Sabtu, 02 September 2017

Conversations of The Mystics: Book 2





Percakapan antara seorang guru dan muridnya, si Om dan si Dul, Jilid ke-2.



Ransel Berat

(Suatu hari Dul melihat beberapa orang dari kampung bawah naik ke atas gunung untuk berguru dengan si Om. Tampak orang-orang itu membawa tas ransel yang besar dan berat, sambil tertatih-tatih berusaha menaiki jalan yang terjal.

Dul menceritakan apa yang dilihatnya itu kepada Om.)

"Mereka tidak akan bisa sampai ke sini, Dul. Tolong beritahu mereka untuk pulang saja."

"Tapi mereka tampak bersungguh-sungguh, Om."

"Kalau mereka bersungguh-sungguh, mereka akan ke sini TANPA membawa apa-apa.
Nah... nah.. tuuh... kan.. pada jatuh gelundungan deh…!"



--------------------
Pesan:

Perjalanan spiritual dilakukan dengan meninggalkan semua kemelekatan duniawi, pasrah dan berserah diri secara total.








Cangkir Kosong

"Dul, jika kamu mau minta air teh dari saya, apa yang kamu lakukan?"

"Saya akan menyodorkan cangkir saya ke Om, dan minta diisikan dengan air teh."

"Cangkir yang kamu sodorkan itu apakah ada isinya atau kosong?"

"Ya kosong lah Om, kalau penuh, mana bisa diisi dengan teh?! Dan kalau masih ada isinya separuh, maka rasanya akan bercampur dan saya tidak bisa menikmati teh murni dari Om itu."

“Bagus!"



--------------------
Pesan:

Pembelajaran ilmu spiritual harus dimulai dalam kondisi pengetahuan pelajar yang kosong. Pengetahuan yang pernah didapat harus dikesampingkan terlebih dulu sebelum menerima ilmu yang baru.








Kasihan

"Dul, kalau kamu melihat ada orang cacat, mengemis di jalanan, apa yang kamu rasakan?"

"Kasihan."

"Kalau kamu melihat ada orang yang jahat, menyiksa anaknya sendiri, apa yang kamu rasakan?"

"Kasihan."

"Kalau ada orang yang berbuat jahat padamu dan menyakitimu, apa yang kamu rasakan?"

"Kasihan."

(Si Om terseyum bahagia sekaligus haru kepada si Dul.)



--------------------
Pesan:

Emosi atau rasa terrendah tapi tidak terlalu terlalu rendah yang bersifat merusak, yang boleh dimiliki seorang pelaku spiritual adalah; Kasihan.








Segelas Air

"Dul, tolong bawakan saya segelas air."

(Dul mengambil air di dalam gelas dan memberikannya ke si Om.)

"Setiap kali kau membawakan air untukku di dalam gelas, kau selalu mengisi air hanya sebanyak 3/4 gelas. Mengapa begitu, Dul?"

"Karena, kalau penuh nanti air tumpah saat di bawa."

"Bagus, Dul!"

"Mohon dijelaskan, Om"

"Ilmu tidak dapat diterima sekaligus. Sekiranya sudah hampir penuh, kamu harus selalu membesarkan ukuran hatimu sebelum siap diisi lagi.
Mengapa tidak boleh penuh? Karena Ilmu itu akan terbuang sebelum kamu bisa memahaminya dan mengamalkannya.
Sisakanlah ruang kosong untuk passion, mimpi, cita-cita dan motivasi untuk mengamalkan ilmu yang sudah diterima.
Pengamalan ilmu dan pengalaman hidup akan membesarkan ukuran hatimu. Kemudian kau bisa mengisinya lagi."



--------------------
Pesan:

Ilmu kepahaman harus diimbangi dengan pengalaman nyata. Tanpa mengalaminya sendiri, seorang tidak akan mencapai kepahaman sempurna.








Semangka

"Dul, ini saya bawakan buah semangka untukmu."

"Wah, terima kasih, Om! Akan saya kupas segera dan kita makan bersama!"

"Mengapa harus kau kupas dulu, Dul?"

"Kulitnya kan tidak bisa dimakan, Om! Keras dan pahit."

"Benar, Dul. Sesuatu yang nikmat dan baik biasanya tertutup oleh kulit yang keras, tebal, pahit, ada pula yang tajam.
Begitu pula dengan kehidupan, harus diusahakan.
Begitu pula dengan ilmu, harus diperjuangkan.”



--------------------
Pesan:

Hidup yang kita jalani adalah bagaikan kulit luar dari buah, yang bila dikupas akan kita dapatkan isi buah yang sesungguhnya, manis, segar, dan membahagiakan. Mengupas kulit buah dilakukan dengan mencapai kepahaman menyeluruh mengenai kehidupan ini dengan pikiran dan hati terbuka bebas tanpa belenggu apa pun.







Memancing

"Om mau kemana?"

"Kalau saya bawa joran begini, maka saya mau apa...?"

"Mancing ikan."

"Bener."

"Tapi Om juga bawa buku tuh! Jadi Om mau mancing sambil baca buku?"

"Saya mau baca buku sambil mancing."

"Oh gitu... si Om bisa aja... saya mau ikut ya..."

"Boleh, bawa sendiri joranmu!"

"Engga, saya bawa buku aja."

"... ... …"



--------------------
Pesan:

Di hidup ini, yang terpenting adalah kepahaman. Pencapaian kepahaman adalah dengan belajar. Setiap bentuk aktivitas kehidupan adalah sebentuk pelajaran.










Kopi Pahit

(Sruput... sruput... hmmm... enak...)

"Nikmat banget minum kopinya, Om?"

"Kopi itu nikmatnya ya begini, murni tanpa gula, diminum panas-panas, di pagi hari."

"Kopi pahit itu engga enak lah, Om!"

"Jadi yang enak menurutmu yang bagaimana, Dul?"

"Kalau saya, kopi pakai gula, dan susu. Itu baru ennnaaakk."

"Lah... kopi pahit kamu jadikan manis. Dan rasanya pun kamu rubah dengan susu.
Warnanya yang hitam kamu jadikan putih. Terus kopinya yang mana?
Kamu itu kok sukanya ngerusak yang murni.
Diajarin ngawur sama siapa sih kamu, Dul?"

"Itu Om... saya dapetnya waktu nongkrong di warung di kampung bawah situ..."

"Ooo... pantes kamu jadi ngawur gitu.
Kalo di atas sini kamu hanya dapat kopi pahit, Dul.”



--------------------
Pesan:

Kebenaran yang hakiki dicapai / dipahami dengan menerima kebenaran itu sendiri apa adanya. Tanpa syarat, tanda dualitas, tanpa tuntutan, tanpa pilihan, dan tanpa persepsi apa pun.







Sejajar

"Dul, mari kita sembahyang."

"Baik, Om."

"Loh, mengapa kamu berdiri di belakang saya, Dul?"

"Kan si Om guru saya..."

"Dalam hal ini, kamu harus berdiri di samping saya, Dul. Karena saya bukan wakilmu ataupun wakil-Nya."


--------------------
Pesan:

Seorang guru yang baik tidak akan berdiri di antara murid dan ilmu yang diajarkannya.
Yang benar akan selalu benar.








Buku Kosong

"Dul, hari ini kamu genap 2 tahun bersama saya. Ini saya beri hadiah untukmu."

"Wah.... terima kasih, Om!
Tapi, kok Om ngasih saya buku kosong?"

"Kamu sudah banyak membaca buku yang isinya kisah orang lain.
Sekarang sudah waktunya kamu mulai menulis kisahmu sendiri."


--------------------
Pesan:

Sebaik-baiknya kabar adalah kabar yang didengar sendiri.
Sebaik-baiknya ilmu, adalah ilmu yang sudah dirasakan dan dialami sendiri.
Kepahaman sempurna di dapat dari ilmu dan pengalaman.








Kesepian

"Tinggal di pondok Om ini, apakah tidak merasa kesepian? Tidak ada TV, radio,...?"

"Kamu kesepian, Dul?
Sini ikut saya..."

(Mereka ke luar rumah menuju halaman hijau luas dengan pepohonan rimbun. Terasa angin bertiup membawa aroma tanah dan tanaman. Terdengar sayup kicau burung dan derik serangga. Awan berarak di angkasa yang biru.
Sesekali diselingi teriakan riang anak-anak bermain dan obrolan bebas penduduk kampung.)

"Lihat, dengarkan, dan rasakan.
Saat malam tiba, suatu hari nanti kau pun dapat tertawa mendengarkan bintang dan bulan bercanda.”


--------------------
Pesan:

Kegiatan yang bersifat duniawi dapat membutakan dan menulikan manusia terhadap alam. Hati menjadi buta, tuli dan bisu bila tidak dilatih untuk berkomunikasi dengan alam. Dan ini adalah hambatan untuk mencapai kepahaman spiritual.







Kebangkitan

"Om, apa itu 'awakening'?"

"Begini, Dul.... Awakening itu bangkitnya kesadaran seseorang. Seperti orang yang bangun dari tidur. Selama hidupnya ia tertidur. Hidup dalam belenggu mimpi / ilusi yang menahan kesadarannya. Sampai suatu hari ia terbangun / bangkit dari tidurnya, merasakan kebebasan yang sesungguhnya dan menyadari kebenaran yang hakiki."

"Oh begitu.... jadi sebaiknya kita bangunkan mereka yang masih tidur ya, Om?!"

"Jangaaaaaan...! Biarkan bangun sendiri...!
Kalau dibangunkan nanti kita yang repot!”


--------------------
Pesan:

Kebangkitan sepiritual tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan. Ia harus terjadi secara alamiah. Dan kepahaman ini tidak berkaitan dengan usia seseorang.







Kolam

"Dul, tadi saya menjatuhkan sandal jempit saya ke dalam kolam ikan itu. Tolong diambilkan ya."

"Oke Om, tapi bolehkah saya mengambilnya nanti agak siang?
Lagian Om kan belum butuh sandal itu sekarang."

"Mengapa harus nanti siang, Dul?"

"Kemarin saya mengambil gelas yang om jatuhkan ke kolam itu, pagi-pagi saya masuk ke kolam, airnya terlalu dingin, dan saya jadi bersin-bersin setelahnya."

"Hehehe... Pinter kamu, Dul.
Memang segala sesuatu itu tidak harus dikerjakan terburu-buru. Segala sesuatu akan baik bila dikerjakan dalam kondisi terbaik, dan pada waktu yang sesuai.
Segala yang sesuai pasti menghasilkan hasil terbaik.
Saya sudah siapkan benda-benda lain yang akan saya jatuhkan ke kolam itu. Tapi ternyata kamu sudah mampu memahami pelajaran ini hanya dengan dua benda saja."

"Ealah... si Om…."


--------------------
Pesan:

Pembelajaran ilmu spiritual harus dilakukan dengan tidak terburu-buru. Setiap pelajaran yang didapat, pasti akan ada kejadian yang harus dilaluinya. Tidak bisa dihindari.








Kandang Ayam

"Dul, kalau saya minta tolong kamu buatkan kandang ayam yang baru, dari bahan apa kamu akan membuatnya?"

"Hmmm.... bisa dari kayu. Mudah dan cepat."

"Tapi kan kayu akan cepat rusak, Dul?"

"Bener, Om. Kita bisa buat dari dua bahan, alasnya dan rangka dari beton, selebihnya dari kayu. Ini lebih kuat, tapi agak lebih sulit, butuh usaha lebih besar, dan lebih lama membuatnya."

"Hmmm... bagus... Dul."

"Hmmm, Om, atau kita bisa membuatnya semuanya dari beton, atapnya dari genting. Akan sangat kokoh dan kuat, Tapi membuatnya butuh usaha lebih besar dan waktu lebih lama lagi."

"Bagaimana dengan hidupmu, Dul?
Apakah kamu akan membangun hidupmu dari kayu yang lemah atau beton yang kuat?"

"Tentu dengan beton, Om! Dan mungkin dengan tambahan bahan lainnya, yang menjadikannya kuat, kokoh, megah, indah, memuaskan, membahagiakan."

"Walaupun harus memakan waktu lama?"

"Ya! Tentu saja, Om!"

"Bagus... bagus... Dul..."

"Om, saya sudah siap nih, jadi kita buat kandang ayam baru kita?"

"Siapa yang mau buat kandang ayam, Dul?
Saya kan cuma ngajak kamu ngobrol."

"Ealah... si Om…"


--------------------
Pesan:

Ketekunan, kesungguhan, keteguhan hati, totalitas, dan kesabaran adalah kunci dari hidup yang terbaik.








Bagi yang Sadar

"Ilmu spiritual akan dicari ramai orang bila ia menjanjikan kekayaan bagi yang mempelajarinya.
Begitulah Dul, yang terjadi di masyarakat kita."

"Maka, apakah orang yang sungguh-sungguh ingin mempelajari ilmu spiritual adalah mereka yang tidak lagi mencari kekayaan, Om?"

"Bukan begitu, orang yang sungguh-sungguh mempelajari spiritual adalah mereka yang ingin sadar dan ingin bangun dari tidurnya.”








Bayi Rewel

"Dul, anak bayi bila dibangunkan dari tidurnya pasti menangis. Sekarang kamu repot kan menidurkannya kembali?"

"Iya Om.... lucu sih.... gemes... jadinya saya bangunkan saja. Tapi sekarang dia tidak mau tidur lagi, malah ngajak kesana-kemari."

"Ya itu udah paketnya, gih sana ladeni dia sampai dia puas, kasih makan yang kenyang, biarkan kembali tidur dengan sedirinya.
Lain kali jangan suka usil. Kita jadi ga bisa belajar dengan tenang kan..."

"Iya om... iya…."


--------------------
Pesan:

Seorang yang tidak paham tetapi dipaksa untuk paham, akan sangat merepotkan. Hindarilah hal ini. Jangan buang waktu dan tenaga untuk mereka walau tampaknya mereka mampu mengikuti atau menawarkan manfaat untukmu.








Biji Pohon

"Dul, ini biji, kalau saya lempar ke tanah, akan tumbuh jadi pohon yang buahnya barusan kamu makan itu."

"Bener, Om. Trus kenapa, Om?"

"Buahnya lezat, pohonnya besar, dahan dan daunnya rindang, meneduhkan kita yang sekarang sedang duduk-duduk di bawahnya ini, bunganya pun indah dipandang."

"Bener Om, trus kenapa?"

"Menurut kamu, apa yang memotivasi biji ini untuk tumbuh menjadi pohon hebat yang sedang kita bicarakan ini, Dul?"

"Biji mah tumbuh, tumbuh aja, Om, ga perlu dimotivasi atau disemangati. Emang biji udah fitrahnya tumbuh jadi pohon dan berbuah."

"Ya, pinter kamu, Dul.
Sedangkan mengapa manusia perlu dimotivasi?"

"Hmmmm.... (si Dul pusing... mikir jawabannya)
Ga tau deh, Om... kenapa ya?"

"Karena apa yang dikerjakannya bukan fitrahnya. Kalau yang dikerjakannya sesuai passion-nya, ia tidak perlu disemangati, pasti tumbuh sendiri!
Gitu, Dul!”


--------------------
Pesan:

Seorang yang bekerja dengan passion, tidak perlu dimotivasi, karena ia sudah bersama Tuhan, sehingga ia akan bergerak secara alamiah bersama Tuhan.








Terpancing

"Kamu lagi mancing ikan ya Dul? Pakai umpan apa?"

"Iya Om, pakai cacing."

"Kenapa pakai cacing?"

"Karena ikan doyan cacing lah Om."

"Kalau mancing cumi pakai apa, Dul?"

"Mancingnya malam-malam, pakai lampu petromax, karena cumi doyan yang terang-terang, Om. Begitu tuh cumi pada naik ke permukaan, tinggal diciduk aja pakai jaring."

"Wah hebat... Kalau mancing udang di sungai pakai apa?"

"Pakai bekicot, Om, wah rame udang pada ngumpul. Sama deh tinggal diciduk aja pake jaring."

"Hebat ya kamu Dul, jagoan mancing..."

(Si Om pergi menjauh, duduk di bawah sebuah pohon rindang. Membaca sebuah buku sambil manggut-manggut.
Dul melihatnya, penasaran, lalu bergegas datang mendekat.)

"Ilmu baru ya Om?... ajarin saya dong Om."

"Kamu kepancing ya, Dul?”


--------------------
Pesan:

Bagi pelaku spiritual, ilmu adalah daya tarik utama di kehidupan ini.
Seorang yang mengaku pelaku spiritual yang terpaku hanya pada satu ajaran atau satu agama saja, dan tidak membuka diri seluas-luasnya atau tidak tertarik untuk mempelajari ilmu dari berbagai arah, adalah bukan pelaku spiritual yang sesungguhnya dan tidak akan mencapai pencerahan.








Pengetahuan

"Jadi kamu sudah paham ya Dul?
Manusia kebanyakan hanya akan tertarik dengan sesuatu yang dapat langsung mereka nikmati oleh tubuh fisik mereka.
Seperti ikan oleh cacing, seperti cumi oleh cahaya, seperti udang oleh bekicot.
Manusia oleh uang.
Sedangkan sebentuk ilmu atau pengetahuan yang merupakan asupan bagi tubuh non-fisik manusia, mereka tidak tertarik."

"Iya ya, Om....
Makanya di sini sepi banget ya Om...
Tapi kenapa mereka tidak tertarik dengan pengetahuan ya?"

"Nah... coba kamu jawab sendiri, Dul, mengapa kamu sendiri bisa tertarik berada di atas sini, di sini sepi, hidup dan makan sederhana seadanya?"

"Karena saya merasakan damai, Om."

"Nah, tuh kamu udah beneran paham, Dul.”


--------------------
Pesan:

Tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mendatangkan rasa damai sejati bagi manusia, selain Ilmu - kepahaman.
Ilmu kapahaman akan kebenaran yang hakiki ini bersifat universal, tidak hanya terkurung dalam satu ajaran atau agama tertentu.








Memahat

"Dul, kamu kok dari kemarin bolak-balik ngobatin jari tangan kamu sih? Ini betadine sampe pada habis begini?!"

"Jari-jari saya pada lecet-lecet, luka-luka di sana-sini nih Om.... aduh...duh...!"

"Emang kamu ngerjain apa sih Dul?"

"Mahat patung nih Om... sini deh lihat hasilnya..!"

"Waaah hebat... bagus banget Dul! Kamu emang punya bakat seni ya!"

"Hehehe... keren ya Om..!
Nggak nyangka juga hasilnya bisa bagus begini... walau jari harus luka-luka..."

"Hehehe....
Jadi kamu paham ya Dul, sesuatu yang indah, dijadikan dengan sepenuh jiwa dan pengorbanan."

"Paham, Om...
Tolong ceritakan dong bagaimana pengalaman Om sendiri? Apa yang pernah Om buat?"

"Saya menjadikan kamu, Dul!”


--------------------
Pesan:

Ilmu kepahaman / spiritual disampaikan oleh seorang guru ke muridnya; dengan kesungguhan dan kelapangan hati, dengan kesabaran, dengan cinta-kasih, dengan pengorbanan dan ketekunan yang tiada bandingannya.








Anak-Anak

"Dul, kamu lihat anak kecil bersama ibunya di sana itu?"

"Lihat, Om."

"Perhatikan, kemana pun si anak berjalan, ibunya selalu menjaga agar si anak tidak salah melangkah.
Sewaktu mau makan, dipandu agar tidak salah makan.
Setiap gerak-gerik si anak selalu mendapat penjagaan ibunya."

"Iya Om... namanya juga anak-anak. Harus banyak aturannya supaya ga salah-salah."

"Kalau si anak udah dewasa apakah masih perlu aturan-aturan itu, Dul?"

"Ya engga lah, Om, kalau sudah dewasa si anak udah tahu yang baik dan yang buruk."

"Apakah si anak yang sudah dewasa itu melakukan yang baik hanya karena patuh pada ajaran ibunya, atau karena dia sudah benar-benar paham esensinya?"

"Hmmmm... seharusnya bila seorang sudah paham esensi hidup ini, maka ia secara naluriah akan bertindak yang sesuai dan selaras dengan kebaikan, bukan karena patuh, melainkan karena paham.
Begitu menurut saya, Om."

"Betul!
Jadi, kamu, janganlah jadi orang yang patuh!
Jadilah orang yang paham!”


--------------------
Pesan:

Hidup tanpa kepahaman akan kebenaran yang hakiki, adalah sia-sia belaka.
Aturan-aturan dogma diciptakan untuk mengatur mereka yang hidup tanpa kepahaman, seperti anak kecil yang harus selalu diawasi.








Rumah Burung

"Dul, tolong buatkan rumah burung ya. Lalu letakkan di atas tiang tinggi di sana."

"Oke, Om...!"

(Seteleh jadi)

"Sudah jadi Om. Ada 5 lubang pintu di rumah burung itu lengkap dengan dahan untuk bertengger.
Saya mau buatkan tempat untuk makanannya."

"Tidak perlu, Dul, cukup rumahnya saja."

(Dul memandang ke si Om dengan pandangan heran...)

(Sebulan kemudian...)

"Wah banyak sekali burung-burung perkutut yang bersarang di rumah burung itu ya, Om!
Padahal tidak diberi makan!"

"Kita sudah selalu memberikan mereka makan, Dul... tapi kamu tidak melihatnya.
Itu pula lah yang membuat kamu selalu ada di sini.”


--------------------
Pesan:

Ilmu kepahaman adalah asupan makanan untuk jiwa manusia.
Jiwa yang sadar, yang telah bangun dari tidurnya, akan merasa lapar dan mencari-cari yang dapat memberi ilmu kepada mereka.








Minyak dan Air

"Om, saya ingin bertanya.
Saya perhatikan ada lebih banyak orang yang tidak paham, ketimbang yang paham.
Bagaimana membedakannya?"

(Si Om mengambil gelas berisi air.)

"Lihatlah air di gelas ini dari atas, Dul...
Perhatikan, saya masukkan sedikit minyak ke dalamnya dan saya aduk.
Kamu lihat minyak dan air tidak dapat bercampur, kan?
Tapi mereka tampak terkocar-kacir tidak karuan, kan?"

"Iya betul, Om."

"Nah, bagaimana membedakan minyak dari air?"

"Gampang, Om, kita lihat gelas dari arah samping, maka kita bisa lihat minyak selalu berada di atas air."

"Bagus, Dul!
Mengapa begitu?"

"Karena minyak lebih ringan dari air!"

"Bagus, Dul!
Mereka yang paham, memiliki hati yang lebih ringan, mereka itu ibaratnya minyak ini.
Yang tidak paham memiliki hati yang lebih berat, mereka ibaratnya adalah air.

Dari satu sisi pandangan, kita sulit membedakan kedua kelompok itu. Tetapi dari sisi pandang yang lain, yaitu dimensi ruang pandang yang lain, kita dapat membedakannya dengan jelas.

Yang paham akan selalu berada di atas dari mereka yang tidak paham.
Paham kamu, Dul?"

"Ya, saya paham, Om.
Tetapi, untuk mendapatkan dimensi ruang pandang yang lain itu kita harus bagaimana?"

"Ya seperti yang kamu lakukan selama ini, Dul.
Duduk aja di sini tenang-tenang...
Belajar..."

(Upanishads)


--------------------
Pesan:

Ilmu spiritual - kepahaman akan kebenaran yang hakiki akan menaikkan tingkat kesadaran seseorang. Semakin paham, semakin tinggi pula kesadarannya. Inilah dimensi ekstra yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya - dengan tingkat kesadaran rendah.
Semakin tinggi, semakin banyak yang dapat dilihat dan disadari, semakin bijak, arif, dan damai.








Pintu Rumah

(Tok... tok... tok... suara pintu diketuk.

Seorang tamu berkunjung ke rumah si Om.
Seperti biasa si Dul yang menjawab ketukan itu dari luar rumah.
Seperti biasa pula, sehari-hari, Dul dan si Om duduk-duduk di pendopo di depan rumah yang merupakan bangunan tanpa dinding yang terpisah dari rumah.)

"Pak, kami ada di luar sini. Kemari saja!"

(Tamu menoleh ke belakang, kemudian berjalan mendekati Dul dan Om di pendopo.)

(Selang beberapa hari, tamu lainnya datang mengetuk pintu. Dan seperti selalunya, Dul yang menjawab.)

"Pak, kami ada di luar sini. Kemari saja!"

(Tamu menoleh ke belakang, kemudian berjalan mendekati Dul dan Om di pendopo)

(Besoknya, terjadi hal yang sama, terus begitu berkali-kali.)

"Om, orang-orang itu kok tidak melihat kita sedang duduk di sini ya? Mengapa mereka selalu saja mengetuk pintu rumah, padahal bisa langsung datang menemui Om di pendopo yang terbuka ini?"

"Dul, kalau saya buat dinding tertutup dan sebuah pintu di pendopo ini, barulah mereka pasti mengetuk pintu yang di sini."

"Mengapa begitu, Om?"

"Mana saya tau, Dul!
Mungkin mereka hobby banget ngetuk pintu?!
Begitu ketemu rumah yang tidak berpintu, mereka bingung!

Bagi kebanyakan orang, kebenaran itu harus berdinding dan berpintu. Dan bila perlu diberi nama dan tata cara mengetuk pintu yang tertulis jelas.

Kalau masih kurang.... tambahkan juga sekalian; harus baca mantera komat-kamit tujuh kali dalam sekali nafas..."

"Heeeh.... kalau banyak aturannya gitu, kapan bisa masuk ke dalam-nya, Om?"

"Nah! Mereka emang hanya akan sampai di depan pintu aja, Dul! Nggak akan pernah sampe masuk!"


--------------------
Pesan:

Dogma agama dan doktrin dari masyarakat adalah dinding pemisah antara manusia dengan kebenaran yang hakiki.
Selama dinding itu masih ada, maka seseorang tidak akan dapat melihat kebenaran hakiki untuk dapat mempelajarinya dan memahaminya. 








Bank dan Ayam

(Pada suatu hari si Dul ingin mencoba membuka sebuah usaha sendiri. Ia pergi ke sebuah Bank untuk meminta bantuan modal.)

Dul: "Saya butuh modal untuk usaha saya. Saya ingin mengajukan pinjaman modal usaha di Bank ini."

Bank: "Baik, syaratnya adalah usaha Pak Dul sudah harus berjalan dengan cash flow selama 3 tahun, dan memiliki agunan berupa aset. Kami akan memberikan pinjaman 70% dari nilai agunan setelah kami melakukan appraisal padanya."

Dul: "Bagaimana saya bisa punya usaha yang sudah berjalan 3 tahun bila saya tidak memiliki modal untuk memulainya? Saya ke sini justru untuk modal itu."

(Dul pulang ke rumah si Om dan menceritakan pengalamannya).

"Om, saya tadi ketemu orang yang lucu.
Saya mau pinjam bibit telur ayam agar bisa saya tetaskan menjadi ayam petelur, eh... syaratnya saya harus sudah punya ayam yang sudah bertelur selama 3 tahun....

Kalau saya sudah punya ayam yang sudah bisa bertelur sepanjang tahun, untuk apa saya pinjam telur lagi?"

"Ooh gitu... Kamu tadi ke Bank ya Dul?”


--------------------
Pesan:

Hidup manusia dikekang dan dikendalikan oleh uang. Lembaga yang mengatur keuangan adalah Bank. Jika manusia adalah budak (Slave) - yang diperbudak oleh uang, maka Bank adalah Master Slave. Jangan biarkan hidupmu bergantung pada uang. Jangan biarkan Bank mengatur kebebasan hidupmu. Carilah dan datanglah kepada teman-teman yang paham, dan saling membantulah kalian.








Kebenaran Bersifat Universal

(Setiap hari Dul bangun pagi-pagi, membersihkan rumah, menyapu halaman, memberi makan hewan-hewan, memasak air. Menyiapkan sarapan, kemudian ia merapikan pendopo, barulah ia mandi.
Selesai mandi, ia sarapan dan siap menunggu kehadiran sang Guru di pendopo yang bersih.
Tak lupa ia juga sudah menyalakan aroma terapi yang menenangkan, dan mengucapkan salam bahagia kepada seluruh alam.)

(Si Om datang memasuki pendopo. Dul menyambutnya dengan salam dan kecupan di punggung tangan gurunya itu. Sang Guru yang sangat dihormatinya itu berpenampilan sederhana, hanya mengenakan kaos polo dan celana jeans. Tidak berkumis apalagi berjenggot, tidak berjubah, tidak pula memakai penutup kepala. Tak tampak bahwa ia seorang dengan kepahaman spiritual yang tinggi.
Kopi panas sudah disiapkannya di atas meja di samping kursi Om.)

(Si Om membalas sambutan murid setianya dengan usapan lembut di kepala sang murid.
Angin sepoi pagi, sinar mentari, kicau burung sesautan merupakan bagian dari ritual pagi mereka.
Setiap hari adalah hari yang sakral.
Mereka pun memulai percakapan mereka.)

-----

"Dul, pagi ini adalah pagi yang indah, ya?
Kita duduk di alam terbuka, menikmati angin yang dingin menyegarkan, sayup kicau burung, wangi aroma terapi yang menenangkan, serta secangkir kopi panas yang nikmat.

Kau pun lihat pendopo ini bersih tanpa ornamen, tanpa lukisan atau tulisan, tanpa identitas apa pun. Netral, alamiah, menyatu dengan alam. Sungguh membahagiakan.

Di suasana yang tenang dan indahnya ini, apa yang ingin kau tanyakan pada saya?"

"Ke-Esa-an Tuhan, Om."

"Tasawuf?"

"Ya."


--------------------
Pesan:

Ilmu kepahaman tertinggi mengenai kebenaran dan Ketuhanan diajarkan di dalam kelas khusus, yaitu kelas tanpa dinding, tanpa pintu, tanpa identitas, tanpa syarat, tanpa dogma, tanpa doktrin, bebas. Bukan di masjid saja, bukan di gereja saja, bukan di kuil saja. Kebenaran hakiki besifat universal.

Karena Tuhan adalah universal dan berlaku dimana saja di alam ini.
Hubungan di antara mereka (manusia dengan Tuhan) adalah langsung (direct), tanpa perantara, tidak orang tua, tidak guru, bahkan tidak nabi/rosul sekalipun.
Di antara mereka ada cinta-kasih.







Erianto Rachman

Tidak ada komentar: