Minggu, 25 Agustus 2019

A Sufi's Diaries: Book 22




Kumpulan artikel singkat, kisah dan petikan seorang kelana, jilid ke-22.





Diary 162:
Helpful Grateful

Ringan Tangan adalah Syukur


Setelah masa kejatuhan terparah saya di tahun 2004, ego saya hancur berkeping-keping. Ini peristiwa taubah saya yang paling menyakitkan.


Saya melamar pekerjaan dan menerima apa saja. Setelah diterima pun saya tidak terlalu perduli dengan job desc saya. Saya mengerjakan apa yang harus saya kerjakan dan bahkan lebih dari itu.

Kalau ada waktu ekstra saya menggunakannya untuk berbicara dengan karyawan lain atau pada atasan saya mengenai apa saja yang bisa saya kerjakan untuk mereka, di luar job desc saya.

Di waktu makan siang, saya makan bersama karyawan lain di kantin atau di warung. Setiap hari sepanjang tahun yang saya dengar hanyalah keluhan dari mereka. Mulai dari bos galak lah, banyak kerjaan lah, gaji kurang lah, lemburan belum dibayar lah... dll.

Telinga saya lama-lama sakit.

Mereka tidak tahu bahwa saya saat itu bekerja utk bos yang terkenal paling galak dan paling tidak friendly di perusahaan itu, saya bersyukur ada gaji setelah 8 bulan menganggur mau makan saja susah, saya mengerjakan pekerjaan yang sebagian bukan job desc saya, lembur hampir setiap hari tanpa saya pikir bahwa ternyata ada upah lemburnya.

Saya menikmati semuanya tanpa mengeluh, giiat, all-out, tidak ada yang hanya sementara. Semua saya kerjakan maksimal. Oh bytheway, jarak kantor dari rumah 4-5 jam pulang pergi. Jauh ya?...

Setahun kemudian saya ditawari pekerjaan lain oleh seorang yang menjadi partner perusahan tempat saya bekerja saat itu. Perusahaan dari Finland. Di hari itu saya resign karena tawaran ini tidak mungkin saya tolak.

Di hari terakhir itu pula saya baru tau bahwa saya satu-satunya karyawan yang bisa bertahan bekerja dengan bos saya itu. Kami menjadi teman baik. Saya bersyukur dan berterima kasih padanya karena telah menampung saya dan menerima saya apa adanya.

Being Helpful is being Grateful.
Ringan tangan adalah tanda syukur.
Tidak pernah salah mengerjakan kebaikan.
Tidak pernah salah melakukan sesuatu dgn maksimal.

Tidak ada yang ‘sementara.’
Setiap moment adalah peluang untuk belajar dan memberdayakan diri.
Tidak ada satu moment pun yang sia-sia.

Saya merasa sebagai seekor kutu yang baru saja melompat dan rersangkut di dahan pohon. 10 tahun sejak saat itu saya sudah mencapai dahan tertinggi dengan buah manis berlimpah di sana-sini.

Apakah selesai sampai di situ?
Oh tidak... sekarang si kutu sedang melakukan lompatannya lagi, yang terjauh yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia masuk ke 10 tahun keduanya.

Mengapa saya tinggalkan buah-buahan yang berlimpah itu? Apakah saya tidak bersyukur? Kurang puas? Egois?

Oh tidak... saya sedang melakukan yang bisa saya lakukan di luar batasan yang tadinya saya kira ada. Saya sedang bersyukur. Saya sedang menikmati kebersamaan saya dengan Tuhan.







Diary 163: 
Dare Share
Berani Berbagi


Di tahun 2010, saya masih bekerja di perusahaan asing sebagai Project Manager, malam hari sekitar pukul 9, saya di jalan pulang dari kantor customer saya, saya barusan saja menyelesaikan suatu project yang sangat challenging. Rasa lega, bangga dan bahagia penuh syukur... Saya sempat terbersit dalam benak, "Suatu hari kalau saya ceritakan pengalaman saya ini... mungkin ada saja orang yang dapat mengambil manfaatnya."

Tapi kemudian saya merespon sendiri, "Ah... belum saatnya lah... masih banyak tokoh-tokoh yang jauh lebih hebat dari saya yang pengalamannya lebih baik dari saya yang saya pun masih perlu belajar dari mereka. Siapa saya kok berani sharing sesuatu yang seremeh ini."

Keluarga saya dari sisi ayah saya banyak yang penulis. ada 4 orang sepupu saya sudah menerbitkan buku-buku mereka. Ayah saya sendiri pun sudah menerbitkan bukunya. Saya diturunkan hobi meulis bari ayah saya yang sangat saya cintai itu. Saya lanjutkan saja hobi menulis saya di blog saya.

Saya menulis sejak menjelang akhir tahun kuliah, kira-kira tahun 1998. Dulu belum ada blog (atau saya belum kenal blog). Saya menulis di komputer lalu saya simpan sendiri. Sejak 2007 barulah saya tuang tulisan saya di blog yang masih ada sampai sekarang.

Dan kalian tau apa yang saya dapatkan dari share pengalaman saya? Apa pun yang kita berikan akan berbalik kembali ke diri kita dalam bentuk yang minimal sama ATAU berlipat ganda. itu saya rasakan sendiri. Itulah hukum alam. Hukum vibrasi energi. Hukum Tuhan.

Jika saya membagikan pengetahuan yang bermanfaat tanpa pamrih, saya pasti mendapatkan sesuatu yang luar biasa, banyaknya di luar dugaan dan dalam bentuk yang tak pernah sanggup saya imajinasikan sebelumnya.

Memberikan tidak pernah membuat kita kehilangan akan sesuatu yang kita berikan itu. Memberi adalah menerima. Namun satu syaratnya, yaitu tanpa pamrih, atau harapan apa pun. Niatnya hanyalah berbagi untuk kebaikan.

Dan itu berlaku hanya untuk pengetahuan yang berbentuk pengalaman sendiri. Menceritakan kisah orang lain tidak akan bermuatan energi sebesar kisah pengalaman sendiri.

Eh... saya jadi kecanduan untuk berpengalaman. Saya menjadi semangat untuk menjelajah dan bertualang dalam hidup, agar semakin banyak yang bisa saya bagikan kisahnya kepada orang lain.

Do you dare to share?

My story is my legacy.








Diary 164:
The Ticket 
Tiket


Tulisan saya di status Facebook atau di Blog selalu berhubungan satu sama lain. Membacanya sebaiknya berkelanjutan. Contoh, si Kutu akan selalu saya bawa karena perkenalannya sudah pernah saya post di status sebelum-sebelumnya.

Kali ini, mungkin kisah saya ini berguna bagi yang sekarang tengah melabuh peruntungan karir di perusahaan ke perusahaan seperti saya dulu.

Di tahun 2009 saya sempat mencoba... hmmm tepatnya iseng saja... yah... dasar saya kutu yang penasaran.. inginnya selalu mencoba melompat.

Oleh karena saya tidak pernah tidak maksimal dalam mengerjakan apa pun, tidak ada kata 'sementara' dalam hidup saya. Jika pun harus menghias panggung yang hanya dipakai satu malam dan esoknya sudah harus dibongkar lagi, tetap saya memperlakukan dekor panggung seolahnya panggung itu akan dipakai selamanya.

Dan saya selalu bergerk cepat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Proyek apa pun saya sambut seperti mengejar bola ketimbang menunggu. Setiap proyek adalah pengalaman yang akan memenuhi resume / CV saya.

Sampailah saya iseng di depan komputer untuk meng-update CV saya. Wah.. proyek yang sudah saya kerjakan ternyata sudah banyak sekali... perlu 4 halaman hanya untuk me-list proyek yang sudah saya selesaikan di sini dan di berbagai negara sejak saya bekerja profesional tahun 2001 sampai 2009 ini.

Kata orang, bikin CV itu sesingkat mungkin... ah, bagaimana bisa?... apakah saya harus menutupi prestasi saya yang 4 halaman ini? Bagaimana harus dibuat singkat?

Tapi mereka ada benarnya juga.

Saya mencoba apply posisi Project Manager ke perusahaan dari Israel. Dan tentu saya dipanggil untuk inteview sampai 3 kali. Interview ke-3 adalah penentuannya saya diterima atau tidak.

Sang interviewer datang dari Singapore dan jadilah saya duduk di sebuah lobby sebuah hotel mewah di Jakarta memenuhi undangan interview finalnya. Dan benar, orang itu hanya membaca halaman pertama CV saya, 4 halaman pengalaman yang padat tidak dibacanya.

Pertanyaan final dari dia (sudah saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia);
"Kami sudah terima 10 kandidat Project Manager, dan sampai hari ini 9 orang sudah menjawab pertanyaan saya dengan.. maaf... kurang impressive. Nah, jawab ini, 'Apa yang membuat anda berbeda dari 9 kandidat lain dan mengapa kami harus meng-hire anda?'"

Wah... Sialan!... (dalam hati saya.. karena ni orang tidak baca CV saya). Saya jawab aja gini;
"Pengalaman saya yang hanya 9-10 tahun HANYA bisa ditempuh 15-20 tahun oleh 9 kandidat itu."

Dia langsung membuka CV saya dan melihat senarai (list) proyek saya.

And that's it! That was the Deal Closer!
Salary offer was damn amazing.

I've got the job! Well.. I should... I could... Tapi dengan sangat rendah hati saya tolak baik-baik.
Karena di tangan saya sudah ada tiket ke Sydney untuk memimpin proyek di sana selama kurang lebih 1-2 tahun.

Saya pulang dengan perasaan campur aduk seperti nasi uduk. Bukan penyesalan, tetapi rasa syukur karena saya pernah punya pilihan ini. Pihak kantor di Sydney meminta saya dan saya yang direkomendasikan untuk menjadi Project Manager di sana. Why? Well...I don't know... may be because of the last 4 pages of damning packed experiences. :-)

Pesan saya adalah:

Penuhi hidupmu dengan pengalaman. Jangan sia-siakan waktu hidupmu hanya dengan menerima, tapi memberilah! aktiflah, raihlah setiap kesempatan. Dan... Hargai dirimu sendiri atas setiap prestasimu!

That is your Ticket to the tallest branch of the Tree!








Diary 165:
As Within So Without
Serupa di Dalam dan di Luar


Perjalanan spiritual dimulai dari dalam diri. Penyelarasan, Pembersihan (cleansing), terjadi di dalam terlebih dahulu. Setelah itu pengaruhnya akan bergerak dan merubah / menyelaraskan ke luar diri.

Kebanyakan orang akan berhenti hanya sampai di dalam diri, karena kenyataan di luar sangat berbeda bahkan bertentangan dengan kondisi di dalam diri. Mereka takut melangkah, takut untuk meneruskan proses yang tengah berlangsung ini. Mereka tahu bahwa proses itu belum selesai sampai yang di dalam sama dengan yang di luar. Tetapi mereka kalah oleh ketakutan mereka.

Mereka takut dijauhi pasangan (suami, istri, pacar), mereka takut dijauhi teman, rekan kerja, bahkan takut dihakimi dan dianggap aneh oleh masyarakat sekitar.

Sesungguhnya, rasa TAKUT adalah penghalang pertama tidak hanya dari sebuah perjalanan spiritual, namun juga dari perjalanan hidup. Baik di dalam diri, maupun di luar diri. Mereka takut untuk menghadapi rasa takut itu.

Pertama, harus berani mengakui bahwa kau menghadapi rasa takut. Kemudian harus diniatkan untuk berserah diri seutuhnya kepada Tuhan agar dapat menghadapi dan menanggulangi ketakutan tsb. Karena hanya Tuhan-lah teman sesungguhnya dalam perjalananmu.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan menuju Tuhan. Tuhan hanya dapat ditemui setelah ketakutanmu berhasil kau taklukkan. Bahkan yang lebih disayangkan lagi apabila Tuhan dijadikan sosok yang ditakuti. Bila ini yang terjadi maka selamanya kau tidak akan memahami Tuhan yang hakiki, dan perjalanan spiritualmu berakhir di sini. Begitupula hidupmu hanyalah pemuasan kebutuhan badan duniawi saja. Dengan demikian, sia-sia pulalah apa yang sudah dijalani di dalam diri.

Apa yang ada di dalam diri akan termanifestasi ke luar diri. Dan apa yang di luar juga mencerminkan apa yang terjadi di dalam diri.

Maka saat dirimu niat untuk membersihkan yang di dalam, akan terjadi pula pembersihan di luar. Yang tidak sesuai di dalam dan di luar akan dijauhkan. Jalanmu di dalam dan di luar ditata ulang untuk menuju kebenaran Hakiki.

Mereka yang kau kenal perlahan berguguran menjauh digantikan dengan mereka yang sesuai untuk berada bersamamu di jalan barumu yang sedang kau bentuk bersama Tuhan ini.

Jalanmu akan terang, membersihkan yang gelap. Hanya mereka yang menerimamu apa adanya yang akan memahamimu. Yang tidak akan menyingkir secara alamiah. Suatu proses yang menyakitkan, namun perlu, dan ini terjadi bagi setiap pejalan spiritual.

Kedua duniamu perlahan selaras. Di dalam dan di luar. Spiritual dan duniawi menjadi seimbang dan berjalan bersama. Bagaikan meniti titian halus rambut dibelah tujuh, kau berada di posisi keseimbangan sempurna.
Kau menjadi manusia yang PAHAM.

Sesungguhnya, inilah duniamu yang sesuai untukmu, yang sepatutnya kau jalani. Inilah dirimu tampil utuh tanpa konflik dalam vs luar. Terangnya jalanmu di luar adalah karena terangnya hatimu di dalam.

Dan saya katakan ini padamu; selama apa pun sudah kau hidup di dunia ini, baru di situlah awal hidupmu yang sejati. Perjalananmu baru dimulai dari titik itu.

Taklukkan rasa takutmu. Bebaskan dirimu.
Temukan diri sejatimu.
Jadilah manusia yang sesungguhnya.

Hiduplah!








Diary 166:
I Am Color Blind Since Birth

Saya Buta Warna Sejak Lahir


Saya sangat beruntung lahir di keluarga yang ayah saya bekerja untuk suatu perusahaan yang sangat sering memindah-tugaskannya. Sejak lahir, sampai kuliah sudah banyak tempat yang saya tinggali, dari Sumatera, Riau, Kalimantan dan Jawa. Paling singkat adalah 1 tahun, sedangkan paling lama 4 tahun di satu lokasi.

Jeleknya, selalu yang menjadi korban adalah koleksi komik dan mainan saya. Entah kemana semua itu karena seringnya keluar masuk peti saat pindahan. Juga harus selalu beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, guru baru, bahasa pun baru.

Baiknya, baru saya sadari bertahun-tahun kemudian, dimulai sejak masa kuliah, terus sampai bekerja di Jakarta.

Apa yang saya rasakan?
Saya tidak bisa membedakan latar belakang orang dari sisi ras, suku, dan agama. Saya sudah sangat terbiasa berteman, bersahabat tanpa memandang hal-hal yang menjadi pembeda fisik di antara saya dan mereka.

Sangat risih dan terusik sewaktu saya mendengar orang lain di sebelah saya menandai seseorang bukan dengan nama orang itu, tapi dengan rasnya.

Misal, “si Cina yang kita temui kemarin...” 

atau, “Kamu ingat si Madura itu?”

Atau, “Si Kristen....”

dll... dll... dll...

Atau sering juga saya temui mereka yang berkelompok berdasarkan suku dan agama mereka. Bahkan sering juga mereka berantem sendiri. Pemandangan itu semua adalah baru dan asing bagi saya. Saya tidak pernah mengenali itu semua sebelumnya.

Dan saya menyadari bahwa saya sangatlah beruntung karena hal ini adalah buah positif dari hasil perantauan keluarga saya. DNA saya seperti terprogram untuk tidak mengenali perbedaan ras, agama, warna kulit, dan lain sebagainya, sama sekali. Saya tidak mampu melihat perbedaan warna kulit. Saya seperti buta warna sejak lahir.

Teman saya sangat banyak dan kami sangat nyaman bergaul tanpa ada batasan semu itu. Hanya ada hati ke hati. Rasa ke rasa. Setiap kali ada berita yang menampilkan isu rasisme, atau pertikaian agama, saya merasa sangat tidak nyaman dan terusik. Bagi saya itu sangat aneh. Tidak masuk akal.

Saya menyekolahkan anak saya ke sekolah yang multi kultural, multi etnis, multi agama, multi bahasa, karena saya ingin anak saya berpandangan luas dan bebas seperti saya.

Tuhan tidak menciptakan manusia untuk saling membedakan. Tuhan menciptakan perbedaan agar manusia saling menerima.

Bagaimana bisa menerima Tuhan apa adanya jika kau belum bisa menerima sesamamu apa adanya?


I am color blind since birth.
I cannot tell the different between white, brown, black, yellow.
They all look the same to me.
Especially when they smile.

-----

Aku buta warna sejak lahir.
Saya tidak dapat membedakan antara putih, coklat, hitam, dan kuning.
Semua tampak sama bagiku.
Terutama saat mereka tersenyum.








Diary 167: 
The Milky Way


Milky Way adalah nama galaksi kita, Bimasakti (dalam bahasa Indonesia). Bumi kita berada di dalam galaksi ini. Dan planet bumi adalah satu dari milyaran planet di galaksi ini. Matahari kita adalah satu bintang dari milyaran bintang di galaksi kita ini saja.

Galaksi Bimasakti berbentuk spiral. Posisi planet bumi berada di pinggir galaksi ini. Dari posisi ini, galaksi bimasakti dapat terlihat dari bumi, seperti gambar yang saya post di sini.

Bila langit malam cerah tanpa hambatan sama sekali dan kita melihat ke langit, akan tampaklah galaksi bimasakti membelah langit, seperti ular raksasa terbang di langit (Serpent in the Sky), atau lebih populernya bagaikan sungai kosmik yang mengalir di dalamnya aliran susu - Milky Way.

Milky Way terang benderang, di tengahnya terdapat pusat galaksi tempat mati dan lahirnya bintang-bintang, sebuah rahim dari ibu langit (The Womb of the Sky-Mother).
Bintang-bintang yang dilahirkan itu adalah anak-anak dari Sang Ibu, para dewa penjaga alam, menempati posisinya masing-masing di langit. Tampak dari bumi sebagai bintang-bitang dan gugusan-gugusan bintang yang bersinar paling terang.

Kerajaan para Dewa, Sang Ibu (Nut), dan bumi adalah sang Ayah (Geb). Langit dan bumi adalah pasangan tak terpisahkan.
Kerajaan agung abadi diterangi banyak sekali bintang-bintang bak gemerlap perhiasan permata berkilau menghias seluruh kerajaan langit. Merekalah para bidadari - sang perawan yang akan menyambut hangat mereka yang telah selesai bertugas di bumi untuk kembali ke asalnya.
- The Milky Way, and the Celestial Virgins.

----------
Langit sudah menjadi sumber kekaguman manusia sejak manusia ada di bumi ini. Bayangkan menghadap langit melihat gegap gempita tarian kosmos bintang-bintang gemerlap memukau. Permata paling indah pun kalah oleh keagungan dan kemegahan langit.

"Siapakah mereka (bintang-bintang itu)?", Tanya sebagian dari manusia.

Sebagian lainnya menjawab,
"Mereka adalah para pengawas, para dewa-dewi (The Watchers)", dan mereka mematuhi sang Pemilik Semesta, Sang Ibu, Tuhan yang Agung. Tuhan dari semua Dewa.

Ada satu bintang / satu dewa / satu pengawas bagi setiap manusia di bumi. Dan ada satu pengawas untuk setiap makhluk selain manusia. Mereka mengawasi setiap ciptaan dan semua kejadian di bumi.

Di sanalah, di langit yang megah itulah kerajaan-Nya.
Tidakkah kau lihat, aliran sungai kosmos yang membelah itu?
Di sanalah segalanya berawal dan berakhir.
Kita pun nanti akan ke sana, disambut hangat oleh para dewa. Abadi, kembali bersama Sang Ibu. Kemudian Ia akan melahirkan kita kembali menjadi bintang-bintang bersama yang lainnya, selalu dekat dengan-Nya."

Ia bertanya lagi,
"Dimanakah itu? Apa nama tempat yang kau bicarakan itu, wahai sahabat?"

Dijawab kembali,
"Surga, di mana di dalamnya mengalir sungai-sungai susu dan taburan hiasan permata, serta bidadari-bidadari yang menemani jiwa kita, abadi."








Diary 168:
Penampakan?


Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah keberanian untuk bepikir logis. Logis yang benar. Bukan logis pesepsi manusia saja.

Salah satu logika yang sering sekali mengusik "arena di bawah sana", adalah keberadaan penampakan seperti makhluk halus dalam berbagai bentuk. Genderuwo, pocong, dll...
Apakah kebeadaan obyek-obyek penampakan itu benar? Bagaimana cara menjawabnya

Saya tanyakan ini; Jika semua itu benar, apakah penampakan yang sama juga terjadi di temapat lain di seluruh bumi? Ataukah hanya di Indonesia saja?
Jika hanya di Indonesia (dan inilah yang terjadi), maka semua penampakan itu tidak benar. Bentuk-bentuk penampakan itu hanya terjadi bagi orang Indonesia? Mengapa?

Semua adalah energi. Semua energi adalah hidup. Bentuk / wujudnya adalah sesuai persepsi orang di sekitanya.

Kalau di Indonesia ya jadinya pocong, genderuwo, tuyul, dll sesuai mitos atau cerita-cerita rakyat yang ada, alias, budaya. Di negara lain, energi-energi itu juga akan mewujud sesuai budaya di sana. Sesuai PERSEPSI manusia.

Semua energi itu dapat dimurnikan dengan segera / seketika oleh mereka yang PAHAM. PAHAM bahwa semua itu energi dan semua itu dapat dilerai. Seketika semua itu akan sirna karena energinya dilerai / selaras dengan alam.

Para pelaku spiritual yang serius di jalan ini secara alamiah akan melakukan pemurnian terhadap dirinya dan alam sekitarnya. Kemanapun mereka pergi / berada, semua energi akan murni dan kosong. Tidak ada lagi penampakan apa pun selain yang memang sesuai untuk mereka saja. Begitulah yang seharusnya terjadi.

Mereka yang masih suka bergelut dengan makhluk-makhluk ghaib artinya pembelajaran ilmu kepahaman / spiritual mereka jauh dari sempurna dan masih terpolusi oleh ego. Karena bukannya energi-energi itu dimurnikan, malah mereka cari-cari. Dan mereka justru bangga karenanya.

----------

Logika lainnya adalah: Kesadaran rendah tidak akan dapat mengalahkan kesadaran tinggi. DAN Kesadaran tinggi selalu dapat mengalahkan kesadaran rendah.

Kemana pun saya berada, semua energi yang dihasilkan oleh mereka yang berada di kesadaran tingkat bawah akan termurnikan secara alamiah. Yang tampak oleh saya hanyalah yang sesuai untuk saya.

Guna-guna, santet, sihir, dll semua adalah energi dan persepsi yang dihasilkan oleh mereka yang berniat negatif. Niat negatif dihasilkan oleh mereka yang berkesadaran rendah. Cara ini hanya mempan pada mereka yang berkesadaran lebih rendah. Cara ini TIDAK AKAN mempan pada mereka yang berkesadaran tinggi.

TAKUT adalah pintu kelemahanmu, energi negatif masuk dari rasa takutmu.
Jadi, apa yang kau takutkan?

Raihlah KEPAHAMAN sempurna.








~ Collection of other Articles, Stories & Quotes ~




Bagiku, rizki adalah terbukanya diriku sepenuhnya terhadap keberlimpahannya cahaya kasih Tuhan, dan kemampuanku untuk menerimanya. Serta keikhlasanku untuk memancarkannya kembali ke segala penjuru.




Sesungguhnya, tiada tempat lain untuk mengadu selain pada Tuhan.
Dialah tempatku bermanja-manja seperti anak kecil yang menangis dipelukan ibunya karena barusan dijahili teman sekolah.
Hanya Dia yang dapat membuatku tenang dan damai kembali.
Dia yang menerimaku apa adanya dan tidak pernah menghakimiku atas semua kekurangan dan kesalahanku.
Dia yang selalu bangga padaku.
Dia yang selalu menasihatiku dengan senyuman.




Aku mengadu pada Tuhan setelah mendengar kalimat ini diucapkan seseorang,
“Tuhan itu harus ditakuti.”

Dia tersenyum padaku dan berkata,
“Cinta dan Kasih-Ku bukanlah untuk ditakuti.
Mereka yang takut padaku adalah mereka yang belum merasakah Cinta dan Kasih-Ku.”




Tuhan berkata padaku untuk menerima, ketimbang mempertanyakan mengapa sesuatu terjadi padaku.
Tuhan kemudian berkata padaku untuk membuka hatiku untuk segalanya sampai jawabannya datang sendiri padaku.
Aku berserah pada semua kehendak-Nya.

-----
God said to me to accept rather than to question why it happens to me.
God then said to me to open my heart to everything, and wait until the answer reveals itself to me.
I surrender to His bidding.




Tuhan berbicara dalam bahasa rasa.
Dia merasakan apa yang kamu rasakan. Dan Dia merespon sesuai dgn rasamu itu.
Jika kamu sedih, Dia pun merespon dengan kesedihan.
Jika kamu bahagia, Dia pun merespon dengan kebahagiaan.

Maka, apa pun yang kau doakan / ucapkan / minta pada Tuhan, akan selalu dijawab sesuai dengan RASAmu sewaktu kau berdoa, BUKAN dengan apa yang kau ucapkan.

What you say is meaningless.
Only what you feel matters.




Tuhan itu Maha Esa.
Ke-Esa-an Tuhan memang topik yang selalu menarik untuk dibahas sejak zaman dahulu.
Akan tetapi menjadi kurang nilainya jika dibahasnya hanya di tempat ibadah.

Tuhan Yang Satu itu adalah Tuhan bagi semua makhluk di alam semesta ini, bukan milik satu agama saja.
Bahaslah Ke-Esa-an Tuhan di warung kopi. Karena Tuhan juga Suka Kebersamaan di tengah Beberagaman Ciptaan-Nya.




Bagiku, Tuhan itu Pengasih dan Penyayang. Dia tidak pernah menghukumku atas apa pun keburukan yang telah kuperbuat.
Karena itulah aku tidak pernah takut hidup.
Karena itulah aku tidak pernah takut mati.
Karena itulah aku menauladani-Nya dengan menyamakan sifatku dengan-Nya; pengasih dan penyayang.

Dan sekarang aku pun paham, bahwa bila suatu ketika aku membuatmu menangis dan bahkan sampai membenciku dengan caraku menasihatimu, maka itulah juga bentuk dari kasihku padamu.




Aku adalah seorang Mystic.
Hubunganku dengan Tuhan terjalin langsung (direct) intim, personal, tanpa perantara apa pun dan siapa pun, termasuk tanpa perantara agamamu dan nabi-nabimu.

Tapi aku mengimani semua itu. Hanya saja mereka tidak berada di antara aku dan Tuhan.
Bila aku berbincang-bincang denganNya, itu pun juga hanya aku dan Dia yang tau.
Begitupula Tuhan dengan dirimu.




Bagaimana caramu menyusun 1000 kepingan puzzle yang berantakan menjadi sebuah gambar yang komplit?

Jawab:
Dengan melihat gambar jadinya terlebih dahulu.
Masa depan menentukan masa sekarang.




Saya pernah ditanya oleh sorang Healer,
“Bagaimana mengakses energi Tuhan dalam melakukan healing?”

Jawaban saya:
“Tuhan adala Cinta Kasih. Maka rasakan cinta kasih.
Cintai orang yang yang kau healing itu.
Jatuh cintalah padanya.”




Coba berlatih menggunakan bahasa yang bemakna singular. Buanglah makna dualitasnya. Bisakah?

Contoh:
Baik. Ya baik yang singular, tanpa lawan kata. Bukan lawan dari buruk.

Benar. Bukan lawan dari salah

Satu. Ya satu saja, bukan kemudian akan ada 2, 3, 4, dst.

Bisa? Bagus! Teruskan...

Damai, Tenang, Bahagia, Kasih, Cinta

Bisa? Bagus. Kau sudah selangkah lebih baik dalam memahami Tuhan.




"Terimalah dirimu apa adanya."

Begitulah bunyi pesanku kepadamu. Akan tetapi, 'dirimu yang apa adanya' itu sebenarnya yang seperti apa?

Yaitu dirimu yang istimewa sejak dilahirkan, yang sangat berarti dan punya peran penting di dunia ini. Dirimu adalah makhluk yang bersinar membawa dan memancarkan cahaya Tuhan di bumi, dan pencerah bagi sesamamu.

Itulah dirimu yang apa adanya.




Kau mengeluh padaku akan derita duniamu saat ini. Kau berkata bahwa Tuhan sedang tidak mengasihimu.
Dan kemudian kau tepiskan pesan-pesanku padamu.
Bagaimana bisa kau menerima Kasih Tuhan yang Maha Agung, bila pesan kasihku yang sangat sederhana ini pun kau tak bisa menerimanya?




Tuhan itu bersifat Holistic (menyeluruh).
Jadi, walaupun yang kau keluhkan hanyalah sakit di ujung dengkulmu, yang sembuh adalah seluruh badanmu, dari ujung rambut ke ujung jari kaki.

Niat baikmu yang spesifik, akan berdampak sesuatu yang jauh lebih besar dari niatmu itu.

Belum paham juga?
Saya berikan analogi yang (saya harap) bisa kau pahami;
Minta mobil, yang didapat rumah. Karena mobil yang kamu mau perlu garasi.




Tidak ada HEALING. Yang ada hanya SELF-HEALING.
Maka, jangan pernah mengharapkan orang lain Healing kamu atau menyelesaikan masalahmu. Hanya kamu sendiri yang bisa menyelesaikan masalahmu.

Jadi, kalau ada orang yang datang ke saya sampai merengek-rengek, akan saya tampar dia bolak-balik dan buat dia semakin terseok-seok. Sampai dia sadar.

Saya kejam? Tidak apa-apa. Asal kamu sadar dan bisa bangkit sendiri.
Maka, bencilah saya.




Uang adalah ciptaan manusia.
Sehingga masalah-masalahmu yang berkaitan dengan uang juga ciptaan manusia.
Jadi lucu ya jika kau meminta kepada Tuhan untuk menyelesaikan masalahmu yang kau ciptakan sendiri.

Dan tambah lucu lagi saat kau mengharap rizki berupa uang kepada Tuhan. Kemudian menilai bahwa semakin banyak hartamu, semakin Tuhan sedang sangat sayang padamu.

Tuhan tidak mengenal uangmu dan masalah yang berkenaan dengan uangmu itu. Dia juga tidak menilaimu dari hartamu.

Tuhan menciptakan alam raya yang megah ini. Dan semuanya berjalan harmonis, tanpa masalah. Dan Tuhan menciptakanmu sebagai bagian dari seluruh ciptaanNya yang lain untuk eksis secara harmonis bersama-sama.

Dekati Dia tanpa embel-embel uang. Hanya dirimu. Sebagaimana Tuhan menciptakanmu dalam keharmonisanNya.





Hidup adalah sebuah petualangan. Nikmatilah!








Tuhan bersemayam di hatimu dan hatiku.
Jika ingin berbicara mengenai Tuhan, maka kita bicara dari hati ke hati.




Tuhan itu memabukkan.
Bagaikan anggur termanis yang tak pernah kering.




Tuhan hanya dapat kau temukan di tengah, di antara persepsimu akan baik dan buruk.
Tuhan itu Maha Baik dan juga Maha Buruk.




Kalau kau mampu menerima Tuhan apa adanya,
maka kau juga bisa menerima saya (dan semua makhluk) apa adanya.




Tuhan adalah kekasihku.
Dia menemaniku saat hidupku.
Dia menyambutku saat matiku.
Aku tidak meminta surga-Nya.
Aku hanya bahagia bersama-Nya dan siap mati kapan pun.




Aku selalu membayangkan kejadian hidup terhebat yang bisa dijangkau daya imajinasiku.
Tetapi Tuhan selalu menghadirkan yang di luar jangkauan imajinasi terliarku.




Kau lahirkan aku dalam kondisi bersih.
Kukembalikan pada-Mu aku dalam kondisi yang bersih pula.




Tuhan dirasakan dgn memikirkanNya.




Ada apa setelah kita mati?
Tidak ada seorang pun yang tau.
Yang mengaku tau, maka dia sudah berbohong.




Tuhan yang kurasakan adalah Yang Maha Cinta Kasih.
Mohon jangan takut-takuti aku dengan Tuhanmu yang Menakutkan itu.




Tuhan memelihara semua makhluk dengan kesesuaiannya masing-masing.
Jadi, tidak perlu khawatir, resah, takut.




Begitu kupejamkan mata, padamkan telinga dan pikiranku dalam meditasi, kuserahkan segenap raga dan jiwaku seutuhnya untuk Tuhan.




Thou has allowed HIM be shown to me.
Nearer to Thee, I have now become.




I am a Mystic.
My door is always open. Yet no one sees it.
I stand here before you. Yet you don’t see me.
When I speak, you do not hear.

My words are heard by the birds.
I sing to the mountain. Laugh with the wind. Dancing with trees.
We celebrate life each day with happiness, joy, and gratitude.
Yet You do not see nor hear.
You are too busy.

I feel your heart. I feel your pain. I see that you are suffering. I see that you are lost.
I want to help but you do not speak with birds, mountain, wind and trees.

When you are not busy, sit in silence.
Between right and wrong, there is a place.
You can meet me there.




Life is about learning.
The moment you stop learning, you stop living.




Death what gives life meaning. 
Without death life has no meaning. 
Without sickness, health has no value. 
Without sadness, happiness is less appreciated. 
Without hell, heaven is less interesting. 




I have decided that I am happy and abundant.
I don’t hope to be, but I am!





Spiritual bukanlah perjalanan menuju cahaya.
Tetapi perjalanan untuk menjadi cahaya.
Cahaya di atas cahaya.









Hidup adalah mukjizat. Kematian adalah penyingkapan.
Penyatuan adalah final.





Segalanya di sekelilingku menjadi lebih besar ketika aku menutup mata dalam meditasi.
Aku tidak melihat diriku. Hanya ada cahaya.





Tuhan berbicara padaku setiap waktu, dalam bahasa hati.













Aku adalah jiwa sendirian di padang kosong yang luas.
Pandangan buta, tangis tak bersuara, biarlah aku musnah menjadi debu, terlupakan.





Siang ke malam. Aku milik binatang cahaya.
Bebas bekeliaran di padang, jauh dari pandangan.
Angkatlah aku ke surga, pegang aku erat.





Aku berjalan kepada-Mu, di padang pasir mimpi-mimpi,
sampai mimpi berakhir, padang pasir menjadi lautan.
Dan di dalam kematian, aku menjadi diri-Mu.





Aku telah mengembara di ranah kehidupan.
Waktu telah berakhir bagiku, tak lama lagi aku pergi.
Di Barat yang terjauh aku akan terbenam.









Surga adalah tempatku berada sekarang, di antara baik dan buruk.





Dengarlah sang matahari, terbit di Timur, dan terbenam di Barat.
Selayak aku lahir dan segera terbaring mati.
Tiba waktuku, jiwaku, dan jasadku.
Naik dalam perjalananku kepada-Mu.





Saat kau menerima kematian, kau mulai hidup.









Wahai teman, sudikah kau menunjukkan jalan menuju Tuhan?
Bukan Surga atau Taman Firdaus yang aku maksudkan.
Tetapi sebuah tempat di luar keberadaan.
Tempat dimana hanya Tuhan yang ada.









Kumohon jangan bawa aku ke surga bila aku mati.
Tetapi bawalah aku kepada-Mu, dimana kedua kekasih menjadi Satu.












Pencerahan / Hidayah hanya dialami / dicapai oleh mereka yang berpikir.
Bukan yang patuh.




Bagimu agamamu.
Bagiku, cukup Tuhan saja.





~ Erianto Rachman ~