Minggu, 03 Februari 2019

A Sufi's Diaries: Book 17



Kumpulan artikel singkat, kisah dan petikan seorang kelana, jilid ke-17.




Diary 125:
A Dent in The Universe
Lekukan pada Alam Semesta


Ada milyaran jumlah sel di tubuh kita. Setiap sel punya tugas masing-masing. 
Bagaimana kita mengendalikan semuanya?

Kamu menjawab, “mereka bergerak sendiri tanpa kita suruh. Memang dari asalnya sudah begitu."

Jawabanmu begitu karena kamu tidak tahu bahwa sel-sel itu berperilaku demikian mengikuti sebuah komando, program, instruksi yang berasal dari otak. Instruksi itu tertanam di dalam setiap relung DNA di dalam sel.

Inilah Kesadaran Manusia / Human Consciousness

Kesadaranmu yang mengendalikan seluruh sel di tubuhmu. Selama ini kau sudah menggunakan kesadaranmu untuk mengontrol perilaku seluruh tubuhmu. Namun karena tidak kau sadari secara kasar, mereka menyebutnya instinct.

Setiap sel pun saling berkomunikasi. Tapi karena komunikasi mereka sangat halus, kau pun tidak merasakannya.

Ketika salah satu anggota tubuhmu terkena sentuhan keras, misalkan betismu terjeduk meja, pesan itu sangat jelas / kasar, yaitu rasa sakit, barulah kamu merasakannya dan mengambil tindakan. Misal menggerakkan tanganmu untuk mengusap-usap betismu yang sakit itu.

Sekarang dengan membayangkan wacana di atas, coba renungkan ini;

Alam ini adalah bagian dari Tuhan. Setiap obyek, materi, energi di alam ini berperilaku mematuhi hukum tertentu, yaitu hukum alam.

Hukum inilah Kesadaran Tuhan / God Consciousness.
Hukum ini baku dan tak berubah sepanjang masa. Tuhan mengatur dan mengendalikan segalanya dengan Kesadaran-Nya.

Jika manusia akan mengambil tindakan lebih nyata bila bagian tubuhnya terkena sentuhan berlebih, maka dengan prinsip yang sama, lalukanlah sesuatu yang cukup besar agar Tuhan bereaksi lebih terhadapmu.

Lalukanlah sesuatu yang “besar” / signifikan untuk mendapatkan reaksi Lebih dari Tuhan.
Akan tetapi ada satu prinsip lagi yang harus dipahami; yaitu Tuhan berbicara dalam bahasa rasa. Maka, ciptakanlah rasa yang besar!

Apa rasa yang besar itu?
Yaitu rasa yang dihasilkan dari Kesadaran Tinggi.

Make a Dent in the Universe.
(Colek Tuhan)






Tambahan untuk Diary 125:
A Dent In The Universe


Pernahkah kamu merasa tidak ditanggapi cukup serius oleh lawan bicaramu?

Kira-kira apa sebabnya?
Karena tingkat kepahamanmu / kesadaranmu tidak sama dengan dia.

Wujudnya adalah:
‘Maksud’-mu tidak tersampaikan dengan baik. Mungkin karena ‘bahasa’-mu kurang tertata dengan baik. Bahkan kosa-katamu kurang, dan mungkin pula terbata-bata.

Atau bahasa tubuhmu yang kurang baik, kurang berwibawa, kurang percaya diri, dll.
Kembalilah beberapa bulan lagi setelah kau perbaiki kekuranganmu. Samakan / Sejajarkan tingkatmu dengan dia, diia pasti akan menanggapimu lebih serius.

Saingan layak diberi perhatian.
Sedangkan basa-basi, tidak.

Begitupula kamu dengan Tuhan.
Bersainglah utk mencapai tingkat kesadaran yang mendekati Tuhan agar mendapat perhatian Tuhan.

Jangan berbasa-basi.






Diary 126:
Snowflake
Kepingan Salju


Ambillah sekeping salju, lalu lihatlah kristalnya melalui mikroskop. Tampak kristalnya yang simetris dan indah bagai kelopak bunga yang terbuka.

Di daerah kita tidak ada salju, cobalah naik ke pengunungan yang tinggi. Di pagi hari, tangkaplah embun di udara. Bekukan embun itu lalu lihatlah di bawah mikroskop. Kristalnya indah seindah kristal salju.

Jika kau ambil lebih banyak embun di puncak gunung, lalu kau bawa ke kota di bawah. Biarkan beberapa jam, kemudian bekukan setetes. Lihatlah di bawah mikroskop. Kristal yang tampak tak lagi simetris dan indah bagaikan bunga. Keindahan itu rusak setelah kau bawa air tersebut ke kota.

Mengapa demikian?
Air menyimpan memori. Asal salju dan embun adalah dari awan di tempat yang tinggi. Tempatnya yang sepi, tenang, damai, murni, menjadikan kristal salju dan embun cantik.

Begitu dipindahkan ke tempat yang ramai, hiruk-pikuk kesibukan, stress, berbagai rasa negatif, kristal air hancur.
Inilah sebabnya banyak pengelana spiritual menyepi ke pegunungan atau membuat kuil di tempat yang tinggi jauh dari keramaian. Dan bagaikan salju pula mereka turun kembali ke bumi. Bagai hujan yang jatuh ke tanah, membasahi muka bumi. Membasahi semua makhluk di alam.

Namun berbeda dengan salju dan air, kristal air di tubuh mereka tidak rusak. Keindahan setiap partikel air di dalam tubuh mereka tetap terjaga. Kemurnian, ketenangan, kedamaian dan Keindahan hati mereka kekal kemana pun mereka pergi, dimana pun mereka berada.

Keberadaan dan kehadiran mereka mempengaruhi alam, termasuk manusia. Menjadikan segalanya lebih baik. Menenangkan yang kacau, mendamaikan yang gundah, memberikan kesejukan bagi siapa saja yang mereka temui.

Karena mereka memahami kebenaran hakiki. Karena mereka telah merasakan Tuhan.

Siapakah mereka?
Kaulah mereka. Dirimu.

Kaulah si Kepingan Salju.
You are a Snowflake.







Diary 127:
The Children Of God
Anak-Anak Tuhan


Kalau saya menulis atau berucap bahwa hubunganmu dengan Tuhan bagai sepasang kekasih, mungkin banyak yang kurang paham.
Bukan hanya tidak paham, sebagian bahkan ada yang menghardik saya atas apa yang saya ucapkan itu;

"Tidaklah mungkin manusia seperti kita menjadi kekasih Tuhan!"

"Tuhan itu Maha Segalanya sedangkan manusia sangat kecil. Selamanya manusia selalu terpisah dengan Tuhan!"

"Hanya Nabi-nabi (dan itupun tidak semua nabi) yang dianggap kekasih bagi Tuhan." 

Dst...

Ya sudahlah kalau tidak memahaminya.
Ada satu cara untukmu mendekati pemahaman KEKASIH itu, saya coba tuliskan di bawah ini;

Hubungan yang paling erat adalah hubugan antara orang tua dan anaknya.

Bisa dirasakan?
Antara orang tua dan anak ada hubungan yang tak tampak yang hanya bisa dirasakan di dalam hati. Kasih, Sayang, Cinta, yang lain dari hanya sekedar antara dirimu dengan orang lain.

Hubungan yang selalu terjalin secara tak kasat mata ini termanifestasi dalam sikapmu pada anakmu, atau sikapmu pada orang tuamu.

Kau memelihara, menjaga, mendidik anakmu dengan segenap kesungguhan dan seluruh kehidupanmu. Gerakmu, usahamu, semua adalah demi kebahagiaan dan kelangsungan hidup anakmu.

Kadang kau ucapkan kata-kata lembut kepada anakmu. Tetapi juga kadang kau berteriak kasar padanya untuk menegurnya. Lembut dan kasar adalah dualitas dari satu hal yang tunggal / Singular; CINTA -mu padanya.

Hanya kau yang tahu. Karena hubunganmu dengan anakmu adalah hubungan yang sangat mendasar; RASA.

Begitulah kira-kira hubungan Tuhan dengan dirimu, yaitu Orang tua dengan Anak-Nya.
Begitulah rasa CINTA KASIH Tuhan terhadapmu.
Kadang DIA membelaimu lembut. Kadang DIA menegurmu tegas.
Kadang DIA membelaimu lembut dengan pedihnya hidup. Kadang DIA menegurmu tegas dengan rizki berkelimpahan.
Kadang DIA mengasihimu dengan menggelapkan pandanganmu di bawah naungan bayang-Nya. Kadang DIA menegurmu keras dengan terang silaunya cahaya dunia.

Begitulah Sang Singular menjaga, memeliharamu, menaungimu, makhkuk yang Dual.
Tanpa syarat.
Oleh sebab itu pula, Jika ingin sedikit memahami KASIH Tuhan padamu, resapi hubunganmu dengan anakmu.

Jika belum dikaruniai anak, resapi hubunganmu dengan sesama manusia, kerabat, saudara yang terdekat denganmu.
Jika hubuganmu dengan orang tuamu tidak dekat, resapi hubunganmu dengan gurumu, sesama manusia, kerabat, saudara tua yang terdekat denganmu.

Karena di setiap dari mereka ada Zat Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang.
Kau adalah Anak Tuhan.







Diary 128:
Life is Beautiful
Hidup Itu Indah


Segala sesuatu yang tampak kacau kalau dipandang dari kejauhan akan terlihat baik-baik saja, bahkan bisa menjadi indah.
Lukisan abstrak kalau dilihat dari dekat, ruwet. Coba mundur... lihat dari kejauhan... ruwetnya pun hilang. Kamu bisa menikmati lukisan itu sekarang.

Begitu pula hidupmu.
Berikan jarak waktu tertentu untuk memandang hidupmu.
Kejadian paling pedih yang terjadi 10 tahun lalu akan kamu pandang baik-baik saja, bahkan sekarang bisa membuatmu tersenyum.

Begitu pula dengan masalah hidup.
Berikan jarak, maka masalah itu tampak kecil dan mudah dipahami untuk diselesaikan.
Dan kau pun hanya tertawa saja memandangnya / mengingatnya.

Bahkan semua itu adalah kisah / pelajaran yang akan kau hargai dan syukuri selamanya.
Pengalaman yang sangat berharga.
Bak mencari sebutir berlian, kau harus menggali ke dalam tanah, bebatuan keras, melukai jari dan tanganmu, peluh dan darah bercampur. Berlian itu ada jauh di kedalaman.

Dan sekarang, bila datang kesulitan, masalah dalam hidup, bepikirlah begini;

“Masalah ini akan saya tertawakan 10 tahun lagi.”

Hidup itu indah dan menyenangkan.
Hidup itu lucu.
Hidup itu berlian.
Mau berapa butir berlian yang ingin kau miliki?
Nikmati hidupmu dari hari ke hari.
Jangan takut melangkah.
Semua ini akan menjadi cerita jenaka bersama sahabat ditemani secangkir kopi hangat.
Kau akan menutup hidupmu dengan senyuman riang di wajahmu.

Because LIFE is beautiful.








Diary 129:
Si Mata Picak dalam Pesta


Ada saja yang bertanya kepada saya mengapa saya selalu memandang segala sesuatu serba positif?
Sebenarnya bukan positif, lebih tepatnya SESUAI. Apa pun kejadian / peristiwa itu. Baik yang tampak umumnya sebagai peristiwa baik maupun yang paling dihindari orang.

Bagi saya semuanya sudah sesuai.
Mengapa bisa begitu?
Simple. Karena saya memandang Tuhan yang Singular / Tunggal. Memang semua ciptaan-Nya adalah DUAL, tetapi Tuhan adalah Tunggal.

CiptaanNya akan selalu tampak Baik-Buruk, Positif-Negatif (Dualistis). Dan pada umumnya manusia terperangkap di persepsi Dualistis ini. Mereka akan memilih yang baik dan takut akan yang buruk. Kalau terjadi yang baik mereka syukuri. Sedangkan kalau terjadi yang buruk mereka berteriak minta ampun, meratapi, takut, dan jatuh semangatnya.

“Tuhan itu yang baik-baik saja. Yang buruk bukan dari Tuhan.” Begitu ujar mereka.

Seolahnya mereka memandang Tuhan hanya sebelah mata. Saya sebut si Picak (si Mata sebelah).
Padahal jika diibaratkan pintu yang terkunci dimana dibaliknya terdapat opportunity, pengetahuan, harus didobrak dulu untuk dapat terbuka. Kenapa dobrak? Karena kuncinya tidak ada.

“Dobrak” adalah kata yang berkonotasi negatif, identik dengan sakit, penderitaan, kesengsaraan, dll. Kemudian dijauhi. Kesempatan dan pengetahuan baru itu tidak akan pernah terbuka.

Malah saya memandangnya begini;

Tuhan memberikan ujian padamu berupa rizki berlimpah. Dan Tuhan memberikan Kasih Sayang-Nya padamu berupa rasa sakitnya penderitaan.

Tuhan mengundangmu dalam sebuah PESTA, yaitu HIDUP ini. Bagaimana sikapmu, cara pandangmu terhadap Tuhan menentukan bagaimana kau menghadiri / memenuhi undangan-Nya.

Pesta-Nya begitu megah bergelimang pernak-pernik kenikmatan hidup. Asal kau tahu bagaimana memandangnya dalam Kemanunggalan-Nya saja kau akan menikmati setiap yang ada di hidup ini.

Tidaklah mungkin Pesta Tuhan ini tidak sempurna. Dia-lah Sang Maha Perencana Pesta (Party Planner yang sempurna) Semuanya sudah sempurna adanya. Baik maupun buruknya.

Baik dan buruk adalah hiasan pesta.
Oleh karena itu; bukalah kedua matamu. Terimalah yang Dual untuk memahami yang Singular; Tuhan.

Tuan rumah sudah hadir di tengah-tengah para Tetamu-Nya yang Mulia, tetapi kau - si tamu - menghindar untuk menemui-Nya.

Sampai kedua matamu terbuka.








Diary 130:
Duality
Dualitas


Mengapa saya sering mengulas topik Dualitas?
Kerena manusia menjalani hidup didasari PERSEPSI mereka terhadap dunia. Sehingga masalah-masalah bagi mereka, yang timbul, adalah akibat dari persepsi mereka sendiri terhadap hidup ini - yang notabene adalah persepsi mereka terhadap DUALITAS hidup itu sendiri.

Jadi menurut saya, Kepahamanmu mengenai Dualitas ini merupakan pondasi atau prinsip yang fundamental dalam menjalani hidup. Dualitas adalah akar dari segala masalah yang kau hadapi.

Contohnya bagaimana?


Contoh 1:

Ini yang paling sering saya singgung: ada BAIK dan BURUK.

Orang menanamkan persepsi yang saklek terhadap kebaikan dan keburukan. Dari sejak lahir yang berkonotasi buruk HARUS dijauhi, dihindari, ditakuti. Akibatnya adalah manusia selalu punya persepsi bersalah, berdosa, penyesalan, kapok, dan lainnya yang serba negatif.

Rasa salah, berdosa, sesal, kapok adalah akar dari masalahmu. Persepsimu terhadap BURUK adalah negatif. maka yang negatif-lah yang akan datang kepadamu, dan yang akan kau hadapi.

Begitu pula persepsi BAIK menjadi sangat positif dan disanjung-sanjung serta dipuja-puja secara berlebihan. Padahal BAIK maupun BURUK menyimpan pesan pelajaran yang sama bagimu.

Cobalah untuk menerima kedua hal Baik dan Buruk itu apa adanya. Maafkan orang lain, minta maaflah kepada orang lain, dan maafkan diri sendiri.
Maaf itu salah satu cara merubah persepsimu dari yang negatif menjadi positif.
Mulailah dari situ.


Contoh 2:

Ada LUAR ada DALAM.

Keduanya mungkin berkonotasi sama, tetapi tanpa disadari sudah tercipta (persepsi) akan adanya BATASAN antara dirimu dan lingkunganmu, yang berlaku bagi dirimu sendiri saja, karena begitulah persepsimu terhadap Luar dan Dalam itu.

Coba renungkan baik-baik, apakah ada beda yang mendasar untuk LUAR dan DALAM selain persepsimu sendiri?

Kadang LUAR dipersepsikan sebagai positif, kadang negatif.
Kadang DALAM dipersepsikan sebagai positif, kadang negatif.
Tergantung situasi-mu.
Dan kemudian muncullah masalahmu.

----------

Jadi, bagaimana seharusnya?
Bukan menolak dualitas, melainkan TERIMA / ACCEPT dualitas sebagai dua hal yang wajar.

Kemudian pahami bahwa Dualitas merupakan SATU kesatuan yang tak terpisahkan.
Inilah Kepahaman akan Kesatuan / Oneness.
Jika sudah bisa mencapai ini dengan keyakinan sempurna, Hidup tidak lagi seperti pandanganmu sebelumnya terhadapnya.

Bagai menemukan dimensi ruang baru untuk bergerak lebih banyak, bebas, luas.
Seperti ulat yang hanya tau gerak maju-mundur, kanan kiri. Setelah berubah menjadi kupu-kupu ia menemukan dimensi gerak baru yang belum pernah ia pahami sebelumnya, yaitu atas dan bawah.

Inilah persitiwa Transformasi Hati.
Terima dan pahamilah yang Dual untuk menerima yang Singular.
Hiduplah dalam Ke-Satu-an / Oneness.
Terbanglah seperti kupu-kupu.








Diary 131:
Unboxing


Pernah mendenger istilah “unboxing”?
Jika seseorang membeli sebuah henpon baru, lalu si pembeli membuat video saat dia pertama kali membuka kotak henponnya. Sambil dinarasi oleh dirinya sendiri, dia mulai membahas kotaknya dulu; warnanya, ukurannya, gambar dan tulisan yang tertera pada kotak itu, dst.

Kemudkan dilanjutkan dengan menyobek plastik pembungkus kotak... sambil terus bernarasi... kotak dibuka... dan... Voila!
Henpon hebat itu terlihat.
Sambil terus bernarasi, henpon dipegang, isi kotak di keluarkan....
Henpon dinyalakan... dan... oooohhh takjub... layar bersinar menampilkan logo dan tampilan home screen-nya.

----------

Sekarang saya juga mau meng-unboxing dirimu.
Sambil bernarasi, pertama-tama saya copot namamu, saya hapus semua tulisan yang tertera pada kulit. Ada gambar logo juga.. saya berkata, logo ini tidak penting dan sebaiknya dihapus.

Kemudian saya sobek warna kulitmu, saya kupas asal-usulmu, ras, negara, etnis, budaya, serta agamamu. sehingga kotaknya jadi bersih putih tanpa noda.

Dan... momen yang paling ditunggu-tunggu... saya buka kotaknya.... Voila!
Inilah dirimu yang sesungguhnya. Diri sejatimu!
Cahaya silau wajah home screen-mu bersinar...!
Oooooohhh.... mambuat takjub siapa pun yang melihatnya...!

Siapakah dia??
Belum pernah kulihat sebelumnya!
Unik, tiada duanya!

Inilah dirimu!
Dirimu yang asli, sejati, murni, sesuai desain Sang Penciptamu.








Diary 132:
Canvas
Kanvas


Dirimu, manusia, bagaikan selembar kanvas putih yang lembut dan lentur, ringan melambai bila tertiup angin.
Selama hidup, kanvas itu kau penuhi dengan coretan-coretan, gambar-gambar, tumpang-tindih, dan kotor oleh pengaruh eksternal; dogma, doktrin, budaya, didikan, ajaran, dll.
Kau mencoba melukis kisah hidupmu berdasarkan HARAPAN yang kau dapatkan dari lingkungan eksternalmu.

Ketika seseorang memilih jalan spiritual, kanvas itu perlahan dicuci, dibersihkan, sampai kembali seperti semula - putih, bersih, lembut dan lentur.
Bergantung dari seberapa kotor kanvasmu, seberapa keras kerak tinta dan cat yang telah mengotori kanvasmu, seberapa keras semua lapisan kotoran itu telah mengkakukan kanvasmu - semakin pedih dan menyakitkanlah proses pembersihan yang kau alami.

Proses pembersihan ini sangat alamiah dan kau tidak bisa mencegahnya bila memang kau memutuskan utuk setia di jalan Tuhan.
Setelah kanvasmu bersih dan lembut serta halus, apa yang akan kau lakukan selanjtunya? Melukis lagi?

Tidak. Kau menjaganya agar senantiasa kosong dan halus.
Hatimu telah menjadi lembut.
Hatimu bersinar oleh cahaya Tuhan.

Tidak akan lagi kau biarkan apa pun atau siapa pun menorehkan tinta mereka di atas hatimu yang putih bersih bersinar ini.
Harapan adalah tinta hitam yang mengotori hatimu.
Maka sudah kau kosongkan semua harapanmu.

Hatimu kini telah menjadi sebuah kuil suci yang hanya dihuni oleh cahaya Tuhan.
Selamanya akan seperti itu.
Kau biarkan Tuhan yang memandu jalan hidupmu.
Kau hanyalah jasad sebagai wadah hadirnya Tuhan di muka bumi.
Kau hidup karena Dia hidup.
Kau bergerak karena Dia yang mengggerakkanmu.
Kau ada karena Dia ada.
Keberadaanmu adalah rahmat bagi semesta alam.

Tiada yang lebih penting dari hubungan langsungmu dengan Tuhan.








~ Collection of other Articles, Stories & Quotes ~





Jodoh

Banyak yang bertanya kepada saya hal-hal menyangkut jodoh.
Saya kelompokkan pertanyaan-pertanyan mereka sbb:
  • Kapan ketemu jodoh?
  • Apakah dia jodoh saya?
  • Apa tandanya kalau dia jodoh saya?
  • Saya sudah usia segini tapi belum bertemu jodoh.
  • Orang tua saya meminta saya segera cari jodoh karena usia saya sudah cukup dan takut terlambat.
  • Saya dijodohkan oleh orang tua saya. 

Sekarang akan saya beritahu bahwa pertanyaan-pertanyaan tsb tidak bisa saya jawab. Mengapa demkian?
Begini saya jelaskan sedikit;
Saya tidak percaya dengan jodoh seperti yang dipahami kebanyakan orang.
Yang saya amati di masyarakat, mereka mendefinisikan jodoh dengan ego mereka. Mereka memberikan tenggat waktu sehingga cenderung harus bersegera menikah, sehingga mereka cenderung menikahi siapa pun yang ada saat itu.

Mereka merasa pernikahan adalah sebuah tujuan hidup utama. Menikah adalah segala-galanya. Dan itu harus dicapai di usia tertentu.

Bagi saya semua itu keliru, bahkan jadi lucu dan konyol.
Saya merasa iba terhadap mereka yang belum paham.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang tidak patut dipertanyakan karena hal yang dipertanyaan adalah sebuah konsep yang salah.

Sama saja dengan menanyakan, "Mengapa 1+1 = 3?"
Pertanyaannya saja sudah salah. Karena 1+1 = 2, bukan =3. Maka tidak ada jawaban untuk pertayaan itu.

Jodoh tidak mengenal tempat. Pasangan hidupmu bisa di sini, di kota lain, di negara lain, di mana saja.
Jodoh tidak mengenal waktu. Pasangan hidupmu bisa ketemu besok, bisa 10 tahun lagi, bisa 20 tahun lagi. Bukan manusia yang menentukan waktunya.
Jodoh tidak mengenal budaya. Pasangan hidupmu bisa tidak satu suku denganmu.
Jodoh tidak mengenal agama. Pasangan hidupmu bisa dari agama manapun.
Jodoh tidak ditentukan oleh manusia. Orang tuamu atau masyarakat tidak bisa memaksamu untuk bersegera menikah. Urusanmu ya urusanmu sendiri, bukan urusan orang-tuamu.

Jadi saya simpulkan;
"Jodoh" yang berlaku di masyarakat tidak alamiah, melainkan buatan manusia. Buatan manusia bukanlah kebenaran hakiki.
Bila pun tidak menikah, maka itu juga bukan hal yang buruk. Mengapa harus menikah?
Yang kau inginkan belum tentu yang sesuai untukmu.
Pahamilah kebenaran hakiki, bukan kebenaran buatan manusia.
Yang terbaik adalah yang SESUAI untukmu. Dan itu muncul secara alamiah. Tidak dipaksakan.
Dan kalau ingin pertanyaan kalian mendapatkan jawaban dari saya, bertanyalah akan sesuatu yang benar.






Pernikahan

Ini juga topik yang sangat sering ditanyakan ke saya. Saya akan tegaskan satu prinsip ini:
Pernikahan bukanlah menyatukan dua manusia. Pernikahan adalah dua manusia yang sama sekali berbeda kepribadian tinggal di satu rumah.

Setiap manusia adalah unik. Tidak ada manusia yang sama. Jadi sepasang suami-istri tidak akan pernah bisa menjadi satu manusia. Keduanya akan selalu berbeda.
Masing-masing punya hobi yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, pandangan hidup yang berbeda, PRINSIP hidup berbeda, budaya berbeda, dll, dll.

Jika salah satu memaksakan agar mengikuti satu prinsip, maka pernikahan hanya akan menjadi PENJARA bagi mereka.
Banyak yang mengeluh ke saya karena mereka menjadi orang yang berbeda setelah menikah. Mereka malah lebih banyak mengorbankan kebahagiaan mereka setelah menikah (Hobi mereka tinggalkan, sekolah ditinggalkan, cita-cita pupus).

Pernikahan seperti ini adalah sama dengan pepatah; "keluar dari mulut buaya (orang tua) masuk ke mulut singa (suami/istri)." 

Saya ulangi prinsip ini;
Pernikahan bukanlah menyatukan dua manusia. Pernikahan adalah dua manusia yang sama sekali berbeda kepribadian tinggl di satu rumah.

Maka;
Tidak ada istilah: minum dari gelas yang sama, atau makan sepiring berdua.
Apa salahnya melakukan kegiatan sendiri-sendiri?
Apakah segala sesuatu harus dilakukan berdua?

Pernikaan seharusnya menjadi pondasi KEBEBASAN / KEMERDEKAAN mereka dari ikatan keluarga besar. Pernikahan seharusnya dapat membebaskan mereka untuk lebih lepas berkarya dan menjelajah dunia.
Pernikahan seharusnya meninggikan derajat keduanya ke tempat yang lebih tinggi.
Silakan direnungkan.

Lalu bagaiman bila sudah terjadi?
Beranikah anda mempertanyakan ini dan membicarakan ini dengan pasangan anda?
Beranikah anda menerima kebenaran hakiki? apapun resikonya?

Kalau saya; tentu YA!
Hidupmu adalah milikmu! bukan milik orang lain.
Hubunganmu dengan Tuhan adalah yang terpenting. Tidak ada yang lebih penting dari ini.







Perceraian

Yang terakhir ini adalah topik yang lebih jarang dipersoalkan kepada saya, karena mungkin ini topik yang cenderung tabu.
Tapi saya langsung ke inti dari apa yang ingin saya angkat di sini, yaitu:

Perceraian adalah peristiwa alamiah dan wajar. Bukan hal yang buruk.
Perceraian sebagai suatu yang buruk adalah stigma yang diberikan manusia. 

Apakah karena suatu kejadian "MENYAKITKAN" hatimu maka ia harus disebut kejadian buruk dan harus kamu hindari?

Apakah karena "KALAH" sudah menjadi suatu kondisi yang buruk bagimu sehingga kamu harus selalu menang?
Jika kamu tidak bisa menerima semua sisi kejadian, maka kamu tidak akan bisa memahami keseimbangan - yang hakiki.

Tuhan itu seperti dua sisi koin; ada sisi baik dan sisi buruk.
Jika kamu hanya mau menerima Tuhan di sisi yang baik saja, sedangkan menyesali kejadian yang buruk, maka kamu tidak menerima Tuhan secara utuh. Atau sering saya katakan, "Tuhanmu hanya separuh."

Jika kamu menerima dualitas - kedua sisi kehidupan secara utuh - maka terbukalah semua pintu kesempatanmu. Termasuk menang dan kalah yang bukan lagi kondisi baik atau buruk.
Begitupula dengan pernikahan dan Perceraian. Keduanya bukanlah peristiwa baik atau buruk.

Kamu harus mengakui dua kondisi itu dulu, maka semua pintu solusi akan terbuka di hadapanmu.

Lalu mungkin kamu sekarang bertanya, apakah saya menganjurkan perceraian?
Mereka yang sudah mampu menerima dua sisi kehidupan ini, justru kebanyakan malah mampu menghidupkan kembali pernikahan mereka.

Ada pula sebagian dari mereka yang memutuskan untuk bercerai, tetapi perceraian mereka justru membawa dampak positif untuk mereka sendiri.

Lucu / aneh kedengarannya? Tapi inilah kenyataannya.
Silakan direnungkan. 

Jika tidak ada celah untuk menang, maka KALAH adalah solusinya.






Tuhan Maha Besar

Kebanyakan orang memahaminya adalah bahwa Tuhan itu Besar dan yang lainnya - ciptaanNya - kita ini kecil.
Sehingga selalu ada jarak antara kita dan Tuhan.

Saya mengajak anda merenungkannya sedikit lebih lama.

“Tuhan Maha Besar” menegaskan satu hal yang mungkin jarang diperhatikan orang, yaitu Tuhan adalah Zat yang paling BESAR, maka Tuhan MELIPUTI SEMUAnya dan tidak ada ruang lagi untuk apa pun selain Tuhan.

Tuhan adalah ruang itu sendiri. Tuhan adalah ruang dimana segalanya eksis.
Jika kita menempati / membagi ruang bersama Tuhan, maka ruang itu lebih besar dari Tuhan. Ini artinya Tuhan bukan Maha Besar. Ruang-lah yang Maha Besar.

Tidak begitu kan?
Tuhan Maha Besar. Tiada yang eksis berdampingan dengan Tuhan.
Tuhan ada sendirian.
Lalu dimana kita - ciptaanNya - ini eksis?

Silakan direnungkan sendiri.
Dan simpan jawabannya untukmu sendiri.






Kisah Si Buah Apel

Coba bagikan buah apel dan bijinya kepada lima orang yang masing-masing tinggal di benua yang berbeda.

Minta mereka menanam biji itu di negaranya masing-masing.
5 tahun kemudian mereka mengirimkanmu buah-buah apel hasil dari yang mereka tanam.
Bagaimana rasanya? Apakah sama?

Tentu tidak. Mengapa?
Karena tanah, iklim, cuaca yang berbeda di setiap benua dimana biji apel itu ditanam.
Kemudian, minta mereka terus memelihara kebun apel mereka hingga turun-temurun.

Setelah 50 tahun, kira-kira apa yang terjadi?
Tidak hanya rasanya semakin berbeda, tetapi juga masing-masing tempat telah menamai buah apel mereka dengan nama-nama khas daerah masing-masing.

Cara pemeliharaan pohonnya pun berbeda. Bahkan sebagian telah mengembangkan varian baru dari apel yang sama tsb.
Lebih lagi, masing-masing berkeyakinan bahwa apel mereka adalah apel yang asli.
Keturunan generasi terakhir pun sudah lupa rasa apel yang kau berikan pertama kali kepada moyang mereka.

Seandainya saja mereka cukup sadar untuk datang langsung kepadamu untuk meminta buah apel darimu, mereka akan selalu ingat rasa apel asli.
Dan mereka tidak akan pernah melupakanmu.
Begitulah kisah si buah apel.






Saya berkata bahwa kita dan Tuhan itu satu dan tak terpisahkan.
Namun banyak yang menyanggah dan mengatakan bahwa saya salah. Tuhan itu tidak mungkin bisa satu dengan ciptaan-Nya. Karena kalau kita satu dgn Tuhan maka kita akan berlaku sebagai Tuhan. Dan kemungkinan besar akan menjadi manusia yang sombong.

Oh... di sini saya hanya bisa mengatakan, bahwa implikasi dari Penyatuan diri kita dengan Tuhan justru tidak menjadikan kita sombong. Kita akan melihat segala sesuatu dengan hati.
Karena saat itu terjadi, ego sudah kita kuasai terlebih dahulu yang membawa kita untuk menerima diri kita dan Tuhan apa adanya.

Proses penerimaan diri sendiri dan Tuhan apa adanya melalui penempaan batin yang sangat dahsyat. Peristiwa ini menjadikan kita SADAR.

Selanjutnya, akan ada cinta tanpa syarat.
Ada syukur yang tak pernah putus.
Begitu dulu.
Rasakanlah sendiri.






Kehidupan Manusia Bagai Pohon Jati

Kalau kemarau daunnya berguguran (meranggas). Pohonnya tampak kering seperti pohon mati. Padahal pohon itu hidup. Ia berhemat energi untuk bertahan dalam cuaca kering. Kalau tidak, ia akan mati kekeringan.

Saat musim hujan datang, air berlebihan, ia harus menyalurkan kelebihan air itu melalui daun-daunnya. Kalau tidak, ia pun akan mati karena tenggelam. Pohon jati itu pun tampak rimbun dan hidup.

Yang tampak mati sebenarnya hidup.
Yang tampak hidup sebenarnya sedang bekerja keras.
Sudah wajar begitulah. Alamiah adanya.
Jika sudah di atas pasti akan ke bawah.
Yang sudah di bawah, tidak ada pilihan lain selain ke atas.
Begitulah.

Lalu mengapa khawatir bila di atas?
Dan mengapa putus asa bila sedang di bawah?






Please Help Me to Help You

Di dunia pekerjaan, saya sering bernegosiasi.
Sering saya menggunakan kalimat andalan saya ini;

"Please help me to help you..."
(Bantulah saya untuk membantumu.)

Maknanya:
Anda harus berbuat sesuatu terlebih dulu sebelum saya bisa memberikan yang anda mau.

Contoh:
Saya memiliki produk yang dibutuhkan oleh perusahaan anda. Tetapi produk ini masih baru dan belum ada pembelinya, sehingga saya tidak memiliki portofolio yang bisa saya tunjukkan kepada anda.
Maka, anda harus menolong saya dengan menjadi yang pertama membeli produk ini.

Contoh lain:
Anda ingin membeli rumah saya. Tetapi rumah saya digadaikan di bank. Maka anda harus melunasi sisa hutang saya di bank, baru saya akan bisa menjual rumah saya kepada anda.

----------
Dan ternyata kalimat itu adalah hukum alam. Alamiah.
Kau berdoa kepada Tuhan siang-malam, berharap doamu terkabul.
Tuhan berkata, "Bantulah Aku agar Aku dapat membantumu!"

Maksudnya;
Berbuatlah sesuatu terlebih dulu, agar apa yang kau inginkan itu dapat diberikan oleh Tuhan.
Hukum alam adalah hukum Tuhan, tetap dan kekal adanya.
Tanpa usaha, tidak akan ada yang terjadi.
Ingin sesuatu, berusahalah. Gunakan hukum Tuhan untuk mewujudkannya.
Please help me to help you.






Tidak Ada Pilihan

Dulu kamu bingung, merasa hidup ini berat karena banyaknya tuntutan eksternal yang menekanmu. Harus gini, harus gitu... sampai akhirnya kamu tidak tahan lagi.
Kemudian kamu datang padaku untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar dari kebingunganmu.
Perlahan, kau pun memahami. Masalah utamamu adalah kemelekatan.

Setelah bebas dari kemelekatan, kamu merasa ringan, damai, dan bahagia. Dan kesempatan, peluang tanpa batas membentang di hadapanmu.
Tapi kemudian kini kamu menemukan situasi yang membuatmu bingung kembali.
Karena yang tadinya kau membayangkan bentangan pilihan tanpa batas, ternyata tidak demikian adanya.

Yang tadinya kau bayangkan semua pintu-pintu terbuka di hadapanmu, ternyata tidak. Karena memang tidak pernah ada pintu yang membatasimu.
Kini hidup tidak menawarkan pilihan padamu.
Satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah BAHAGIA.
Tidak ada pilihan lain.






Apa itu dewasa?

Jika dewasa adalah mengurung dirimu dalam sebuah ikatan pernikahan karena menurut orang tuamu kamu harus menikah dan berkeluarga,
Jika dewasa adalah meninggalkan hobimu karena hal itu hanyalah menyia-nyiakan waktumu dan kamu harus mengerjakan hal lain yang kata orang harusnya kau kerjakan,
Jika dewasa adalah berhenti bermain dengan teman-temanmu karena mereka berkata kamu harus serius dalam menjalani hidupmu dan tidak selalu bersenang-senang,
Jika dewasa adalah penjagaan citra agar dianggap baik oleh orang lain dan warga masyarakat,
Jika dewasa adalah merubah gaya bicaramu menjadi mirip ayahmu,
Jika dewasa adalah berubah menjadi orang lain dan bukan menjadi diri sejatimu,

Maka aku tidak pernah dewasa.
Aku adalah bocah kecil yang riang gembira.
Selamanya.






Apa itu masalah?

Masalah adalah bila sesuatu yang terjadi tidak sesuai harapanmu.
Dan harapanmu dikendalikan oleh Ego-mu.
Jarang ada (baca: hampir tidak ada) harapan murni yang bukan karena ego.
Maka, ya jangan berharap apa-apa. Nikmati saja hidup ini, baik gunung dan lembahnya.
Hidupmu tidak ada pilihan. Yang ada hanya bahagia dan bersyukur. Tidak ada kesempatan untuk menduga-duga dan memberi kesempatan ego-mu untuk berharap.






The Light Within

Spiritualitas menjadikanmu sebatang lilin yang menyala di tengah ruang gelap gulita.
Banyak kumbang datang mendekat.

Sebagian menikmati cahayamu dari jarak cukup. Sebagian lain mati karena tak kuat. Ada pula yang berusaha memadamkanmu karena mereka merasa terusik oleh cahayamu.

Cahayamu adalah cahaya illahi abadi yang tak kan padam, menerangi ke seluruh penjuru alam.






Burung punya sayap dan bisa terbang. Tapi kalau terbang terus ya bisa lelah juga.
Oleh karna itu burung juga punya kaki, untuk hinggap, istirahat dulu bentar... Sempurna.






Life asked Death, “Why people like me more than you?
Death replied, “Because you are a beautiful lie and I am the painful truth.”
----------
Kehidupan bertanya kepada Kematian, “Mengapa manusia lebih menyukaiku ketimbang kamu?”
Kematian menjawab, “Karena kau adalah kebohongan yang cantik, sedangkan aku adalah kebenaran yang menyakitkan.”






The message I convey makes you suffer. Why do you still accepting it?
Because I would rather know the painful truth than a comforting lie.
----------
Pesan yang kusampaikan membuatmu menderita. Mengapa kau tetap menerimanya?
Karena aku memilih untuk mengetahui sakitnya pesan kebenaran ketimbang nyamannya pesan kebohongan.






A single flower is better than a bucket.
Because it shows how much you care for me, picking up the best one out of many ordinary.
----------
Sekuntum bunga lebih baik dari seikat.
Karena itu menunjukkan betapa kau perduli padaku, memilih satu yang terbaik dari sekumpulan yang biasa saja.






Ulat bertanya kepada kupu-kupu yang sedang terbang di angkasa,"Hai Kupu-kupu, ada apa di atas sana?"
Kupu-kupu: "Tidak ada apa-apa, hanya ruang kosong yang tak tampak ujungnya."
Ulat: "Oh... sungguh tidak menarik dan membosankan, ya..."

----------
Orang bertanya kepada saya, "Apa yang anda dapatkan setelah puluhan tahun bertualang menjelajahi hidup?"
Saya: "Tidak ada apa-apa, hanya ada kelapangan,"
Penanya: "Oh hanya begitu…"






Kau bertanya padaku bagaimana perjalanan spiritual itu.
Aku menjawab; biasa saja. Aku tak ingin kau merasa takut akan apa yang akan kau alami di perjalananmu.

Kau bertanya, apa yang aku temui dalam pencapaianku.
Aku menjawab; sesuatu yang sesuai untukku. Aku tak ingin kau menyerah di tengah jalan.

Kau bertanya, apa yang aku lihat di atas sana.
Aku menjawab; sesuatu yang tak terlukiskan. Aku tak ingin kau mendapatkan gambaran Tuhan dariku dan menyesatkanmu.

Kau bertanya kembali dan ini adalah yang terakhir; Bagaimana rasaku bersama Tuhan?
Aku tidak menjawabmu. Karena aku pasti akan merasa sangat cemburu.






Kepedihan berbalut Kenikmatan atau Kenikmatan berbalut Kepedihan?
Di balik setiap pedih, ada nikmat.
Di balik setiap nikmat ada pedih.
Di balik setiap derita ada bahagia.
Di balik setiap bahagia ada derita.

Mengapa kau sambut kebahagiaan tanpa menyambut penderitaan?
Mengapa kau tolak penderitaan tanpa menolak kebahagiaan?
Semakin besar badai, semakin cerah cuaca setelahnya.

Gunung indah juga berbahaya.
Lembah berbahaya juga indah.

Apakah kau hanya mampu menjadi pengamat dunia atau menjalani hidup duniamu dengan menerima gunung dan lembahnya?







"Jika ingin saya memberikan jawaban atas pertanyaanmu, ajukanlah pertanyaan yang benar."

Sebenarnya prinsip ini saya dapat dari alam.

"Jika ingin alam bereaksi terhadap pertanyaanmu, ajukanlah pertanyaan yang benar."

Jika pertanyaanmu saja salah, maka pertanyaanmu tidak relevan. Jawabannya juga tidak akan ada. Jika ingin Tuhan menjawab keinginanmu, Pertanyaanmu / keinginanmu harus benar dulu.
Oleh karena itu sangat penting memahami kebenaran hakiki - yaitu kebenaran yang mutlak - yang sesuai / sepaham dengan alam dan Tuhan.
Silakan direnungkan






Kepahaman akan kebenaran yang hakiki, atau biasa saya sebut dengan KEPAHAMAN, tidak bisa dipahami dgn menggunakan ego.

Resapi perlahan. Resapi dgn hati.
Rasakan perlahan hatimu yang berbicara.
Sentuh dadamu dan syukuri setiap nikmat hidup ini dari yang paling kecil. Nafasmu adalah satu contoh kecil dari karunia Tuhan.

Hiduplah selalu di dalam hatimu. Bergeraklah di hidup ini dengan selalu berada di dalam hatimu.
Jangan terburu2 menyimpulkan sesuatu (persepsi). Nikmati saja setiap langkah.
Pasrah total.

Tanyakan apa mau Tuhan melalui dirimu.
Biasanya ego yang akan bereaksi pertama kali. Rasa bangga, rasa angkuh, rasa paling benar, biarkan ego itu diam dulu.

Tuhan selalu berbisik, bukan berteriak. Bisikannya sangat halus dan hampir tak terasa. Berlatihlah merasakan bisikan halus itu.
Konflik antara dirimu dan ego akan berlangsung sepanjang hidup. Tapi perlahan pasti ego bisa ditekan, dikuasai.

KEPAHAMAN adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada kata lulus.
Syukuri setiap kejadian.
Terima Tuhan apa adanya.

KEPAHAMAN akan mendatangkan rasa damai. Jika bukan damai yang kau rasakan, maka kepahamanmu belum lengkap / sempurna.

Tiada Tuhan selain Tuhan.
Damai... damai... damai.






Gelap itu identik dengan kengerian?
Tidak. Bagi saya gelap itu misterius, keheningan, sisi lain kehidupan yang sama dengan terang.

Musibah itu identik dengan kesedihan?
Tidak. bagi saya musibah adalah waktunya kontemplasi, sisi lai kehidupan yang sama baiknya dgn lainnya.

Sendiri itu identik dengan sepi mencekam?
Tidak. Bagi saya sendirian adalah esensi dari keberadaan kita.

Hei, mengapa kau selalu melihat segala sesuatu terpisah-pisah dalam dualitasnya?
Bisakah kau berada di tengah bersama saya dan menikmati alam yang indah ini apa adanya?

Kamu tidak akan memahami yang terang tanpa yang gelap.
Kamu tidak akan menghargai kebahagiaan tanpa pernah merasakan kesedihan.






Kebaikan dan kebenaran memuat energi yang sangat besar karena dihasilkan di tingkat kesadaran tinggi.
Prinsipnya adalah, kesadaran tinggi PASTI mengalahkan kesadaran yang lebih rendah.

Kesadaran rendah pasti selalu berada di dalam kesadaran yang tinggi, sehingga tidak akan bisa kesadaran rendah mengalahkan kesadaran tinggi.
Hanya saja kesadaran tinggi perlu waktu lebih lama untuk terbuktinya.

Dengan demikian;
Yang baik akan selalu baik. Walaupun berada di tengah2 kebururukan.
Yang benar akan selau benar. Walaupun semua orang mengatakan salah.
Janganlah pernah khawatir atau takut untuk selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan.






Logika illahiah

Manusia yang berada di tingkat kesadaran rendah melihat hidup dari sudut pandang terbatas. Sehingga terbatas pula pilihan dan peluang yang mampu mereka sadari.
Tetapi mereka mendambakan terbuka seluas-luasnya pilihan dan peluang dalam kehidupan mereka.

Manusia yang berada di tingkat kesadaran tinggi memandang hidup tanpa batasan, sehingga tak berbatas pula pilihan serta peluang yang mereka sadari.
TetapI mereka tidak mendambakan apa-apa. Mereka tidak lagi perlu mendapatkan sesuatu lebih dari sekedar yang mereka butuhkan saja.

----------
Yang sekarang mempengaruhi masa depan?
Salah, masa depan-lah yang mempengaruhi / menentukan yang sekarang.






Mana yang lebih berani melangkah; orang normal atau orang buta?
Jawab: Orang buta.

Karena dia sudah buta, sekalian saja melangkah... apa resikonya selain kesandung
Sedangkan orang normal, banyak yang dia lihat sebagai resiko, banyak pertimbangan.

—-
Mana yang lebih tinggi melompat; burung yang sedang terbang, atau burung yang sedang di bawah - di atas tanah?
Jawab: Burung yang di atas tanah.

Karena landasan yang keras di bawah kakinya menjadi tempat pijakan utk melompat tinggi. Sedangkan burung yang sedang terbang tentu tidak bisa melompat tanpa pijakan.

—-
Kekuranganmu adalah keberanianmu.
Orang kadang harus kehilangan / kepepet / keluar dari kondisi nyaman dulu untuk bisa lebih berani bertindak.

Kejatuhanmu adalah landasan pijakanmu.
Orang kadang harus merasakan jatuh dan terhempas di tempat yang keras dulu agar bisa menjadi seorang yang jauh lebih kuat untuk bangkit.






Bagaimana rasanya bila rencana dan usaha yang sudah kau lakukan selama bertahun-tahun ini, dengan penuh kesungguhan dan dengan telah mempertaruhkan segalanya, ternyata gagal?

Bagai ditampar.
Bukan oleh manusia, tetapi ditampar oleh Tuhan.
Saking dahsyat tamparannya hingga kedua bola mataku lepas dari soketnya, jatuh hancur, dan aku buta untuk selamanya.

Sejak itu aku hanya bisa melihat dengan mata hatiku.
Dan ternyata Kau selalu senyum padaku.
Ya Tuhan, terima kasih telah menamparku.
Aku bersyukur atas kegagalanku.

Karena aku buta,
Langkahku ringan, bebas dan berani.

Karena aku buta,
Aku melihat segala yang tak tampak.
Aku melihat lebih banyak.

Karena aku buta,
Aku melihat-Mu.






Seumur hidup kau menantikan Tuhan hadir di dunia untuk membawa kedamaian untuk semua makhkuk.

Dia sudah hadir.
Dia mewujud dalam dirimu, wahai saudaraku.
Kaulah rahmat bagi semua makhluk.
Kaulah yang datang membawa damai di dunia.
Kaulah yang pengasih dan penyayang.
Terangilah alam dengan cahayamu.






Jika mereka mengajarkan pencak silat dengan jurus-jurusnya yang membuatmu menjadi manusia super, Saya mengajarkan diam.






Kebanyakan orang hanya mendengar apa yang ego mereka ingin dengar.
Jika yang didengarnya cocok, mereka gembira dan mengatakan itu benar.
Jika tidak cocok, mereka abaikan, atau merasa bingung, lalu mencari pembenaran lain.
Mereka adalah orang-orang yang kebingungan.






The Moment of creation is NOT from nothing to something. BUT it is from Everything to Something. Literally.
-----
Peristiwa penciptaan BUKANlah dari Ketiadaan menjadi Sesuatu. Tetapi secara harfiah, adalah dari SEGALANYA menjadi Sesuatu / Ke-ada-an.






Menjadi seorang yang spiritual adalah menjadi manusia yang BEBAS MERDEKA.
Yaitu merdeka dari KEMELEKATAN terhadap APA PUN.
Karena kemelekatan adalah penjara jiwamu.
Bila seorang mengajarkanmu spirtualitas dengan memintamu melakukan suatu ritual tertentu tanpa KEPAHAMAN, maka itu bukanlah jalan spiritual.





Ada ranah yang berisi pengetahuan illahi yang biasa disebut sebagai Akasha, The Hall of Records, Lauh Mahfuz, dan lainnya apa pun sebutannya, yang pasti bukan tertulis dalam bahasa manusia.
Keberadannya bukan di langit. Tapi di dalam dirimu sendiri, dipagari - dijaga ketat oleh egomu.
Dan hanya dapat dibaca dengan rasa, setelah kau menaklukkan egomu.






Jika bukan jiwaku yang berkata, maka tiada kata terucap dari mulutku.
Jika bukan hatiku yang bercerita, maka tiada kisah tertoreh melalui jemariku.
Jika bukan Tuhan yang menggerakkanku, maka aku hanya berdiam diri.
Jika bukan kau yang memanggilku, maka tiada aku menolehkan kepalaku.
Jika bukan suaramu yang kudengar, maka tiada yang kusenandungkan.
Aku adalah ruhku yang berucap, menulis, bergerak, menyahut, dan bernyanyi.
Aku ada karenamu.
Dapatkah kau merasakanku?




Aku tetap bertiup walau kau tidak merasakan hembusanku.
Kau hanya merasa yang nyata bagimu.
Aku tetap berbisik walau kau tidak mendengarku.
Kau hanya mendengar yang nyaring bagimu.
Sampai akhirku.




Kau ada, tak ada yang melihatmu.
Kau berbicara, tak ada yang mendengarkanmu.
Kini aku memahami yang kau alami.
Aku merasakanmu.
Kau dan aku adalah bunga teratai yang sendirian.




There should be NOTHING standing between you and God.
But you let them stand anyway. And you don’t know why.
I feel sorry for you.
----------
Seharusnya tiada yang berada di antara dirimu dan Tuhan.
Tetapi kau tetap membiarkan mereka berada di antara dirimu dan Tuhan. Dan kau tidak tau mengapa.
Aku merasa kasihan padamu.




Do you know why I sing?
Because then I can hear how much you love me.
Do you know why I write?
Because then I can read how much you care for me.
Do you know why I contemplate?
Because then I can feel you and talk to you.
You are everything to me.
You make me fall in love all over again.

----------
Kau tahu mengapa aku bernyanyi?
Karena dengan begitu aku dapat mendengarkan betapa kau mencintaiku.
Kau tahu mengapa aku menulis?
Karena dengan begitu aku dapat membaca betapa kau perduli padaku. 
Kau tahu mengapa aku merenung?
Karena dengan begitu aku dapat merasakanmu dan berbicara padamu.
Kau adalah segalanya bagiku.
Kau membuatku jatuh cinta lagi.




Kau marah padaku, Aku tersenyum padamu.
Kau tampar pipi kiriku, Kubelai pipi kananmu.
Kau berteriak padaku, Aku berbisik lembut padamu.
Kau hardik aku, Ku sapa kau dengan kasihku.
Kau benci aku, Aku mencintaimu.
Kau bertanya mengapa aku begitu.
Aku jawab, karena hanya itulah warisanku.




The true me is in my writings.
Know me through my stories.
-----
Diriku yang sesungguhnya ada di dalam tulisanku.
Kenalilah aku melalui kisah-kisahku.




Kau hadir nyata setiap kali aku menulis.
Itulah sebabnya aku terus menulis agar selalu merasakan kehadiran-Mu.

Kau hadir di saat mataku terpejam.
Itulah sebabnya aku memejamkan mataku untuk selalu dapat melihat-Mu.




Setiap hembusan angin adalah bisikan-Nya,
Setiap tetes air adalah ucapan-Nya.
Setiap kilau cahaya adalah perkataan-Nya.
Matahari, bulan, hujan, kicau burung, ayunan pohon, goyangan rumput.... adalah teguran-Nya.
Ya Tuhan.. Kau tidak hanya manja, tapi juga cerewet sekali.
Terima kasih selalu menamaniku di setiap nafasku.




Kau tidak pernah bersembunyi, tetapi Kau menanti untuk ditemukan.
Kau adalah Sang Agung berparas cantik tersenyum malu dibalik cadar yang menutupi wajahmu.
Menemukan-Mu adalah suatu peristiwa yang tak terlukiskan.




Tuhan berbicara dalam bahasa rasa.
Berdialog dengan Tuhan, artinya kau merasakan Dia, dan kau merasakan apa yang Dia rasakan terhadapmu.




Pagi yang penuh cinta.
Dia menyambutku kembali dengan kerinduan-Nya.
Kau membawa cahaya Tuhan kemana pun kau pergi.
Dimana kau berpijak, di situ bumi bersinar.




Tuhan tidak terbelenggu ruang dan waktu.
Kalau Dia mengabulkan sesuatu untukmu, tempat dan waktunya saja yang tidak sesuai harapanmu.




Yang baik akan selalu baik. Yang benar akan selalu benar.
Hanya butuh butuh waktu untuk terbuktinya.
Karena yang baik dan benar energinya lebih besar.




Raja yang tak punya.
Pengemis yang kaya raya.
Guru yang bodoh.
Arif bijaksana namun tak berbicara.
Berhati mulia namun sederhana.
Memberi tanpa menerima.
Mencinta tanpa mengenal.
Temui aku di antara baik dan buruk, di antara benar dan salah.




Ucapanku bagai kiasan di telingamu.
Kebenaranku terselubung berlapis kebohongan.
Hanya hati yang murni yang mampu menembus kias ucapanku.
Hanya runtuhnya egomu yang mampu menemukan kebenaranku.
Temui aku di antara baik dan buruk.
Temui aku di antara benar dan salah.




Saat aku dekatmu,
Keluh dan aku jauh, Pedih rela ku tempuh
Hidup, mati, adalah air yang membasuh

Pejam mata buta menatap, tuli telinga mendengar
Bisu mulut berbicara, pincang kaki menari

Senyum simpulku untukmu.
Titik tangis bahagiaku untukmu.
Jauh di pandang, dekat dekap di hati.
Telapak membuka menadah rindu.




Before you set your mind, set your heart first.
Heartset before mindset.
Only after your mind is in sync with your heart, you can appreciate your life better.




Ya Tuhan, tutuplah pintu surga dan pintu neraka-Mu,
agar kami bisa mengenal-Mu secara utuh apa adanya.




Bukan ibadahmu, bukan pahalamu, bukan kejahatanmu, bukan dosamu, tapi hanya hati yang lebih ringan dari bulu, yang bisa melewati rambut dibelah tujuh.




Sederhana, apa adanya,
tanpa ego, tulus, murni, tanpa bias, tanpa kias.
Begitulah aku di dekatmu.




Aku ingat peristiwa,
Di saat aku mengakui,
Duniaku hancur luluh karena megahnya kasih. 
Dadaku terbelah dengan ketajaman cinta.
Kau menunjukkan diri sejati.
Gerbang hati membuka menyambut kehadiran.
Dirimu yang sejatinya, aku.




Semakin banyak kau berdiam diri, semakin banyak yang kau pahami.




Kemuliaanmu akan dikenang selamanya. Walaupun setelah kau tiada.




If you can appreciate something, then you learn something.




Kesadaran rendah melihat hanya yang mereka ingin lihat.
Kesadaran Tinggi, melihat segala sesuatu apa adanya.




Jika kau bisa menerima rasa sakit, tiada yang bisa menyakitimu.
Jika kau bisa menerima penderitaan, tiada yang dapat membuatmu menderita.
Jika kau bisa menerima kegagalan, tiada yang dapat membuatmu gagal.




Jangan bersaing dengan manusia.
Bersainglah dengan Tuhan.




Air yang diam akan menjadi sarang nyamuk, kotor, dan berbau busuk.
Jadilah air yang mengalir.




Do you know how to make your life miserable?
Include money and expectation in it.




Dimanapun kau berpijak, di situ bumi menjadi keramat.




Ingin sesuatu? Berhentilah meminta.
Tuhan mendengar rasamu, bukan pintamu.
Di saat kau meminta pada Tuhan, hilanglah kebebasanmu.




Kemanapun kau menghadap, ada bayangku.
Temui aku dalam sepimu.




In my darkest days, I can feel happiness and courage.
Darkness then is an illusion.




If you decide to open your heart, you must accept everything!




I found God in every essence of life. Not in dogmas.




Tuhan menjadi lebih dekat setelah kau meniadakan surga dan neraka.




Saat kau nyatakan cinta-Mu padaku, aku terlahir kembali.





Failure is part of the plan. You cannot feel successful without knowing failure.




Kedamaian yang dibangun di atas kepahaman semu, adalah bagaikan membangun rumah di atas lumpur.




The road to hell is as difficult as the road to heaven.







~ Erianto Rachman ~

Tidak ada komentar: