Senin, 21 Oktober 2019

A Sufi's Diaries: Book 23




Kumpulan artikel singkat, kisah dan petikan seorang kelana, jilid ke-23.





Diary 169:
RIYA



Jika mendengar kata "Riya", apa yang ada dalam benakmu? Sombong? membanggakan diri? mengharapkan pujian?

Ya, anda benar. Akan tetapi mengetahui sangat bebeda dengan mamahaminya.
Kebanyakan orang mengetahui definisi riya, tetapi hanya sedikit yang memahaminya. TIDAK PAHAM di sini adalah setelah diketahuinya, tidak dilakukannya. Banyak orang yang mengetahui riya justru melakukannya. Disadari maupun tidak.

Banyak mereka yang belajar ilmu KEPAHAMAN dari saya, langsung terdorong untuk bercerita bahkan mengajarkannya kepada orang terdekat. Banyak pula yang belajar ilmu Ketuhanan yang sangat mendalam, seperti apa yang ajarkan, termasuk tasawuf dan marifat, terdorong untuk segera menceritakan serta mengajarkannya kepada orang lain.

Inilah Riya dalam wujud nyata. Mereka merasa lebih tau lalu ingin mendapatkan pujian dari orang lain atas pengetahuannya itu.

Mereka yang mendapatkan pencerahan, hidayah sepulang dari masa belajarnya atau pulang dari perjalanan spiritualnya di negeri suci, merasa dirinya lebih tinggi derajatnya kemudian mulai berlaku berbeda - mengikuti budaya (bahasa dan pakaian) dari tempat yang baru saja dikunjunginya. Inilah Riya.

Mengutamakan penampilan hanya agar orang tau bahwa ia tekun beribadah. Inilah Riya.

Selalu memberitahu orang lain bahwa dirinya akan, sedang, baru saja melakukan ibadahnya, agar orang tau bahwa dirinya rajin beribadah. Inilah Riya.

Seorang yang memilih bergaul hanya dengan orang-orang tertentu sehingga orang lain memandangnya sebagai golongan orang-orang istimewa. Inilah Riya.

Seorang yang mudah terkesima dengan semua kemuliaan suatu pengajaran kemudian menyanjung-nyanjungnya. Ini juga Riya.

Ada banyak contoh Riya, dan yang paling sering saya temui adalah; seorang yang senantiasa, selalu menegur orang lain untuk berbuat sesuai ajaran / pengetahuan yang dianut / diyakininya. Ia merasa lebih baik - ia merasa orang lain kurang baik ibadahnya sehingga ia merasa terdorong untuk selalu menegur orang lain itu.

Yang terakhir di atas itu adalah Riya berkedok Dakwah. Mengajak ke kebaikan yang tidak dikehendaki oleh orang yang diajaknya, adalah Riya.

Tidak menghargai perbedaan, adalah Riya.

Tidak menerima orang terdekatnya berbeda keyakinan, adalah Riya. Dan selalu mengungkit-ungkit maksud tersebut, adalah Riya.

Ibadahmu adalah urusanmu dengan Tuhan. Ibadahmu adalah untuk Tuhanmu, bukan untuk orang lain.
Ibadahmu yang sengaja kau tunjukkan kepada orang lain demi mendapat penghargaan dari mereka, adalah Riya.

Jadi, kapan (apa batasannya) sesuatu pesan digolongkan ke dakwah, dan kapan digolongkan ke Riya? Yaitu pesan yang baik, pesan yang sejuk di hati yang mendengar / membacanya, tanpa mengharapkan apa pun. Tanpa paksaan, tanpa ancaman, tanpa iming-iming hadiah. Pesan ini datang dari hati. Pesan RASA. Bukan pesan yang bersifat doktrin. Jika kau pernah merasakan pencerahan, sampaikan saja rasanya. Tidak perlu menyimpulkannya apalagi mengaitkannya ke bait tertentu dari kitab.

Jika kau makan buah yang sangat lezat, ceritakan saja rasanya tanpa memberitahu nama buahnya.

Dan hanya menjawab bila ditanya.
Karena menjawab tanpa pertanyaan adalah Riya.

Pancarkan kebaikan hatimu dengan kebersahajaan sikapmu dengan tulus, apa adanya, dimanapun, kapanpun, BUKAN karena harus, tetapi karena memang begitulah alamiahnya dirimu.







Diary 170:
How Do You Talk To God?
Bagaimana Kau berbicara Dengan Tuhan?


PERTAMA:

Tuhan tidak mengenal uang. Hanya manusia yang mengenal uang. Karena uang ciptaan manusia.
Tuhan tidak mengenal jabatan. Hanya manusia yang mengenal jabatan. Karena jabatan ciptaan manusia.

Dengan demikian maka;
  • Tuhan tidak memandang derajat kemuliaan dan atau tingkat kesadaranmu dari jumlah harta yang kau miliki atau posisi jabatan/kehormatanmu dalam masyarakat yang kau capai.
  • Doamu yang meminta rizki berupa uang atau harta dan jabatan pada Tuhan itu tidak relevan sama sekali.

KEDUA:

Tuhan bebicara dalam bahasa-Nya. Bukan berarti Dia tidak mengerti apa yang yang kau ucapkan, tetapi 'beda'.

Bagaimana cara semut berbicara kepada manusia? Seandainya semut mampu berbicara bahasa manusia, pasti sudah banyak manusia yang sekarang sedang sibuk ngobrol dengan segerombolan semut. Dan kita pun hidup harmonis dengan semut-semut.

Tuhan adalah Kebenaran hakiki yang berlaku di mana saja di alam ini. Baik di bumi, di bulan, di galaksi andromeda, hingga ke seluruh pelosok alam semesta yang jaraknya jutaan tahun cahaya dari tempatmu berada. Jika Tuhanmu hanya berlaku di planet bumi ini saja, maka Tuhanmu itu bukan Tuhan yang hakiki.

Tuhan menggunakan bahasa tingkat kesadaran tinggi yang bersifat universal, dan menjangkau segenap alam semesta. Bahasa Tuhan adalah bahasa kebenaran hakiki yang belaku di mana saja di alam ini. Bahasa itu adalah bahasa RASA.

RASA adalah bahasa alamiah tingkat kesadaran tertinggi yang sejajar dengan Tuhan itu sendiri. Jika dirimu memahami ini, maka kau bisa bercakap-cakap dengan Tuhan. Kau bagaikan semut yang bisa berbahasa manusia.


KETIGA:

Maka, beginilah caramu berbicara dengan Tuhan:

Pejamkan matamu, lalu tersenyumlah dengan lepas.
Rasakan hembusan angin yang menyentuh kulitmu bagai belaian mesra kekasih yang sangat kau rindui. Rasakan kerinduan itu mengalir ke seluruh kulit.

Lalu tersenyumlah atas semua bunyi alam yang terdengar di telingamu. Desiran ombak, tiupan angin, tetes hujan, kicau burung, gemerisik dedaunan, sampai teriakan atau celoteh anak kecil di seberang jalan. Betapa indahnya duniamu.

Tersenyumlah lebih lepas lagi.
Tariklah nafas dalam-dalam, rasakan nikmatnya aliran udara masuk ke dalam badan dan memenuhi paru-parumu. Lalu hembuskan sambil tetap tersenyum... rasakan rasa bahagia, tenang, damai, mengalir ke seluruh tubuh bersama hembusan nafasmu. Syukuri kenikmatan ini. Sungguh kenikmatan yang tiada duanya di dunia.

Lalu bayangkan orang-orang yang kau kenal. Tersenyumlah satu per satu pada mereka. Mereka pun tersenyum kembali padamu.

Mereka berterima kasih padamu yang telah membantu mereka, mengangkat derajat penghidupan mereka, derajat sosial mereka, membantu menyelesaikan masalah mereka, sehingga tiada lagi beban dalam hidup mereka berkat bantuanmu, kaulah sang Dermawan dan berhati mulia.

Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanmu.
Keindahan alam adalah keindahan hatimu.
Senyummu tulus selayak senyuman seluruh alam ini kepadamu.
Tiada yang milikmu. Semua kau gunakan untuk membantu mereka, baik itu manusia dan semua penghuni alam ini.

Gambaran dirimu yang berjalan berdampingan bersama mereka dengan penuh senyum serta tawa bahagia dari mereka adalah alasanmu hidup di dunia ini.

Kau ucapkan syukur kepada Tuhan atas kebahagiaan ini.

Tersenyumlah dengan lepas.
Terima Kasih, Tuhan.

Begitulah caramu berbincang dengan Tuhan.
Tidak ada cara lainnya.









Diary 171:
Amazement
Ketersimaan


Setelah cukup waktu saya mengamati, saya simpulkan; satu celah bagi manusia untuk melampaui kondisinya sekarang adalah dengan menaklukan Ketersiman atau kekaguman terhadap seuatu. Kekaguman ini didalangi oleh ego.

Melampaui kondisi apa? Kondisi apa yang dilampaui? Apa saja. Ini berlaku di semua aspek kehidupan masing-masing manusia. Termasuk peruntungan, rizki, sampai tingkat kesadaran manusia menuju kedekatan dengan Tuhan.

Jika seseorang mudah sangat terkesima atas sesuatu, maka cenderung ia mengakui bahwa ia tidak bisa menggapai kondisi yang membuatnya terkesima itu.

Jika apa yang kau terlalu kagumi adalah A, kekagumanmu terhadap kondisi A menaruh jarak antara dirimu dengan A. Tanpa disadari kau telah menjauhkan dirimu dari kondisi A.

Langsung saya beri contoh yang membumi ya; Bila kau terlalu kagum / terkesima dengan kekayaan yang diraih seseorang, maka kau mengakui bahwa dirimu tidak bisa mencapai kondisi seperti orang membuatmu terkesima itu.

Bila kau terkesima atau kagum dengan si B yang mencapai kesadaran, kearifan tinggi dalam spairitualnya, maka kau mengakui bahwa dirimu tidak akan bisa mencapai kondisi yang dicapai oleh si B.

Kekagumanmu hanya akan membuatmu berada selangkah atau beberapa langkah, atau bahkan jauh di belakang apa yang kau kagumi.

Lalu bagimana sikap yang terbaik agar ketersimaan / kekaguman tidak menjadikan belenggumu? Adalah dengan tidak mudah terkesima. Apa yang dicapai orang lain itu BIASA saja, dan bisa terjadi ke semua orang, termasuk dirimu pun bisa mencapainya. Rasakan kebahagiaannya. Ikut bersyukur.

Murnikan rasa kagum itu segera. Bawalah ke sikap menauladani. Namun janganlah pula sikap menauladani terhadap seseorang bergeser menjadi kekaguman kembali. Belajarlah dengan rasa lapang dan berlimpah.

Jangan pula menjadikan suatu kondisi sebagai patokan bahwa kau akan mencapainya secara spesifik. Pencapaian setiap manusia unik dan berbeda satu sama lain. Jangan jadikan eksternal sebagai batasanmu.

Bahasan di atas adalah contoh kekaguman terhadap hal yang positif. Bagaimana pula dengan hal yang negatif?

Misalkan suatu kondisi buruk Z terjadi. Kebetulan dirimu mendengarnya atau menyaksikannya langsung. Sebagian besar orang akan terkesima pada kejadian itu. Ketersimaan bermuatan energi atensi atasnya. Dan ini mendekatkanmu pada kondisi negatif itu.

Sikap yang terbaik adalah; sekedar tau saja, lalu murnikan. Jangan dicari-cari. Jangan ikut menyebar-luaskannya. Cukup sampai dirimu saja. Murnikan. Kasihani dan didoakan agar baik. Itu saja.

Jadi, tidak perlu terkesima berlebihan pada kondisi positif maupun negatif.
Semua itu BIASA saja.

Bagaimana kepada Tuhan?
Sama. Terkesima berlebihan terhadap Tuhan cenderung (dari pengamatan saya) justru menjauhkan seseorang dari Tuhan, membuatnya menjadi takut pada-Nya dan selamanya tidak akan memahamiNya.

Ketersimaanmu terhadap Tuhan sepatutnya justru menjadikanmu jatuh cinta padaNya dan merasakan ternyata betapa dekatnya dirimu denganNya.

Rasa kedekatanmu dengan Tuhan menjadikan Dia kekasihmu dan menjadikanmu kekasih-Nya. Sehingga yang terjadi kemudian adalah kau dan Tuhan dapat merasakan bergerak bersama-sama.







Diary 172:
Passion is Like Cooking
Passion itu Seperti Memasak


Banyak yang bertanya pada saya, "Apa sih PASSION itu?"
Passion adalah sesuatu yang merupakan jati dirimu sebenarnya dalam kiprahmu, kerjamu, karirmu, usahamu di dunia ini.

Pertanyaan selanjutnya, "Bagaimana menemukan passion saya?"
Passion itu ibarat masakan yang belum pernah kau lihat, temui, rasakan sebelumnya. Dan masakan itu belum dimasak menjadi makanan yang bisa dimakan. Kau hanya melihat bahan-bahan dasarnya (ingredient) saja terhampar di hadapanmu sepanjang hidupmu.

Cara menemukan passion-mu adalah mencoba memasak bahan-bahan itu menjadi masakan yang dapat kau makan. Resepnya kau sendiri yang membuatnya.

Awalnya mungkin tidak enak. Mungkin terlalu pahit, mungkin terlalu pedas, terlalu asin, terlalu asam, dll, dll... Jangankan orang lain, dirimu sendiri saja mengatakan tidak enak.
Jika hal itu adalah passion-mu, maka tanpa kau sadari hadirlah sebentuk gairah, rasa penasaran, tantangan untuk mencoba memasaknya kembali dan meramu resepmu sampai masakan itu lezat bagimu.

Pertanyaan selanjutnya, "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan passion saya?"
Hanya dirimu yang bisa menjawabnya.
Tapi saya akan menjawab, "Seumur hidupmu."

Yang banyak saya temui di mana-mana adalah seseorang menganggap remeh bahas-bahan masakan itu sejak kecil. Hobi dan kegemaran adalah bahan-bahan masakanmu.

Satu orang bisa punya banyak hobi. Jika hobi-hobi itu berdiri sendiri-sendiri, sering tak tampak mau jadi apa nantinya. Tapi bila hobi-hobi itu ditekuni dan saling berkaitan, menyambung, saling membangun, maka nanti akan tampak evolusinya ke arah mana.

Ditambah pula gairahmu untuk terus belajar menyempurnakan keahlianmu dalam setiap hobimu itu akan menambah kualitasnya. Semakin menjadikan baik apa yang akan dihasilkannya. Syaratnya hanya ini; tidak putus asa dan tidak melakukannya dengan setengah-setengah.

Keahlianmu akan membuka pula daya kreasimu, mempertajam keahlian daya kreatifitas memasakmu. Bahkan bahan yang tadinya kau jauhi karena pahit dan kurang enak baunya justru bisa kau gunkan sebagai penambah kekayaan cita rasa masakanmu.

Di suatu hari, kau akan memahami bahwa hampir SEMUA hal bisa kau olah sebagai makanan yang lezat. Kemungkinannya tak berhingga, tanpa batas. Dan kau kagum pada hasil karyamu. Dan jangan ditanya.... orang lain pun 1000 kali lebih kagum darimu atas karyamu itu.

Saya pernah mendengar seorang Chef memuji masakan dengan berkata, "Rasa masakanmu sangat kaya." atau bahkan ada yang berkomentar, "Rasa masakanmu seksi."

Jadi, apa passion-mu?
Jawablah sendiri.

So, what's cooking, doc?








Diary 173:
Manual Book

Buku Petunjuk Produk


Bayangkan ini;
Kau membeli barang. Mobil misalya. Tapi ternyata tidak bisa jalan. Mesinnya mati.

Kau membeli sebuah mecin cuci. Ternyata bukan membersihkan, pakaiannmu jadi sobek-sobek semua.

Kau membeli sebuah makanan hangat. Ternyata basi.

"Kok tidak sesuai buku petunjuknya sih?", Protesmu.
Lalu kau complain. Atau kau buang saja barang yang baru kau beli itu.

-----

Sekarang bayangkan lagi;
Kau lahir di dunia ini. Tentunya Tuhan menciptakanmu sesuai fitrah yang diberikanNya atasmu.

Kau lahir dan tumbuh, tapi ternyata kehidupanmu tidak sesuai desain / fitrahmu itu.
Kau merasa ada yang salah dengan hidupmu.

Kau mencari-cari buku petunjuk penciptaanmu.
"Dimana ya? Siapa sih aku ini? Harus melakukan apa sih sebenarnya aku ini???"

Buku itu tidak kau temukan.
Buku itu tertulis di hatimu yang dulunya masih bersih.
Tapi karena faktor hiruk-pikuk kehidupan lingkungan, budaya, eksternal, tulisan asli dari Sang Penciptamu itu sudah tertutupi.

Bersihkan hatimu dari polusi dunia. Bersihkan dari eksternal. Bersihkan dari kemelektan, besihkan dari persepsi. Bersihkan dari dualitas. Hati yang bersih adalah hati yang ikhlas, sebagaimana Tuhan dulu menciptakanmu.

Ia menuliskan rahasiaNya di hati bersihmu itu. Pesan / PetunjukNya unik bagi setiap manusia. Tidak ada satu pun yang sama. Rahasia itu khusus untukmu seorang.
Bacalah. Lalu berlakulah di hidup ini sesuai desaiNya atasmu.
Dan semuanya akan terjawab.

Di hatimu kau temukan jati dirimu yang sesungguhnya.
Di hatimu terdapat jawaban atas semua pertanyaanmu.

Bersihkan Hati.
Bacalah.







Diary 174:
BIAS

Air mengalir dari saluran kecil ke saluran besar, kemudian jatuh ke got. Yang tadinya dilihat sebagai air jernih sekarang sudah kotor. Bias.

Kemudian air kotor itu mengalir ke sungai. Dari sungai kecil ke sungai besar. Air kotor itu tercampur dengan air sungai. Kotornya sudah tak terlihat lagi. Bias.

Sungai itu pun tercemari limbah perumahan dan industri. Menjadi berbau busuk. Tidak jernih lagi. Bias.

Sungai-sungai besar berkumpul menjadi satu mengalir ke laut. Air sungai kotor dan bau bercampur dengan laut dan samudra luas. Sudah tak tampak atau tercium lagi kotor dan baunya. Bias.

Kemudian air laut terpapar matahari sampai sebagiannya menguap. Air yang benda cair itu berubah menjadi gas. Mana airnya? Sudah berubah. Bias.

Uap naik ke udara, semakin tinggi. Di atas uap air berkumpul menjadi awan putih bagai kapas. Mana uap tadi? Sudah berubah. Bias.

Awan berkumpul semakin banyak semakin besar semakin berat. Awan putih berubah menjadi gelap, hitam. Bias.

Awan gelap jatuh ke bumi sebagai hujan.
Gas itu berubah menjadi air. Bias.

Tidak ada yang pasti di alam ini. Keyakinan berubah seperti air mengalir. Perubahan terjadi seiring polusi dan kuantitasnya. Kemudian berubah wujud sesuai kondisinya.
Tidak ada yang pasti katamu.
Bias katamu.

Tidak, kataku.
Itulah bedanya kau dan aku.

Kau memandang segala sesuatu di permukaannya saja. Semua berubah di permukaan. Semua berbeda di permukaan. Semua berwarna di permukaan. Semua berubah mengikuti waktu dan tempat, di permukaan.

Tidak bagiku. Aku bisa melihat yang di permukaan juga yang di kedalaman.
Di kedalaman terdapat esensi. Esensi bersifat kekal dan tidak berubah walau karena tempat dan waktu. Inilah kebenaran hakiki.

Kebenaran hakiki tidak akan pernah bias.

Bagiku, aku melihat air dalam wujud apa adanya. Dalam wujud esensinya. Air itu tetap adanya. Sama dimana pun ia berada. Tidak ada yang berubah. Jika kau mau memahami esensinya.

Kebenaran hakiki tidak bias.







Diary 175:
Secret
Rahasia


Mungkin kau mulai atau sudah merasakannya; semakin kau masuk ke dalam pengetahuan universal, spiritual terdalam dan terluas, semakin sulit melukiskannya.

Sebaik-baiknya yang mampu kau sampaikan hanyalah puisi-puisi indah, penuh pesan misterius yang tersembunyi di setiap baris syairmu itu. Getaranmu mereka rasakan.

Suatu hari kau memaksakan untuk menyampaikannya. Tanggapan mereka yang membaca atau mendengarkannya lain dari yang kau harapkan. Pesan jujur dianggap dusta atau hanya khayalanmu saja.

Yang jujur dan apa adanya sulit disampaikan apalagi dicerna oleh orang lain. Bukan hanya oleh umum, akan tetapi kadang juga oleh mereka yang juga menempuh perjalanan spiritual seperti dirimu.

Mengapa begitu?
Kau sudah menguak apa yang tertulis di dalam hatimu. Di dalamnya hanya ada pesan untukmu seorang. Itulah pesan rahasia dari Tuhan khusus untukmu. Yang memahaminya adalah dirimu dan Tuhan saja. Itulah pesan paling personal, pesan intim dari Dia untukmu.

Lalu mengapa harus kau sampaikan ke orang lain?
Tidak perlu, kan?

Ada pesan-pesan yang memang hanya berlaku untukmu, bukan untuk orang lain.
Itulah Rahasia Tuhan dan Rahasiamu.

Tuhan tidak perlu melakukan penjagaan rahasianya dari dirimu yang mungkin akan membocorkannya. Pesan itu menjaga rahasianya sendiri dengan tidak mampunya orang lain selain dirimu memahaminya.

Tidakkah kau kemudian bertanya-tanya untuk apa Tuhan memberikan rahasia itu padamu.
Belum sadarkah dirimu bahwa seistimewa itulah dirimu bagiNya?
Belum sadarkah dirimu bahwa kau adalah manusia yang samgat istimewa di hadapanNya?

Di dalam pesan rahasia itu terdapat siapa diri sejatimu. Itulah desainNya atasmu. Resapi, pahami dan terimalah dengan segenap wujud keberadaanmu. Lalu jalani hidupmu sesuai desain agung itu:

Desain Agung?
Ya, tentu saja. Jika kau bisa sangat mengagumi lukisan dari seorang pelukis terkenal, tentu kau bisa pula mengagumi karya Agung Tuhan ini; yitu dirimu.

Kau adalah Sang Agung.
Kau membawa pesanNya yang Agung itu.
Kau adalah Sang Penyampai Pesan.







Diary 176:
Fruitless
Sia-Sia


Saya meyakini adanya Tuhan. Satu Tuhan. Keyakinan saya itu sudah saya uji dan tervalidasi berkali-kali. Namun memang tidak mudah. Diawali rasa ingin tahu; ada apa dibalik alam ini, adakah yang mengawalinya? Adakah yang menciptakannya? Itukah yang disebut Tuhan? Bila ya, maka untuk apa Dia melakukannya (menciptakan ini semua)?

Ataukah Tuhan itu tidak ada dan kita semua hanya ada karena kebetulan saja?

20 tahun saya menempuh perjalanan - yah semacam petualangan lah, karena meliputi - pembelajaran (baca buku, wawancara, berguru, dll) dan spiritual, serta meditasi intens untuk memperoleh sedikit saja petunjuk yang dapat memuaskan rasa ingin tahu saya itu.

Ternyata untuk mengecap setitik pengetahuan itu saya harus mengubah segala yang pernah saya pelajari, dengar, baca. Belum lagi hempasan hidup dunia yang membuat saya merasa putus asa. Mengapa sebentuk pengetahuan datang dalam wujud yang berpengaruh secara nyata?

Perlahan, entah bagaimana, saya seperti dipandu ke sebentuk kebenaran yang hakiki. Kebenaan itu sangat sederhana. Terlalu sederhana sampai luput dari pandangan saya sampai semua tirai yang menghalanginya dapat disibak sepenuhnya. Petualangan panjang yang saya lalui sebenarnya hanya untuk menyibak tirai tersebut.

Perlahan pula segala sesuatu yang tadinya tampak biasa saja menjadi lebih bermakna. Ada pesan di setiap kejadian. Semua itu seolah berbicara dan menyampaikan pesan-pesannya pada saya. Saya mulai terbiasa mendengarkan mereka. Saya mulai menguji kebenaran mereka, yang ternyata mereka selalu jujur, tulus, dan benar. Saya pun mulai mempercayai mereka dan selalu mengandalkannya.

Sampai di suatu ketika, mereka berhenti berbicara. Keheningan mencekam tiba-tiba menyelimuti. Saya pun terdiam. Ternyata mereka menyambut kemunculan satu suara yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Dan sejak itu segalanya menjadi lengkap. Segalanya berubah. Ini adalah tingkatan eksistensi yang lain. Bagai ulat yang menjadi kupu-kupu. Metamorfosis sempurna. Tak terlukiskan. Mulut ini tak mampu lagi berucap. Semuanya ringan, lapang, luas, tanpa rasa resah maupun takut.

Saya paham. Lengkap sudah.
Segalanya sudah jelas terlihat. Semua pertanyaan saya sudah terjawab.

-----

Di lain waktu, saya berjumpa dengan orang-orang yang mengaku diri mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.

Saya tidak perlu terlibat dalam pecakapan apa pun dengan mereka. Mengapa?Karena percakapan itu tidak akan menghasilkan apa-apa bagi mereka.

Fruitless.

-----

Di kesempatan lainnya, saya dihadapkan dengan mereka yang sangat menjunjung kuat dan ketat setiap aturan dalam agama mereka. Mereka berkata bahwa agama mereka saja yang benar, sedangkan agama lainnya salah.

Saya tidak perlu terlibat dalam percakapan apa pun dengan mereka. Mengapa? Karena percakapan itu tidak akan menghasilkan apa-apa bagi mereka.

Fruitless.

-----

Bagai kupu-kupu yang terbang dan hanya hinggap ke bunga-bunga yang ber-nectar. Bunga itu akan berubah dan tumbuh menjadi buah. Buah itu akan membawa manfaat bagi alam.

Kupu-kupu tidak hinggap di atas bunga kering, kan?







Diary 177:
Shallow Waters
Perairan Dangkal


Pelajaran spiritual tidak mengenal penggolongan, tingkatan, dll. Hanya manusia yang menggolong-golongkan pengetahuan. Hanya manusia yang membuat tingkat-tingkatan.

Otak manusia atau logika manusia sudah sangat terbiasa dengan penggolongan dan peningkatan. Untuk ilmu lain selain spiritual itu berlaku. Tetapi ternyata tidak untuk spiritualitas. Dan menurut saya ini pulalah yang menyebabkan banyak orang menemukan kebuntuan dalam menempuh perjalanan spiritual mereka.

Banyak yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti:
  • Setelah begini apa yang saya dapatkan? atau;
  • Kapan saya bisa mampu seperti itu? atau;
  • Sampai tingkatan berapa seluruh pelajaan ini? atau;
  • Mengapa apa yang saya alami berbeda dengan dia padahal kami masuk di kelas ini bersama-sama?
Spiritual adalah kedekatanmu dengan seluruh alam ini. Dan itu equivalen dengan kedekatanmu dengan Tuhan. Pengetahuan Tuhan datang kepada individu, bukan kelompok. Pencapaian terjadi secara individual.

Setiap manusia unik. Sehingga pencapaian spiritualmu adalah untukmu seorang. Tidaklah perlu membandingkan atau mengecek kepada orang lain.

Dan tidak ada aturan yang menyatakan bahwa seorang pelajar pasti akan memiliki kemampuan lebih - atau semacam kesaktian. Setiap manusia memiliki pengalamannya masing-masing yang tidak sama dengan manusia lainnya. Dan hal itu bukan ukuran ilmu spiritualmu.

Ilmu spiritual hanya dipandang dari kepahamanmu mengenai Tuhan. Seberapa jauh kau memahami dan merasakan Tuhan? Itu saja.

Dan setelah kau merasakannya setitik saja, kau akan sadar bahwa tiada lagi yang lebih penting selain hubunganmu dengan Tuhan.

Saya ingin menambahkan dalam bentuk analogi.

Pembelajaran spiritual bagai membuat kapal dan mengarungi sungai. Sungai adalah tempatmu mengarungi hidup spiritualitasmu. Sungaimu dimulai dari hulu, di perairan yang dangkal.

Kemampuanmu dalam membuat kapal dimulai dari rakit sederhana yang ringkih mudah rusak dan hanya mampu digunakan mengarungi perairan dangkal itu.

Di perairan dangkal itulah banyak kau temukan pandangan orang terhadap ilmu spiritual dalam pengelompokan-pengelompokannya, penggolongan dan tingkat-tingkatan. Bila kau membangun kapal yang lebih besar lagi, maka sudah tentu kapalmu akan cepat kandas.

Kau harus pindah ke arah hilir dimana sungai semakin dalam dan kau dapat membangun kapal yang lebih besar dan kuat. Semakin ke hilir, sungai semakin dalam dan kapalmu semakin besar dan kokoh.

Ada dua sudut pandang di analogi ini:

Pertama:
Perjalanan spiritual adalah mengarungi sungai illahi. Semakin ke hilir, airnya semakin dalam dan arusnya semakin deras, maka kau perlu membuat kapal yang lebih besar dan kuat.

Kedua:
Perjalanan spiritual adalah membangun kapal yang besar dan kokoh di sungai. Semakin besar kapal yang kau bangun maka kau butuh sungai yang semakin luas dan dalam.

Yang mana sudut pandang yang benar? Keduanya benar. Keduanya terjadi bersamaan. Kau di sungai dan kau sedang membangun kapal. Tidak ada yang harus datang lebih dulu dan datang kemudian.

Cara berpikir logis kebanyakan orang adalah selalu menghendaki yang satu dilakukan lebih dulu sebelum lainnya. Selama mereka terpaku dengan cara pikir yang begitu, mereka tidak akan pernah bergerak. Tidak bergerak di dalam sungai, maupun pembangunan kapal mereka. Mereka menunda-nunda dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas.

Terjebak di perairan dangkal itu untuk selamanya sampai mereka memberanikan diri untuk memulainya tanpa banyak cing-cong!








~ Collection of other Articles, Stories & Quotes ~




Gagal bukanlah usaha yang tidak kunjung mendatangkan hasil.
Gagal adalah usaha yang kau putus.




SINCERITY
You don’t ask for anything. 
You don’t expect anything. 
Yet You shine and colour the world so we can live and admire Your beauty.





Apa pun masalahmu, membenahinya hanya dengan satu cara:
benahi KEPAHAMANmu!
And be brave!




Tuhan sudah menyiapkan jatah untuk setiap manusia.
Tetapi mengapa kau tolak itu dan malah menuntut jatah orang lain?




Spiritual itu seperti gasing.
Masuk ke poros atau terlempar.




Kau selalu berkata bahwa Rizki itu ditentukan Tuhan.
Tetapi yang kulihat, kau selalu memiskinkan dirimu sendiri dengan berkata, “Aku tidak mungkin bisa….”




Saya tidak suka mengajarkan aturan, urutan dan doa.
Saya hanya mengajarkan pengetahuan Tuhan yang esensial, sehingga kau mampu membuat aturan, urutan, dan doamu sendiri.





1 + 1 = 2.
Ini contoh sederhana sebuah kebenaan hakiki. Dimanapun kau berada di alam semesta ini, kebenaran hakiki itu sama tidak penah berubah sampai kapan pun. Ini kebenaran almiah. Akan tetapi yang saya temui sehari-hari di sekeliling saya, banyak yang sudah terdoktrin sejak kecil bahwa 1 + 1 = 3.

Mereka bertanya kemana-mana, "Bagaimana menjadikan 1 + 1 = 3?
Jelas sekali bahwa siapa pun yang paham akan mengatakan bahwa 1 + 1 = 2. Tidak bisa dirubah menjadi 3.

Pertanyaannya itu menjadi tidak relevan. Pertanyaan yang salah tidak akan ada jawabannya. Para penjawab itu tidak meminta apa pun darimu. Karena 1 + 1 = 2 adalah alamiah. Kebenaran itu milik Tuhan dan gratis. Paham?

Akan tetapi saya bisa membantumu. Saya bisa membuatmu melihat dan mendapatkan hasil 1 + 1 = 3. Kebenaran ini bukan milik Tuhan. Kebenaran itu hanya akan jadi milikmu setelah saya menjualnya padamu.

Maka saya akan menarik bayaran darimu. Tapi maaf, bayaran yang saya minta darimu tidak akan sanggup kamu bayarkan.

Tetap mau bayar mahal?
Atau mau coba melek mata dan melek hati untuk menerima kebenaran Tuhan?

Atau bisa saya ganti kalimatnya menjadi begini:
Mau tetap jadi orang kaya raya yang bodoh?
Atau jadi orang sederhana yang PAHAM?





~ Erianto Rachman ~
 

Tidak ada komentar: