Minggu, 26 Mei 2019

A Sufi's Diaries: Book 20




Kumpulan artikel singkat, kisah dan petikan seorang kelana, jilid ke-20.




Diary 148:
Misunderstood Spirituality
Spiritualitas yang Disalahartikan


Pejalan spiritual akan terbukakan hatinya. Ini pasti. Lalu apa yang terjadi bila hati terbuka?
Adalah memandang alam ini apa adanya dengan menerima kedua kutub kehidupan sebagai hal yang wajar dan alamiah karena memang begitulah Tuhan menciptakannya.

Mereka pun menerima diri apa adanya. Kelebihan dan kekurangan sama disyukuri dengan lapang hati dan penuh kebahagiaan. Yang tadinya memandang sesuatu sebagai masalah, sekarang tidak begitu lagi. Yang tadinya memandang sesuatu buruk, sekaranv tidak lagi. Begitupula sebaliknya yang tadinya dianggap benar dan baik adalah hal yang wajar pula. Alam ini jadi begitu indah mendamaikan setelah diterima apa adanya. Tuhan pun menjadi terasa sangat dekat dan hadir di setiap waktu.

Itu saja? Tidak. Ada satu lagi hal yang sering membuat pelaku spiritual terkejut... dan larut bila ia tidak cukup paham. Apakah itu?

Hati yang terbuka akan melihat manusia di sekitarnya tanpa penghakiman. Yang tadinya tampak biasa saja, sekarang menjadi luar biasa. Semua manusia dipandang dari hati mereka. Dan oleh karena hati manusia hakikinya adalah tempat Tuhan bersemayam di setiap manusia, maka setiap manusia akan menjadi tampak indah.

Yang pria akan menjadi sangat bersahabat, tampan, dan nyaman untuk disapa dan menjadi teman. Yang perempuan akan menjadi sangat cantik menawan dan nyaman untuk diajak berteman. Cinta Kasih Tuhan yang dirasakan oleh seorang pejalan spiritual memancar darinya ke orang di dekatnya. Kemudian kadang tanpa dapat dibendung, ia manifestasikan dalam bentuk fisik seperti ucapan, sapaan, teguran dan sikap perilaku kasih sayang yang sangat dalam.

Di dalam setiap manusia ada Tuhan yang selalu tersenyum dan juga memancarkan kasih Tuhan. Baik itu disadarinya atau tidak. Pandangan seorang spiritualist menembus wajah sampai ke hati dan melihat mereka apa adanya.

Di sinilah kadang (baca: sering sekali) energi kasih Tuhan itu bersambut dengan respon fisik perlakuan kasih sebagai daya tarik sensualitas dan romantisme. Tak palang, pertemanan yang lebih dari teman terjadi di dalam komunitas spiritual. Banyak yang melanjutkan ke perkawinan. Sisi lainnya juga memungkinkan untuk terjadi.

Semua itu yang dialami oleh masing-masing pejalan spiritual sebagai proses individu mereka masing-masing sebagai bagian dari proses kepahaman. Benar atau Salah bukan nilai atau ukuran karena itu sudah menjadi urusan mereka dan Tuhan. Bahkan seorang guru besar nan agung pun hanya mampu menyaksikan. Semuanya memang harus berjalan begitu adanya.

----------
Cinta kasih Tuhan kepadaku adalah cinta kasihku kepada sesama. Kepada Tuhan aku rela korbankan raga ini demi damainya hati sesamaku. Karena Dia-lah kekasihku. 
Kewalahan menampung Kasih Tuhan tak terbendung tumpah-ruah ke sepenjuru alam membanjiri bagai laut yang menenggelamkan. Dahysatnya Kasih-Mu kepadaku... wahai Kekasihku. 
Untuk itulah aku menulis. Sebagai saksi Keagungan-Mu dan Kekagumanku PadaMu. 
Syukurku pada-Mu tak berhingga dan tak kan pernah susut.





Diary 149:
Jigo, Berlarilah!



Dulu waktu saya masih sangat kecil, saya tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saya sering bermain dengan teman-teman tetangga seputar rumah. Kami suka bermain sepeda menelusuri jalan-jalan kampung betawi, ngambil buah kecapi yang asam, mampir ke sumur dan mengintip ke dalam dan melempar batu untuk melihat dalamnya sumur itu (iseng sekali). Dan bila hampir senja, kami menabuh bedug sebelum waktunya sampai orang kaget meneriaki kami. Ah.. badung banget... 

Karena capek dan haus, kami pun mampir ke warung untuk beli minum atau sekedar es mambo (es batu bubur kacang ijo di dalam plastik). Di sana kami merogoh kocek kami dan kepingan uang pun berhamburan. Dari mulai 5 perak (Rp 5) sampai paling besar saat itu, Jigo (Rp 25). 

"Eh ada Jigo!" wah bisa beli banyak es kita!" 

Begitu seru teman saya. 
Saya sering senyum sendiri mengingat kejadian kecil masa kanak-kanak saya. 

----------

Dulu Rp 25 terasa sangat berharga. Mungkin seperti Rp 5000 kalau sekarang.

Terlepas dari kisah di atas, di rumah saya sering melihat Ibu saya menyimpan uang di dalam dompetnya, Rp 10,000. Saya pun berpikir, "wah banyak sekali uang Ibu." 

Dibandingkan Rp 25 di kantong saya, uang saya tidak ada artinya.

Lalu saya bertanya padanya, "Ibu, kok uang ibu banyak sekali?" 

Ibu hanya tersenyum, "Ini tidak banyak. Tapi cukup..." 

----------

Sekarang kedua persitiwa itu membawa ilham kepada saya yang ingin saya share di sini. 

Bagi mereka yang hanya berkutat dalam kesehariannya dengan sejumlah uang tertentu. Misal seperti saya tadi, Jigo. maka Jigo itu sangat berharga buat saya. kalau diminta oleh teman, saya tidak akan rela. Tetapi bila saya terbiasa dengan jumlah yang lebih beasar, misal Rp 10,000, maka Rp 25 menjadi terlalu kecil untuk diperdebatkan. Tereselip dan hilang pun tidak akan berpengaruh. Dan bagi Ibu yang sudah terbiasa dengan Rp 10,000, jumlah itu tidak dirasakan besar. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Bagaimana jika contoh kejadian sederhana itu saya bawa ke pembentukan kesadaran kita. 

----------

Jika masalah kecil menyusahkanmu, maka solusinya adalah dirimu harus menghadapi masalah yang jauh lebih besar. Jika kau selalu mengeluh akan sesuatu yang kecil, maka solusinya adalah kau perlu menghadapi sesuatu yang besar. 

Susah hati dikarenakan ukuran hatimu kecil. Maka biasakanlah untuk memiliki ukuran hati yang besar, sehingga tidak ada lagi peristiwa kecil yang akan menyusahkan hatimu. Bagaimana bila kau rasakan betapa mudahnya hidupmu, ketimbang merasakan susahnya? 

Coba bayangkanlah memiliki Rp 10,000 untuk membeli sesuatu yang seharga Rp 25. Bagaimana rasanya?

Jika hanya terbiasa membayangkan memiliki Rp 25, maka gerak / usahamu pun hanya cukup untuk mendapatkan jumlah itu. Dan sulit untuk menarik yang lebih besar.

Maka Berpikirlah besar. Tempatkan dirimu di lingkungan yang semua sudah sangat terbiasa dengan Rp 10,000.

----------

Jika satu langkahmu adalah Rp 25. Maka berlarilah 1000 langkah dan dapatkan Rp 25,000 -mu.

Dan bila kau harus terjatuh di 100 langkah pertama, kau hanya akan kehilangan Rp 2,500. 

----------

Hai Jigo, Larilah! Sekarang!






Diary 150:
A Man and A Lion
Seorang Pemuda dan Seekor Singa


Di sebuah desa terpencil di Afrika tengah, hiduplah seorang pemuda. Ia mendapat tugas dari kepala desanya untuk pergi ke desa tetangga yang jaraknya ratusan km untuk meminta bantuan bagi desanya yang tengah terkena wabah penyakit. 

Berjalanlah si pemuda meninggalkan desanya, menyeberangi padang tandus yang luas. Teriknya matahari menambah berat perjalanannya. Tidak sampai separuh jalan, bekal yang dibawanya habis. Si pemuda tidak punya pilihan selain tetap melangkah. Ia mencoba mencari buruan, tetapi yang tampak hanya padang tandus. Hanya ada rumput kering dan pasir sejauh mata memandang. 

Selagi ia mencoba memandang ke kejauhan untuk mencari hewan yang dapat diburunya, ia melihat sosok yang tengah diam, dalam posisi mengendap di bawah pohon kering. 

"Singa!" Teriaknya dalam hati. 

Singa itu tampak kelaparan dan sedang mencari mangsa. Sama seperti dirinya. Panik mulai menerpa si pemuda. Yang tadinya ia merasa bisa saja mati karena kelaparan, sekarang justru bisa pula karena dimangsa singa lapar. 

Si pemuda menjaga jarak sambil berjalan perlahan, mencoba menjauh dari singa. Diam takut, berlari pun takut.
"Ya Tuhan... bagaimana ini..?" rintihnya. 

Singa adalah hewan yang disembah sebagai Dewa oleh seluruh penduduk di desanya sejak ribuan tahun. Tiada seorang pun yang dibenarkan menyelakai apalagi membunuh singa. Mereka mengagungkan dan menyucikan hewan perkasa itu. 

Sudah 3 hari si pemuda berjalan, tak lepas pandangannya dari sang singa yang mengikutinya beriap untuk menerkamnya. Namun tubuh si pemuda mulai lunglai lemah karena lapar. Sang singa memanfaatkan situasi itu, memperpendek jarak di antara mereka. 

Malam pun tiba. Si pemuda sudah tidak kuat lagi melanjutkan langkahnya. Dan singa memang dikenal sebagai pemburu malam hari yang lihai. Nasib pemuda sudah diambang akhir. Ia terkulai lemas dengan wajah menatap langit malam. Terdengar pelan derap langkah hewan buas itu tak jauh darinya. Semakin dekat... semakin dekat... sekarang ia dapat mendengarkan bunyi nafasnya. 

"Wahai Dewa perkasa, terimalah aku sebagai mangsamu, aku pasrah dan merima takdirku." Begitulah kalimat terakhir si pemuda. 

Kepala Singa sudah berada di atas wajahnya. Mengendus dan siap untuk menancapkan taringnya yang tajam. Namun sang singa hanya diam, lalu mengambil posisi mengendap di atas tanah. 

"Hei manusia, mangsalah aku, lanjutkanlah hidupmu." 

Sang Singa tetap berbaing di samping si pemuda yang hanya bisa terdiam kebingungan. Cukup lama ia tak bergeming. 

Si pemuda mengambil pisau, lalu membunuh singa disampingnya dan memakannya. Ia simpan cukup daging untuk bekal makanan di sisa perjalanannya. 

----------
Si singa tidak memburu si pemuda.
Si pemuda dinanti untuk sampai saat yang tepat untuk memahami makna hidupnya.






Diary 151:
Strange Logic
Logika yang Aneh


Sering kita mendengar atau mendapati banyak orang yang mengaitkan Rizki Tuhan dengan Rizki dunia semata yaitu yang pada kesempatan ini saya mengangkat topiknya adalah uang.

Banyak kita dengar Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu menurunkan Kasih dan Sayangnya kepada manusia berupa uang, kejayaan, sukses dalam usaha. Sehingga seoalahnya semakin Sayang Tuhan kepada kita, maka semakin jaya dan kayanya manusia itu. Dan bila mendapat rizki besar berupa uang/kekayaan, maka itu semua berkat ibadah seseorang yang lebih baik dari biasanya atau lebih baik dari orang lain.

Maka sering pula saya menerima keluhan dan pertanyaan dari orang/teman, yang bertanya, ‘apakah Tuhan sedang membenci saya? karena saat ini saya sedang bangkrut?’ Apakah saya sedang jauh dari Tuhan sehingga saya sedang susah karena terlibat hutang besar?’

Mari kita telaah lebih dalam;

Uang itu ciptaan manusia. Ini jelas. Termasuk implikasi dari uang itu sendiri seperti kekayaan, hutang, dan kemiskinan. Semua itu ciptaan manusia.

Saya berpendapat, Tuhan tidak berkaitan dengan itu semua secara langsung.
Tidaklah bisa kau kaitkan kekayaan sebagai Rizki Tuhan. Dan tidaklah kau bisa kaitkan kemiskinan sebagai bentuk hukuman Tuhan.

Rizki Tuhan tidak sebatas pada apa yang diciptakan manusia, seperti uang. Masalah yang timbul seputar uang adalah masalah yang dibuat oleh manusia sendiri. Manusia sudah sangat terbiasa menghubungkan Tuhan dgn kebahagiaan dan keriaan yang menjadi standard manusia, dibuat oleh manusia. Implikasinya sudah sangat jauh, sampai ada orang yang kerap memberikan uangnya kepada banyak orang dengan harapan akan berlipat pula rizki (uang) yang nanti akan didapat dari Tuhan.

Itu adalah kesalahpahaman manusia terhadap Tuhan. Dan mereka terjebak dalam kepahaman yang salah seumur hidup mereka. Saya hanya bisa merasa kasihan pada mereka dikala mereka jatuh miskin dan sangat berkekurangan di usia mereka yang sudah sangat lanjut (tua). Dan sebagian dari mereka pun bertanya-tanya sendiri; “Kemanakah orang2 yang dulu pernah saya bantu yang dengan harapan akan kembali rizki berlipat-lipat?"

Saya tidak mengatakan bahwa bersedekah, memberi, atau membantu orang lain sebagai tindakan yang sia-sia. Akan tetapi bila tindakan kebaikan itu diniati karena mengharapkan imbalan yang lebih banyak (dalam rupa uang), maka kebaikannya itu menjadi semu belaka.

Tuhan mengasihi makhlukNya tanpa syarat, maka sepatutnya kebaikan yang kita salurkan kepada manusia lain juga tanpa syarat apa pun. Kebaikan kita kepada manusia lain atau kepada sesama makhluk semata-mata adalah karena luasnya ruang hati kita akan semua sifat Cinta Kasih Tuhan kepada diri sendiri, dan kepada semua makhluk. Hati yang sempit tidak menyisakan tempat bagi Tuhan di dalam diri ini. Dan sangat disayangkan bila ini terjadi sampai akhir hayat.

Terimalah Tuhan apa adanya. Tuhan itu singular. Tuhan itu Berkelimpahan dalam pengertian yang hakikinya. Bukan dalam pemahaman manusia yang sempit. Rizki Tuhan datang dalam bentuk dualitasnya. Baik itu materi maupun non-materi. Baik itu berupa kejadian yang tampaknya baik karena berkaitan dengan kekayaan, maupun berupa kejadian buruk atau musibah.

Apa pun wujudnya, semua dari Tuhan dan itu adalah rizki untukmu. Rizki Tuhan dapat datang dalam wujud sekedar menerima telpon dari seorang sahabat. Rizki Tuhan dapat datang dalam bentuk kesedihan karena ditinggal orang yang dicintai. Semuanya itu adalah wujud perilaku Tuhan kepadamu.

Tuhan menunjukmu untuk mengalami itu karena dia sangat dekat denganmu. Segala bentuk “kesenangan” dan “keriaan” yang diharapkan oleh manusia selama ini hanya sebatas apa yang mampu dipikrikan manusia saja. Di balik setiap peristiwa ada hikmah yang bermanfaat untuk kita. Kita hanya perlu besabar untuk mengungkapnya.

Dan satu lagi;
Petualangan hidup yang sesungguhnya hanya dimulai sejak kita menerima Tuhan apa adanya. Segalanya adalah anugerah dari Tuhan. Baik dan buruk. Kita tidak akan bisa bergerak bersama Tuhan sebelum menerima Tuhan apa adanya.

Pandanganmu terhadap segala bentuk usahamu saat ini pun akan berubah. Di balik setiap keuntungan ada kerugian, di balik kebangkrutan ada kebangkitan. Ada pelajaran berharga yang akan membuatmu lebih baik lagi dalam menjalani usahamu. Ada hikmah. Ada berkah. Ada perbaikan diri.

Tidak akan ada lagi keluhan. Tidak akan ada lagi ratapan. Setiap hari kita sambut dengan sebentuk perayaan, hati ini selalu tersenyum mensyukuri apa pun yang terjadi pada kita. Tergeraknya hatimu untuk membantu sesama, adalah karena kebahagiaan yang kau terima begitu berlimpahnya sehingga tak sanggup kau tampung sendirian. Sehingga kau bagikan kepada orang lain.

Betulkan dulu logikamu. Gunakan Logika Tuhan, jangan hanya logika manusia.







Diary 152:
Energy and Vibration
Energi dan Getaran


Semua yang di alam ini adalah energi. Ini adalah kebenaran hakiki. Tidak ada yang bukan energi, baik itu materi sekalipun.

Hukum alam yang berlaku adalah: Energi bergerak sesuai dgn atensi dan intensi yang diberikan padanya, atau bisa dikatakan; sesuai frekuensi yang digetarkan padanya. Hukum alam yang berlaku pula pada atensi dan intensi yang menggerakkan energi itu adalah sifat dualitasnya.

Semua yang di alam ini menganut sifat dualitas. Dua sisi koin. Selalu berpasangan. Apakah intensimu positif, atau negatif. Itulah yang akan menggetarkan lalu kemudian menggerakkan energi alam di sekitarmu.

Alam TIDAK memahami bahasamu. Alam hanya memahami getaranmu. Dan hanya ada 2 jenis getaran (dualitas) yaitu; positif atau negatif. Alam TIDAK memahami wujud atensi / intensi mu yang positif atau negatif itu seperti apa. Alam hanya memahami getaranmu.

Misalkan kau mengharapkan adanya kejadian positif seperti panggilan kerja atau kenaikan pangkat. Alam tidak memahami itu sama sekali. Alam HANYA memahami getaranmu. Dan saat kau berharap akan adanya panggilan kerja atau kenaikan pangkat-mu itu, getaran yang kau pancarkan dari hatimu adalah rasa gelisah atas penantian yang lama, rasa cemas, khawatir, dan mungkin lelah.

Rasa-rasa itulah getaranmu yang sesungguhnya. Dan getaran itu berada di sisi negatif. Alam memahaminya. Getaran negatifmu itu yang kemudian menggerakkan energi di alam ke arah negatif sesuai rasamu. Hasilnya, kau akan tetap dalam penantian, gelisah, cemas dan khawatir. DAN energi-energi ini bergerak ke arahmu dalam intensitas yang berlipat-lipat.

Lalu bagaimana hakikinya kau harus bertindak?
Adalah dengan menggetarkan yang postifi; Rasamu harus positif. Dalam contoh di atas, rasamu seharusnya tenang, bahagia, semangat, dan puas. Tanpa syarat apa pun lagi.

Rasa-rasa itu tidak ada kaitannya dengan harapanmu. Apa pun itu!

Sampai di sini, kau bisa memahmi bahwa;

Harapan adalah getaran negatif.
Kata “semoga” juga mengandung getaran negatif (dalam konteks ini).

Hidup ini adalah perayaan. Setiap hari sepatutnya dirayakan dalam kebahagiaan dan penuh rasa syukur dan berkelimpahan. Tanpa syarat apa pun.

Inilah getaran positif rasamu yang dipahami alam. Alam yang adalah energi ini bergerak sesuai getaran positifmu dan membawamu mengarungi peristiwa-peristiwa hidup yang sesuai dengan rasamu itu.

Jangan berikan atensi pada yang negatif.
Jangan berintensi negatif.
Jangan meminta.
Jangan berharap.
Jangan mengatakan “semoga”.
Jangan meratap.
Jangan mengeluh.
Jangan takut, cemas, gelisah, khawatir.

Be Happy and Grateful, NOW!







Diary 153:
A Bus Story
Kisah Bis


Latar Belakang:

Seseorang pembaca bertanya kepada saya,
"Jika seorang tidak beragama, tetapi ia berbudi dan beramal baik, maka akhirat-nya nanti bagaimana?"

Jawaban saya adalah:
"Akhirat adalah rahasia Tuhan. Maka tanyakan langsung saja ke Tuhan."

Lalu saya memberikan kisah ilustrasi ini sebagai penunjang penjelasan jawaban saya itu:


Kisah ini terjadi di sebuah terminal bis.
Sekelompok orang berdiri di depan loket sedang membeli tiket. Tampak di atas loket tertulis: "TIKET BIS SEKALI JALAN, TUJUAN AKHIRAT"

Calon Pembeli 1:
"Saya mau membeli tiket bis ini tapi bingung karena tujuannya tidak jelas. Saya harus menyelidiki lebih dalam mengenai Bis ini sebelum saya membeli tiketnya."

Calon Pembeli 2:
"Saya tidak mau beli tiket ini karena tujuannya tidak jelas. Rugi dong... Saya hanya mau bayar tiket yang jelas saya tau betul tujuannya."

Calon Pembeli 3:
"Ah... kalau saya sih beli saja tiketnya... tapi saya tidak mau naik bis. Yang terpenting adalah orang-orang tau bahwa saya sudah punya tiket."

Calon Pembeli 4:
"Saya beli tiketnya, dan saya akan naik ke bis."

Calon Pembeli 5:
"Saya sudah membeli tiket, tapi tiketnya hilang."

----------

Pembeli ke-4 setelah membeli tiket, berjalan masuk ke dalam bis, menyerahkan tiket ke supir lalu memilih tempat duduk.

Pembeli ke-5 berkata kepada supir bahwa ia kehilangan tiketnya tetapi ia sudah membayarnya.

Sang Supir mengizinkan mereka berdua untuk duduk dan bis pun berjalan.

Pembeli ke-4 duduk tenang tanpa berkata apa-apa sambil menikmati pemandangan yang indah melalui jendela.

Pembeli ke-5 menikmati perjalanan, namun setelah beberapa jam ia merasa penasaran lalu beranjak dari tempat duduknya menuju ke sebelah Supir dan mengajak si Supir berbicara. Ia menanyakan kemana tujuan bis ini sebenarnya. Pembicaraan mereka berlangsung sangat lama dan tanpa akhir. Si Supir sama sekali tidak menyinggung mengenai tiket yang hilang. Terdenger mereka kadang dalam suasana serius, dan kadang tertawa riang. Tampak si Supir menepuk2 punggung si Pembeli ke-5 sambil tersenyum lebar.

----------

Demikianlah kisah Bis ini.
Tentu kisah ini sarat padat akan simbol-simbol. Tetapi cukup untuk menjawab pertanyaan di atas. Saya tidak akan menjelaskan dengan panjang lebar, cukup beberapa clue ini:

Loket adalah simbol figur otoritas.
Tiket adalah simbol agama / keyakinan.
Uang tiket yang dibayarkan adalah simbol amal perbuatan.
Bis adalah simbol perjalanan hidup.
Supir adalah Tuhan.

Silakan dicerna sendiri. 
Dan mungkin bisa dipilih juga termasuk Pembeli yang mana anda di dalam kisah di atas?







Diary 154:
Ice Cube in the Ocean
Es Batu di dalam Samudera


Ada sebuah artkel yang menyatakan bahwa para ilmuwan sampai hari ini belum bisa membuktikan bahwa KESADARAN (Consciousness) manusia terjadi / berasal dari otak manusia. Kecerdasan, akal, pikiran, logika mungkin berasal dari otak. Akan tetapi Kesadaran tidak. Lalu dari mana Kesadaran itu datang?


Ini ulasan saya;

Kesadaran adalah sebentuk energi yang paling awal ada di alam semesta ini. Ia adalah enegi pola dasar (Archetype) yang mengawali penciptaan alam ini. Sesuatu sadara bahwa ia ada, maka ia ada.

Kesadaran bagaikan samudera luas. SATU, tetapi LUAS. Dan semua yang ada di alam ini adalah berada di dalamnya. Kesadaran yang SATU itu digunakan bersama oleh semua yang eksis di dalam samudera itu.

Jadi, Kesadaran sudah ada dan tidak dihasilkan oleh otak. Namun kesadaran Di-AKSES oleh otak manusia. Gabungan kemampuan daya kerja otak kita; kecerdasan, akal, logika, menghasilkan KEPAHAMAN - boleh dikatakan - kunci untuk mengakses KESADARAN di alam semesta ini.

Maka semakin paham seseorang, semakin luas Kesadaran yang diakses-nya. Atau sering disebut, semakin tinggi tingkat kesadarannya. Dan oleh karena Kesadaran itu adalah energi, maka semakin besar pula energi kesadaran yang diaksesnya.

KESADARAN mengenai apa?
Adalah kesadaran akan keberadaan diri di alam ini, akan esensi kehidupan, dan esensi Tuhan.

Maka jika diibaratkan semua makhluk termasuk manusia adalah sebongkah es batu, maka kita adalah es batu di dalam samudera luas. Bahan dasar kita adalah sama, yaitu air. Kita adalah Kesadaran yang memadat. Semakin kita PAHAM, semakin cair batasan antara dirimu dan Kesadaran semesta ini, semakin luas / tinggi kesadaranmu.

Jadilah manusia yang PAHAM.








~ Collection of other Articles, Stories & Quotes ~




Canggih bagiku bukanlah saat kau menerima pesan digital dariku melalui teknologi terkini. 
Tetapi saat hatimu mampu merasakanku.

Canggih bagiku bukanlah saat kau dapat menggantungkan semua kegiatan hari-harimu pada teknologi. Tetapi saat kau mampu melibatkan Tuhan di dalam semua kegiatanmu sehari-hari.

Canggih bagiku bukanlah bila kau bisa mengetahui kabar alam melalui berita di internet. Tetapi saat kau mampu merasakan alam melakui indera hatimu.




Ada dua kota; kota A dan Kota B. Di antaranya ada jalan raya yang menghubungkan dari A ke B. Apakah jalan dari kota A dibuat lebih dulu baru kemudian kota B dibuat?

Tidak. Kota B harus ada lebih dulu barulah jalan dibuat dari A ke B.

-----
Antara dirimu dan cita-citamu ada jalannya.
Dan jalan itu hanya muncul setelah cita-citamu tercapai lebih dulu.

Antara dirimu dan kebahagiaanmu ada jalannya.
Dan jalan itu hanya muncul setelah kau merasakan bahagia lebih dulu.

-----
Inilah logika illahi.




Saya selalu menekankan, "Jadilah manusia yang paham!"
Paham mengenai apa?
Paham Kebenaran yang hakiki.

Apa itu kebenaran hakiki?
Adalah kebenaran yang tidak bersifat demokratis, bukan kebenaran dari keputusan dan mufakat. Bukan kebenaran kata orang lain. Tetapi kebenaran langsung dari Tuhan. Kebenaran hakiki berlaku di mana saja dan kapan saja di alam semesta ini.

Bagaimana bisa memahami Kebenaran hakiki? Mulai dari mana?

Mulai dari: Beranilah Berpikir dan Beranilah Bertanya. Karena pengetahuan hanya datang bila kamu mencarinya. Dan jawaban hanya datang bila ada pertanyaan. Jika kamu tidak bertanya, maka kamu tidak berpikir. Maka tidak akan ada jawaban untukmu.

Kepahaman hanyalah bagi mereka yang berpikir.




Mana yang ada lebih dulu?


Mana yang harus ada lebih dulu; apakah belajar dulu baru paham ataukah paham dulu baru belajar?
Keduanya benar.

-----
Semakin meningkat ilmumu, semakin kau memahami Tuhan.
Pahamilah Tuhan agar ilmumu meningkat.

-----
Semakin banyak bertanya, kau akan semakin paham.
Pahamlah, maka kau akan semakin banyak bertanya.

-----
Sampai kapan begitu?
Sampai kau hanya bisa terdiam mengamati.




Hai sobat, masihkah kau rasakan... sangat mengesankannya saat kita berbincang mengenai pengalaman spiritual kita masing-masing?

Ya sobat... sungguh berkesan dan bermanfaat. Aku jadi sering merindukanmu dan kita jadi sering bertemu dan berbincang seru sejak itu.

Tetapi sangat membosankannya saat sebelumnya dulu kita hanya menceritakan pengalaman spiritual orang lain... seolahnya itu pengalaman kita sendiri... 

Apalagi kita sering berdebat keras mengenainya!... berdebat sengit atas sesuatu yang tidak kita alami sendiri... sungguh konyolnya kita dulu… 




Saya hanya membaca sebuah buku yang sudah sangat tua, kemudian saya ceritakan kembali.

Jika kamu bertanya kepada, saya akan menyarankan padamu untuk membaca sendiri buku itu. Sehingga dirimu bisa tahu langsung dari sumbernya, bukan dari perantara saya.




Sejauh apa manusia mampu berharap?
Tidak jauh dibanding kuasa Tuhan untuk menjadikan sesuatu untukmu.

Maka janganlah berharap apa pun, cukup rasakan berkelimpahannya Tuhan melaui apa yang sudah Dia jadikan untukmu. Bersyukurlah.

Syukurmu adalah doamu.
Rasamu adalah doamu.




Di setiap diri manusia ada sejumput Cahaya Kasih Tuhan.
Biarkanlah bersinar Kasih Tuhan melalui dirimu untuk seluruh makhluk-Nya.
Senyumanmu adalah belaian Kasih Tuhan kepada semua.
Terimalah senyuman balasan dariku untukmu wahai kekasih Tuhan.




Bagi seorang pelukis, melukis itu mudah dan menyenangkan.
Bagi seorang penyanyi, bernyanyi itu mudah dan menyenangkan.

Bagi seorang pelukis, bernyanyi itu susah dan membuat rasa tidak nyaman.
Bagi seorang penyanyi, melukis itu susah dan membuat rasa tidak nyaman.

Siapakah dirimu?




Ya Tuhan, mengapa Kau ciptakan surga dan neraka?
Mereka sangat mendambakan surgaMu dan menjauhi nerakaMu.
Mereka mendalami segala cara untuk mendapatkan surgaMu dan menghindari jeratan nerakaMu. Mereka menjadi sangat memahami semua itu.

Satu-satunya yang tak mereka pahami adalah diri-Mu.
Maafkan... maafkan…





Apa saja syarat bahagiamu?
Jika ada, maka kamu belum bahagia.
Bahagia itu semudah kau meletakkan telapak tangan di dadamu dan bersyukur atas hidup ini.




Bagaimana cara bahagia?
Bahagialah, caranya akan datang.




Peace is the result of love, acceptance and tolerance.
Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang.
Kita juga bisa saling mengasihi dan menyayangi, sesama makhluk alam.




Well... If I have to admit, I would admit that the peace, love, and harmony I feel in my heart, came from KNOWING the truth. Not from what “they” said or taught.

So, I will not teach you.
I will tell you to experience it yourself.




Di dalam meditasi, saya tidak manyaksikan apa pun.
Jika suatu hari saya menyaksikan sesuatu, maka berarti saya sedang turun... dan harus segera naik lagi.

Mengapa kalian meditasi justru tujuannya ingin menyaksikan sesuatu?




Pembenaran Diri?


Kau adalah seorang yang alim, taat, patuh pada aturan agamamu.

Di usiamu yang ke-40 kau yang masih membujang dipertemukan dengan seseorang yang sangat kau sayangi. Dia pun jatuh hati padamu dan kalian serius berencana untuk menikah. Akan tetapi kekasihmu itu tidak alim, tidak taat dalam ibadah dan agama. Jauh berbeda denganmu.

Lalu kau pun berpikir,
“Mungkin memang sudah menjadi takdirku dipertemukan dengannya untuk merubahnya menjadi orang yang lebih baik dan taat beribadah.”

Lalu mulailah kau melakukan misimu padanya yaitu untuk merubahnya menjadi manusia yang taat sepertimu.

Benarkah begitu maksud Tuhan mempertemukan kalian? Atau justru sebaliknya?
Atau.... adakah maksud lain?

Silakan dipikirkan…




Harapan yang paling tidak relevan dalam belajar spiritual:
Rizki, Jodoh, menjadi sakti.




Peristiwa selalu datang dalam kondisi dualitasnya.
Setiap peristiwa negatif adalah peluang untuk kejadian positif.




"Tuhan itu jauh di atas sana."
"Tuhan itu dekat di dalam diri."

Keduanya benar.



Bila sesuatu diberi nama, esensinya cenderung tertutupi. Namun banyak yang lebih mementingkan nama, ketimbang rasa.




Tuhan bersifat Holistik.
Meminta yang spesifik kepada Tuhan itu berarti membatasi Tuhan.




Tuhan itu tidak logis!
Memahami Tuhan adalah dengan membuang jauh logika manusiamu. Gantilah dengan logika Tuhan.




SEMUA yang ada di alam ini dari bintang terjauh sampai partikel terkecil, adalah konsekuensi dari penciptaan. 
Seolahnya panggung gemerlapan yang dibuat untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan. Pembuatan panggung adalah konsekuensi dari tujuan yang sebenarnya.

Sebenarnya apa yang ingin diciptakan Tuhan? Anda tau?
Renungkanlah.




Coba Kalau Kamu jadi Saya!

Ada teman yang sedang menangis karena mengalami masalah besar. Saya mencoba menenangkan dan menghiburnya dengan mengajaknya berbicara. Curhat pun tumpah. Di akhir kalimatnya ia beseru, "Coba kalau kamu jadi saya!?"
Ia ingin saya membayangkan berada di posisinya agar bisa memahami masalah yang dihadapinya.

-----
Sangat lama sejak kejadian itu, Ia datang kepada saya dan bertanya,
"Mengapa Tuhan menciptakan hidup ini seperti ini ya?"

Saya pun berkata padanya,
"Coba kalau kamu jadi Tuhan...!?"

-----
Terlepas dari kejadian di atas,
Coba kau jawab saja pertanyaan saya itu.
Seandainya kau diberi kemampuan untuk menciptakan alam ini, mengapa kau menciptakannya?

-----
Untuk memahami Tuhan, cobalah berpikir seperti Tuhan.




Membangun rumah itu tidak bisa langsung jadi. Tapi bertahap, pelan-pelan, step by step.
Dari mulai meratakan lahan, menggali, pasang pondasi, kolom, dinding, atap, finishing, dll.
Apa yang kau kerjakan dgn tekun dan persistent pasti akan menghasilkan.

Pertanyaanya; Tahukah kau apa yang sedang kau bangun dalam hidupmu?
Tidak tahu? Bagaimana kalau kau tanyakan langsung pada Tuhan?




Bagaimana bisa menolong orang naik bila dirimu berada di bawah bersama mereka?
Bagaimana bisa membantu menyembuhkan bila dirimu juga sakit?
Naiklah dulu, baru bisa menolong yang lainnya.
Sehatkan dirimu dulu, baru bisa menyembuhkan yang lain.
Tidak ada Healing, yang ada hanyalah Self-Healing.




Bagaimana mevalidasi bahwa yang kau ketahui itu adalah kebenaran hakiki?
Tanyakan langsung pada Tuhan!
Tuhan yang akan mevalidasinya langsung.




Kamu tau...

Manusia perlu gagal berkali-kali sebelum akhirnya kapok.

Tapi manusia cukup membuktikan keberhasilan SATU KALI saja maka ia akan YAKIN selamanya dan tiada satu pun manusia yang mampu menghalanginya untuk berhasil lagi, lagi, lagi,...

Yang mencegahnya untuk berhasil yang pertama kali adalah rasa TAKUT.

Tidak percaya?
Silakan buktikan sendiri.




Jika manusia mampu mendengar Tuhan, maka manusia sepaham akan Tuhan yang Satu. Dan tiada Tuhan selain Tuhan.

Tetapi kebanyakan manusia hanya bisa berimajinasi mengenai Tuhan, maka Tuhan pun menjadi banyak sesuai daya imajinasi masing-masing.




Terima kasih Tuhan yang telah menjentik sel-sel kelabuku. Membuatku menari-nari dalam imajinasiku.
Anugerah terbesar tak terlukiskan.




Semakin tinggi ilmumu, semakin kau memahami logika Tuhan.




To release is to receive.
-----
Melepaskan adalah Mendapatkan




Memaksakan penyembuhan kepada orang yang sehat adalah tindakan yang menyakiti
Love, not force.




The result of Knowing is not obedience, but Unconditional Love.
-----
Hasil dari Kepahaman bukanlah kepatuhan, tetapi Cinta tanpa syarat.




Ya Tuhan,
Terima kasih atas karunia yang Kau tunjukkan kepadaku.
Keberlimpahannya bahagia yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sungguh tak terucapkan dengan kata-kata.




Hidupku tidak seperti orang lain yang memiliki banyak pilihan. Di dalam hidupku hanya ada satu pilihan; yaitu berbahagia.




Kepahaman hanya dicapai oleh mereka yang berpikir, bukan yang patuh.
Tidak ada cara lain.





~ Erianto Rachman ~



Tidak ada komentar: