yang berharap agar Kau yang harus mendengarkanku.

Tetapi sekarang aku bertanya pada-Mu dengan segenap rasa kerendahan hatiku, "Apakah aku sudah mendengarkan-Mu?"

Kisahku adalah kisah-Mu. 
Kau berpengalaman di dunia melalui aku.
Langkahku juga langkah-Mu.
Akan kutapakkan kaki ini dengan mantap di atas bumi,
kubawa Kau bersamaku.


Aku masih tersenyum - bahagia memandangi kisahku di belakang. Aku terima setiap jatuh bangunnya. Aku sadari setiap dapat dan hilang-nya. Aku menerima dengan kelapangan hati ini. Kesalahanku sudah dimaafkan. Dan aku sudah memaafkan semua yang pernah menyakitiku. Tidak ada satu pun dari masa laluku yang masih mengganjalku.

Kusadari bahwa Kau telah menciptakanku dalam kondisi yang unik. Tiada lainnya yang sama denganku. Aku bertanya sendiri; mengapa Kau menciptakanku sebagai manusia yang unik? Lagi-lagi jawabannya ada di belakangku - yaitu kisah hidupku. Setiap manusia adalah unik karena Tuhan menghendakinya demikian. Karena Tuhan berpengalaman melalui ciptaan-Nya.

Lalu mengapa demikian? Mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan ini semua?
Ah... aku sudah tau jawabannya.. Dan itu yang membuatku kerap menangis haru setiap kali mengingatnya, bukan?

Dulu aku sering bertanya kepada-Mu, "Apakah Kau merasakanku?"
Betapa sombongnya dan egoisnya aku yang memaksakan agar akulah yang harus dipahami oleh-Nya.

Sekarang aku bertanya kepada-Mu dengan segenap kerendahan hatiku, "Apakah aku merasakan-Mu?"

Hanya dengan mencicipi rasa-Mu, berubahlah semua hidupku. 
Sesungguhnya bukan berubah, namun terbukalah atau terbangunlah jati diri sejatiku yang salama ini tidur. Telah terbuka satu pintu hatiku yang pertama. Inilah ruang Kalbuku, di sinilah kudapatkan kecupan pertama dari-Mu. Selanjutnya hanya ada Kerinduan.

Sejak itu kita semakin dekat. Aku lebih sering mendengarkan-Mu dan merasakan yang Kau rasakan.
Kita bagai sobat akrab, kita bercanda dan saling menggoda... Betapa bahagianya.

Pertanyaan - mengapa kita diciptakan - sudah kutemukan jawabannya. Sekarang aku paham. Betapa dekatnya Kau di sini selalu bersamaku. Aku memandang dunia melalui pandanganMu. Aku merasakan alam atas bimbinganMu.

Dualitas-Mu tampak semakin jelas hadir bersama-sama tanpa aku mampu menolak salah satunya. Aku bertanya padamu, "Mengapa Kau hadirkan terang dan gelap secara bersamaan kepadaku?"

"Sesungguhnya, Aku adalah Cahaya di atas Cahaya."


Ya Tuhan... maafkan aku yang terlalu bodoh untuk memahaminya. Keberadaan-Mu tentu adalah di atas dualitas-Mu. Pertemuan kita melampaui indera fisikku. KehadiranMu adalah mutlak. Akulah yang harus memahami-Mu, bukan sebaliknya.
Kini aku mengarungi samudera Kemanunggalan-Mu.

Tenggelamlah aku di dalam samudera cinta tanpa dasar, tanpa batas. Kau memberikan damai, tentram, tenang, hening kepadaku, dalam makna tunggalnya. Damai yang bukan lawan dari konflik. Tentram yang bukan lawan dari kacau. Tenang yang bukan lawan dari Berisik, dan hening yang bukan lawan dari hiruk-pikuk. Namun semua itu dalam makna tunggal.

Kau telah menyibak lagi ruang hatiku yang lain. Kutemukan Kau di sini.
Kau hanya bisa kutemui dalam kemanunggalanMu.
Dan keunikanku adalah di luar penilaian manusia lain tehadapku. Unikku adalah karena-Mu. 
Mengingkari keunikanku berarti menyalahi-Mu.


Kau dan aku semakin tenggelam dalam lautan cinta. Hari-hariku kulalui dengan menerokah luasnya samudera kemanunggalanMu. Semakin luas kurasakan-Mu, semakin luas pula lapang hatiku yang kurasakan ini. Semakin kusadari pula betapa berlimpahnya DiriMu. Dan mendapati diriku yang sedang tenggelam di dalam lautan keberlimpahan-Mu ini adalah anugerah terbesar yang tak terlukiskan. Aku bergelimang rasa-Mu.

Kau menggodaku dengan mesranya. Dan kita berbincang-bincang di taman bunga itu, bercanda dan tertawa lepas tak henti-hentinya. Betapa bahagianya kita.
Sempat aku berpaling sejenak, Kau cemburu. 

Tiada seorang manusia pun yang mampu memahami kita. Jika aku menceritakan hal ini kepada oang lain, sudah pasti aku akan dianggap gila. Karena manusia sudah terlalu materialistis dalam memandang dunia ini. Alam ciptaan-Mu yang sangat sempurna ini hanya bisa dihargai dengan kondisi seutuhnya tanpa persepsi ego manusia saja. 

Bagi mereka, Tuhan itu jauh dan tak mungkin dijangkau. Setiap hari mereka semakin menjauhkan-Mu dari mereka sendiri. Mereka berharap mendekatkan diri mereka pada-Mu sambil secara bersamaan menjauhkan-Mu. Aku sungguh tidak mengerti mereka.

Hei! tunggu... bukankah dulu aku seperti itu juga?! Kutengok kembali ke belakang.... ah... betapa bodohnya aku dulu!
Tuhan itu ternyata sangat dekat dan bahkan Dia-lah yang paling dekat!
Kita semua berada di dalam Tuhan. Tiada jarak antara manusia dan Tuhan.

Hubunganku dengan-Mu sangat intim. Yah.. biarlah... aku hanya mampu mengamati mereka. Tiada yang lebih penting selain hubunganku dengan-Mu. Dan tak kan lagi kubiarkan Kau cemburu padaku karena mereka.





Semakin aku terhanyut di dalam lautan Cinta Kasih-Mu dan semakin dekatnya kita, semakin kusadari pula bahwa aku tidak perlu lagi hidup sendiri di dunia ini. Mulai saat itu aku serahkan hidupku kepada-Mu. Biarlah Kau yang menjalankanku.

Tuhanku, kurasakan kebangkitan-Mu. Kau-lah yang selama ini kunantikan kehadiran-Mu di hadapanku. Kau yang selama in mengamatiku, kini bangkit secara nyata. Kau yang tadinya mengikutiku, sekarang akulah yang mengikuti-Mu.

Aku yang dulu sudah terdiam, hening, punah, mati.
Kau yang dulu hanya dapat kutemui di relung hati terdalamku, bangkit, hidup, dan aktif.
Aku merasakan mati sebelum mati. Karena aku mati dan Kau hidup.

Tak cukup lagi aku mabuk dalam agungnya cintamu, kau masih mengejutkanku dengan kebangkitan-Mu yang disambut segenap makhluk dari segala penjuru kehidupan di alam semesta. Langit menyibak terbelah saat kemunculan-Mu, pepohonan tertunduk menyembah-Mu. Angin pun berhenti bertiup takjub menyambut-Mu.

Peristiwa itu adalah peristiwa yang sungguh megahnya, namun heningnya hingga membiusku dan membius seluruh alam. Cahaya di atas cahaya yang turun ke bumi menyinari bak hujan sinar perak bercahaya. 

Kemudian tubuhku bergidik... Tak kuasa menahan dentuman hebat nan menggetarkan jiwa ini. Seperti... seperti... sekelebat ingatan datang di kepalaku... sewaktu aku kecil, aku pernah berdiri di dekat sebuah Gong besar yang dipukul. Suaranya nyaring panjang dan getarannya membuat tubuhku ikut bergetar.... kira-kira seperti itulah.

Kau sudah hadir.

Aku bersujud kepada-Mu, berserta seluruh makhluk di alam yang besujud kepadaMu.
Jadilah aku alat bagi-Mu untuk berjalan di muka bumi ini.
Jadilah aku pelita bagi cahaya-Mu yang menyinari seluruh alam.

Kini aku hanya melihat apa yang Kau lihat.
Kini aku hanya mendengar apa yang Kau dengar.
Kini aku hanya berjalan kemana Kau membawaku.
Kini aku hanya berbicara apa yang Kau ucapkan.
Yang Kau inginkan adalah keinginanku.
Kehendak-Mu adalah kehendakku.

Hidupku dan matiku sepenuhnya sudah kuserahkan kepada-Mu, wahai Kekasih Agungku.

Tidaklah akan kupertanyakan lagi apakah Kau menyetujuiku, melainkan apakah aku sudah memahami-Mu, sehingga keputusan-Mu adalah juga keputusanku. Dan keputusanku adalah pula keputusan-Mu.

Kau adalah nafasku. Setiap tarikan dan hembusan nafasku adalah Kau yang berdetak bersamaku. Dari kulit hingga ke tulang, dari ujung rambut sampai ujung jemari kaki, serta seluruh sel-sel di tubuhku, setuju akan keputusan-Mu. 

Doaku adalah kehedak-Mu.






Jadilah doamu adalah kehendakNya.
Jangan pernah memaksakan agar Tuhan setuju denganmu, melainkan apakah kau memahami-Nya dan setuju dengan-Nya.
Dipaksakan bagaimanapun sesuatu yang tidak sesuai denganmu / dengan-Nya, sesuatu itu tidak akan terjadi untukmu.

Kelapangan hati adalah jalan menuju Tuhan.
Syukur adalah cara mendekatkan dirimu kepada-Nya dan perlahan memahami-Nya.
Karena untuk setuju dengan-Nya, kau harus memahami-Nya terlebih dahulu.

Rasakan keberlimpahan-Nya yang mengalir dan membungkus sekujur tubuhmu.
Tiada lagi kau rasakan kekurangan. Semuanya sudah tercukupkan.
Bersyukulah atas hidupmu dan kisah hidupmu. Jatuh-bangunmu, dapat dan kehilanganmu.
Semua itu karunia dari Tuhan untukmu.

Ia membelaimu dengan lara dan bahagia.
ia menegurmu dengan sakit dan senang.
Ia hadir dalam dualitas-Nya. Dan kau hanya perlu menyadari-Nya di balik itu.

Kemudian hidup terasa mudah bagimu. Yang sesuai untukmu adalah yang datang kepadamu. Berkelimpahan rasa tentram, damai, dan bahagia adalah tujuan manusia hidup di dunia. Dan rasa ini sudah terjadi sekarang. Tanpa syarat apa pun dari ego-mu. Hanya ada kau dan Tuhan, Sang Kekasih Agungmu.

Jika sudah begitu, maka hidup adalah sebuah perayaan besar.
Tak tampakkah olehmu perayaan besar itu? Bahkan sekarang ini pun kau sudah sedang berada di dalam sebuah perayaan megah untuk merayakan hidup dan rasa syukurmu atas semua karunia yang diberikan oleh Tuhan kepadamu.

Pejamkan matamu. Hirup dan hembuskan nafasmu dengan penuh rasa syukur yang tulus.
Rasakan keberlimpahan Tuhan yang tak berhingga ini.
Keberlimpahan itu sudah ada, menunggumu untuk memahaminya dan menerokahnya.

Bersih sudah jalan di belakangmu. Tiada lagi yang menghambat langkahmu.
Bersih sudah dirimu dari persepsi manusia lain, karena kau adalah manusia unik yang tiada duanya di dunia ini - diciptakan khusus oleh Tuhan.
Sadarkah kau betapa istimewanya dirimu?

Sekarang arahkan pandanganmu yang penuh syukur itu ke samudera kemungkinan yang penuh berkelimpahan kebahagiaan tak berbatas, di hadapanmu.

Seberapa besar ukuran jiwamu menentukan seberapa besar kau menerima keberlimpahan karunia-Nya. Pahami itu! Pahami Dia! 
Janganlah kau biarkan kemampuan otakmu yang terbatas itu yang berpersepsi, tetapi biarkanlah Tuhan yang berpersepsi untukmu.

Hadirkan Dia di sini agar Ia yang menjalankanmu. Agar ia hidup melaluimu. 
Kau tidak sendirian! Perayaan hidup ini untuk kalian berdua, kau dan Sang Kekasih Agungmu!

Bersama-Nya peganglah tabuh itu, lalu pukul kuatlah Gong Keagunganmu dan Tuhan.
Tanpa ragu, bebas, merdeka, penuh syukur dan sepenuh tenaga, bunyikan dengan sekuat-kuatnya Gong itu!

Suaranya nyaring membahana, merebak ke segala arah, dan menggetarkan seluruh alam.
Mereka menoleh kearahmu dan mulai berjalan mendekatimu, mereka ingin tahu siapa yang telah mengusik mereka.

Kau tabuh Gong itu lagi!

Mereka melihat perayaan besarmu. 
Mereka sekarang menantikan undanganmu.


Kau tabuh Gong itu lagi!

Mereka kini menantikan beritamu.



Gong!

~ Erianto Rachman ~


5 komentar:

mindsketch mengatakan...

Akhir rasa setelah membaca gong ini seperti luapan rasa, tubuh, pikiran saat mencapai orgasm. Bergetar dan berteriak semua sel tubuh merayakan sebuah perayaan

Erianto Rachman mengatakan...

@mindsketch
Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Namaste (Aku bersujud pada Tuhan di dalam dirimu).

Unknown mengatakan...

sungguh haru yang aku rasakan, ini tulisan terbaik yang pernah ku baca.

Erianto Rachman mengatakan...

Terima Kasih. Namaste.

dwajikak mengatakan...

"betapa sombong dan egoisnya aku, yang selama ini bersikeras agar Dia mau mendengarkanku"
"kekasih agung, ijinkan aku belajar mendengarkanMu, memahamiMU"

Terimakasih mas Erianto, telah mengingatkan.
Namaste