Minggu, 06 Agustus 2017

TIME




Waktu adalah struktur konstruksi realita. Tanpa waktu, realita tidak eksis. Tidak eksis artinya tidak ada tempat untuk memproyeksikan realita itu sendiri. Dan inilah paparannya.


"Far, through strange spaces, have I journeyed into the depth of the abyss of time,
until in the end all was revealed.
Know ye that mystery is only mystery when it is knowledge unknown to man.
When ye have plumbed the heart of all mystery, knowledge and wisdom will surely be thine."


"Seek ye and learn that TIME is the secret whereby ye may be free of this space."


"Jauh melalui ruang-ruang asing, telah aku jelajahi ke kedalaman waktu, hingga pada akhirnya semuanya terungkap.
Ketahuilah kau bahwa misteri hanyalah pengetahuan yang tidak diketahui oleh manusia.
Saat kau telah berhasil mengukur kedalaman inti dari semua misteri, maka pengetahuan dan kearifan akan pasti menjadi milikmu."

"Carilah dan pelajarilah bahwa WAKTU adalah kunci rahasia dimana kau dapat terbebas dari ruang ini.



Edisi 1



Holographic Reality
Realita Holografis


Bacalah Holographic Reality, dan artikel-artikel lainnya sebelum ini. Saya akan memadukannya semua di sini.

Di tepian batas horison kosmos realita, terdapat desain pola-pola realita. Pada desain pola itu terpancarkan sebentuk kekuatan padanya yang memproyeksikan desain tersebut ke dalam wujud apa yang kita sebut realita ini. 

Desain adalah kesadaran. Alam ini adalah sebuah proyeksi dari sebentuk kesadaran.
Seperti halnya hologram - adalah proyeksi dari sebentuk desain ke dalam wujud 3-dimensi ruang. Demikianlah alam ini eksis.

Seperti cahaya yang bila ditinjau di tingkat quantum sesungguhnya adalah pelepasan paket-paket partikel photon (quanta) dari suatu sumber. Pelepasan photon dalam paket-paket quanta ini membuat cahaya tersebut sesungguhnya terpancar tidak dalam kesinambungan yang sempurna, melainkan terjadi dalam jeda-jeda pulsa (pulse, denyutan). Bila ada pulsa maka ada pula tingkat kerapatan antar pulsa-pulsa itu, yang disebut Frequency

Begitu pula dapat kita bayangkan terhadap pancaran proyeksi holografis realita kita ini. Proyeksi tersebut datang dalam paket-paket serupa quanta. Proyeksi realita ini datang dalam pulsa dan memiliki frekuensi tertentu. Seberapa rapat jarak antara pulsa - frekuensinya? Saat ini kita belum mengetahuinya. Yang pasti sangatlah rapat - frekuensinya sangat tinggi. Mungkin bahkah lebih rapat dari skala Planck terkecil?

Jika realita holografis ini terpancar dalam serangkaian pulsa, apakah implikasinya atas pemahaman kita mengenai realita ini?

Satu pulsa ke pulsa selanjutnya - dapat kita bayangkan seperti cahaya yang berkedip. Jika anda pernah melihat proyektor video di bioskop zaman dulu yang menggunakan gulungan pita film magnetik, dimana pada pita terdapat potongan-potongan gambar negatif (picture frame) yang bila diputar dan dipancarkan cahaya padanya akan terproyeksikan pada layar berupa gambar bergerak (motion pictures) atau kita sebut video. Sehingga kita mengenal istilah frame per second (fps) - Ini artinya adalah jumlah gambar (frame) yang terproyeksikan pada layar dalam satu detik. Semakin tinggi fps, video akan tampak semakin halus dan tajam.
fps dapat kita pahami sebagai frekuensi dari video.

Dengan menggunakan pemahaman di atas, maka pulsa dapat kita analogikan sebagai frame. Jarak antara pulsa adalah jarak antar frame, atau fps, atau frekuensi. 

Saya ingin memberikan contoh; kita sudah mengenal ruang tempat tinggal kita, ruang kita terdiri atas 3 dimensi-ruang (paling tidak di dalam membrane kita, atau 3-braneworld kita. Harap baca Braneworlds). Jika sebuah benda, misalkan sebuah bola, bergerak dalam ruang dari titik A ke titik B, pergerakan bola tersebut akan tampak seperti animasi di bawah ini;




Dari A ke B, bola menempuh jarak pada ruang serta pada waktu.
Bola tampak sangat halus bergerak dari A ke B. Inilah yang kita amati sehari-hari di alam kita. Semua benda termasuk manusia bergerak pada ruang dan waktu. Bahkan kalaupun tidak bergerak pada ruang, suatu benda tetap bergerak pada waktu.

Namun yang sesungguhnya terjadi adalah; Bola tersebut tidak bergerak pada ruang. Bola tersebut mengalami "ada dan tiada" pada waktu(appear and disappear through time).

Mari kita perhatikan video di bawah ini. Gunakan imajinasi anda; jika gerak bola kita perlambat, sangat lambat, atau dapat dikatakan frekuensi pulsa proyeksinya diperkecil, maka akan tampaklah bola tersebut ada dan tiada pada ruang. Bola ada di suatu posisi A, lalu ia hilang, kemudian muncul kembali di posisi lain (agak lebih ke kanan), lalu menghilang dan muncul lagi di posisi lebih ke kanan, dan begitu seterusnya hingga mencapai titik B.




Setiap obyek yang ada di alam ini bergerak hanya pada waktu, bukan pada ruang. Tetapi keterbatasan indera manusia terhadap ruang dan waktu menyebabkan terbatasnya pula pemahaman kita terhadap apa yang sesungguhnya terjadi di sekeliling kita.


Transcending Human Mind
Melampaui Pikiran Manusia

Mari berimajinasi lagi sejenak. Kita main-main ke Flat Land.
Bayangkan selembar kertas di hadapan kita. Kertas adalah obyek dengan 2 dimensi ruang (2D) karena hanya memiliki satu bidang permukaan saja. Khayalkan bahwa kertas ini adalah sebuah alam 2D dengan makhluk-makhluk 2D yang eksis padanya. Bila ada dua makhluk saling bertemu, Apa yang dilihat oleh mereka terhadap satu sama lain?



Ingat, alam mereka tidak memiliki dimensi tinggi. Mereka hanya bisa bergerak ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang, tanpa bisa ke atas maupun bawah. Atas dan bawah adalah dimensi-ruang yang tidak eksis bagi mereka. Maka mereka tidak akan dapat mengetahui wujud sesungguhnya dari apa yang mereka lihat. Apa yang mereka hanyalah sebentuk garis lurus. Garis lurus adalah obyak 1 dimensi-ruang (1D).

Sedangkan kita adalah makhluk 3D yang tengah mengamati alam 2D di hadapan kita. Kita memiliki dimensi ekstra; jarak ruang antara mata kita dengan permukaan alam 2D itulah dimensi ekstra yang tidak dimiliki oleh alam 2D. Dengan dimensi lebih banyak, kita pun dapat melihat lebih banyak. Kita memiliki sudut pandang yang tidak dimiliki makhluk alam 2D. Kita bisa melihat bahwa wujud kedua makhluk 2D itu adalah lingkaran dan bujur sangkar. 

Melihat atau mengetahui sesuatu melalui keberadaan dimensi ekstra ini adalah sebentuk kesadaran tinggi bagi makhluk 2D.

Sekarang kita kembali ke alam 3D kita.
Manusia eksis di dalam alam dengan kerangka 3-dimensi ruang (3D), namun kemampuan kita terbatas hanya pada obyek-obyek 2 dimensi-ruang saja (2D). Cobalah anda bayangkan sebuah benda 3D, sebuah kubus misalnya. Kita tahu bahwa di hadapan kita terdapat sebuah obyek 3D berupa kubus, Tetapi pandangan mata kita hanya mampu melihat permukaan kubus di sisi yang menghadap kita - dengan kata lain, kita hanya mampu memandang bagian 2D dari kubus itu. Kita tidak dapat melihat sisi belakang dari kubus tanpa memutarnya. Untuk dapat melihat sisi belakang dari kubus, manusia harus dapat melihat menembus materi kubus tersebut. Dan ini tidaklah mungkin dilakukan. Melihat obyek 3D hanya dapat dilakukan oleh makhluk yang hidup di dalam kerangka 4-dimensi ruang (4D).

Seperti pada gambar ilustrasi di bawah ini; di sebelah kiri dan kanan adalah benda 3D kubus yang sama. Mata kita hanya mampu melihat permukaan kubus itu (gambar kiri) - yaitu wujud 2D-nya saja, yang ditunjukkan oleh bidang-bidang dengan titik sudut ABFE, BCGF, dan EFHG. Makhluk yang eksis di alam 4D akan dapat melihat seluruh bidang kubus itu, yaitu ABCD, ABFE, BCGF, ADHE, DCGH, dan EFGH.
Keterbatasan otak manusia seperti yang saya jelaskan di atas-lah yang membentuk paradigma kita selama ini terhadap kerangka realitas alam kita ini. Pencetusan teori Holographic Universe atau Holographic Principle menghantarkan kita pada beranda cara berpikir yang baru terhadap realita alam. Menurut saya, ini merupakan evolusi selanjunya untuk kepahaman manusia. 


Structure of Reality
Struktur Realita

Mari kita kembali kepada alam holografis kita.
Jika alam ini merupakan proyeksi holografis, maka eksistensi setiap obyek, baik itu materi maupun energi, adalah frekuensi keberadaannya dalam waktu. Maka waktu adalah struktur kerangka realita yang sesungguhnya! Hanya waktu-lah yang nyata. Sedangkan ruang tidak lain adalah bagian dari obyek yang terproyeksikan itu sendiri. Ruang adalah ilusi.

Tanpa waktu, tidak ada satu pun yang dapat eksis, termasuk ruang itu sendiri.
Oleh karena itu, syarat dari eksistensi adalah waktu.
Sebelum desain pola realita dapat terproyeksikan, diperlukan struktur kerangka yang merupakan media, atau bangun, atau tempat dimana holografis-realita ini diproyeksikan. Struktur itu adalah waktu.

Anda mungkin sedikit bertanya-tanya mengenai kalimat ini;
Sebelum desain pola realita dapat terproyeksikan, diperlukan struktur kerangka yang merupakan media, atau bangun, atau tempat dimana holografis-realita ini diproyeksikan. Struktur itu adalah waktu.
Kata-kata yang saya tebalkan; media, bangun, tempat dimana --- merupakan bahasa untuk ruang. Padahal sebelumnya saya mengatakan ruang itu ilusi. Mengapa? Hal in dikarenakan ketidakmampuan saya menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya, saya harap anda tidak bingung. Ini juga merupakan keterbatasan manusia dari segi bahasa. Kita memerlukan bahasa baru untuk mengungkapkan hal-hal yang melebihi semesta 3D kita ini.

Jika waktu merupakan struktur atau kerangka realita, seperti apa bentuk kerangka itu? Apakah kerangka itu harus sudah ada dari awal hingga akhir waktu itu sendiri? 
Semakin lama kita mendalami persoalan ini, semakin kita terjerat dalam imajinasi yang membawa waktu ke dalam / seolah-olah sebagai ruang. Kemudian kita mendapatkan istilah baru, yaitu waktu-ruang (Time-Space), atau waktu yang ter-ruang-kan. Bijakkah bila kita membayangkan waktu yang ter-ruang-kan ini?

Di sinilah ambang akhir dari daya imajinasi manusia. 
Jika kita paksakan waktu yang ter-ruang-kan, maka waktu tidak lagi linear. Mungkin bagi makhluk yang eksis di alam 5D akan melihat waktu di dalam 3D kita sebagai ruang, sehingga mereka dapat bergerak maju dan mundur pada waktu di alam kita. Sebelum ini terbukti, saya berpendapat hal ini kurang tepat.

Jika waktu harus eksis sebagai struktur dan kerangka realita, maka ia bersifat mutlak. Ia hanya dapat bergerak maju ke masa depan. Setiap pulsa realita alam terproyeksikan pada kerangka waktu yang bergerak maju. Eksistensi seluruh realita ini bergantung sepenuhnya pada waktu yang bergerak maju!


Time & Gravity
Waktu & Gravitasi

Bagaimana dengan black hole yang dapat melambatkan gerak waktu? Kita ketahui bersama bahwa diakibatkan adanya forsa gravitasi yang begitu kuatnya dari sebuah black hole, cahaya / photon pun tidak dapat lolos darinya. Semakin dekat photon pada black hole, photon tersebut akan bergerak lebih lambat, maka waktu pun juga bergerak lambat. Jika photon berhenti (di Event Horizon dari Black Hole), maka waktu-pun berhenti. Dan jika waktu berhenti, maka tidak ada eksistensi.

Hal ini konsisten dengan penjelasan saya mengenai waktu sebagai kerangka realita. Di event-horizon pada black hole, ruang mengkerut sangat ekstrim, sehingga photon hanya melayang-layang di situ. Sehingga kita dapati urutanya seperti ini: Gravitasi besar --- ruang mengkerut --- photon berhenti --- waktu berhenti.

Sekarang saya ingin membawa pemahaman ini ke tempat yang semestinya;
Ingat, waktu adalah kerangka realita! Waktu adalah tokoh utama kita, maka hal-hal lain selain waktu merupakan bagian dari proyeksi realita holografis, termasuk ruang dan cahaya / photon. Dengan demikian, besarnya forsa gravitasi mengkerutkan waktu - bukan ruang.
Catatan: Teori Relativitas mengatakan dengan tegas bahwa gravitasi melengkungkan ruang, hal ini benar bila kita duduk di dalam kerangka ruang 3D sebagai makhluk 3D. Namun saya sedang mengajak anda transcend ke ranah baru - ranah di atas alam 3D kita, maka kita dapat memahami bahwa gravitasi bukan melengkungkan ruang, melainkan waktu!
Waktu menjadi rapat, sehingga ruang pun eksistensinya menjadi semakin rapat (mengkerut). Di saat waktu mengalami kerapatan maksimum, garis waktu akan saling tumpang-tindih (waktu berhenti), sehingga eksistensi ruang yang terproyeksikan pun mengikuti waktu yang mengalami kerapatan ekstrim tersebut. Nasib ini dialami pula oleh photon; photon kehabisan ruang untuk bergerak sehingga ia tampak melayang-layang saja di sini. Inilah yang terjadi di event-horizon pada black hole.

Ulasan saya adalah di event-horizon, yaitu batas atau diameter dari black-hole, bagaimana dengan sebelah dalam dari event-horizon itu sendiri - atau inti dari black hole itu sendiri? Inti dari black hole adalah dimana singularitas terbentuk. Bila waktu tidak eksis di dalam singularitas, maka ruang pun tidak eksis, dan seluruh eksistensi tidak ada. Singularitas adalah sebuah titik dimana tidak ada waktu (timeless), tidak ada ruang (spaceless), sebuah ketiadaan (nothingness). Sehingga urutan kejadiannya sekarang adalah: Gravitasi besar --- waktu mengkerut --- ruang mengkerut --- photon berhenti.
Benar atau tidak hipotesa ini mungkin tidak akan pernah kita ketahui dengan pasti.

Jika anda jeli dengan penjelasan saya di atas, anda akan menaruh perhatian pada forsa gravitasi. Kejadian yang menimpa waktu disebabkan oleh gravitasi. Maka anda boleh berkesimpulan bahwa gravitasi adalah sama nyata-nya dengan waktu itu sendiri! Ya!
Gravitasi adalah komponen kedua setelah waktu yang menjadi kerangka realita alam ini.

Sudah lebih dari satu abad Teori Relativitas dan Mekanika Kuantum terpisah dan tidak dapat digabungkan. Hal ini dikarenakan satu hal, yaitu Gravitasi. Gravitasi adalah forsa terakhir dari 4 forsa fundamental alam yang tidak dapat dirumuskan dalam satu rumusan agung yang dapat menjelaskan seluruh alam semesta (Theory of Everything). Teori string dan M-Theory berusaha menggabungkannya dan mereka berhasil secara matematis, namun keberhasilan teori ini tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen maupun pengamatan. Saya ingin mengatakan, seolahnya semakin sebuah teori matematis mencoba menjangkau titik tertinggi dari kebenaran hakiki realita ini, semakin teori tersebut tak dapat dibuktikan dan lebih tampak filosofis ketimbang matematis.

Dari tulisan saya ini pun, saya masih tidak dapat memastikan bagaimana sifat gravitasi yang sesungguhnya. Kita hanya dapat merasakan efeknya saja.
Bila gravitasi adalah termasuk obyek yang terproyeksikan dalam alam holografis kita, maka mengapa ia dapat mempengaruhi waktu?
Atau pertanyaannya saya rubah; Jika waktu adalah nyata dan sebagai struktur realita ini, mengapa ia dapat dipengaruhi oleh obyek yang bersifat ilusi, yaitu gravitasi?

Selain itu, perlu pula diingat, bahwa besar kecilnya gravitasi suatu obyek ditentukan dari massa obyek tersebut. Jika obyek apa pun adalah proyeksi holografis, maka sesuatu yang bersifat proyeksi dapat mempengaruhi secara langsung kerangka realita tempat eksisnya obyek itu sendiri. Bayangkan, jika alam ini adalah sebuah mimpi, maka gravitasi / graviton adalah satu zat yang dapat menyeberang dari alam mimpi ke Sang Pemimpi.

Kita harus mengangkat derajat gravitasi menjadi sejajar dengan waktu, yaitu keduanya sama-sama nyata dan merupakan bagian dari kerangka realita ini, namun oleh karena sifatnya yang khusus, gravitasi dapat dipengarhui oleh obyek di alam ini, gravitasi pun dapat menyeberang dari dan ke alam atau realita mana pun. Jika waktu adalah struktur kerangka realita yang lebih bersifat kaku tetapi dapat melengkung oleh gravitasi, gravitasi adalah struktur kerangka realita yang bersifat dinamis. 

Sifat gravitasi yang khusus dijelaskan dalam M-Theory. Silakan baca artikel-artikel saya sebelumnya untuk memahaminya (Braneworlds, The Grand Design, dll).





"Once, in a past time, I spoke to the Dweller. Asked of the mystery of time and space.
Asked him the question that surged in my being, saying: O Master, what is time?"

"Then to me spoke HE, the Master:
Know ye, O Thoth, in the beginning there and Void and nothingness, a timeless, spaceless, nothingness.
And into the nothingness came a thought, purposeful, all-prevading, and It filled the Void.
There existed no matter, only force, a movement, a vortex, or vibration of the purposeful thought that filled the Void.


"Suatu ketika di masa lalu, Aku berbicara kepada Sang Penghuni.
Aku bertanya mengenai misteri mengenai Waktu dan Ruang.
Aku bertanya kepadanya pertanyaan yang menggelora di dalam keberadaanku,
ucapku: Wahai Tuanku, Apakah Waktu itu?"

"Maka kepadaku berkatalah Dia:
Ketahuailah kau, wahai Thoth, pada awalnya adalah kekosongan, ketiadaan, tanpa waktu, tanpa ruang, ketiadaan.
Dan ke dalam ketiadaan itu datanglah sebentuk Kesadaran / Pikiran, yang ber-tujuan, yang meliputi semuanya, dan ia mengisi kekosongan itu.
Tidak ada materi, hanya forsa, sebuah pergerakan, sebuah pusaran, atau getaran dari Kesadaran yang memiliki tujuan yang mengisi kekosongan itu."





Time, The Frontier of Consciousness
Waktu, Tapal Batas Kesadaran

Saat manusia sudah mulai mempertanyakan dan memikirkan mengenai struktur realita ini, yaitu waktu, manusia mulai mempertanyakan kebenaran dibalik kebenaran. Seperti ikan yang mempertanyakan sifat-sifat air dan menduga ada zat lain selain air di alam ini dimana hukum kasar yang berlaku di dalam air tidak sama dengan hukum kasar yang berlaku di luar air. Ikan akan merasa sangat kebingungan bila hukum alam dapat berubah mengikuti alam-nya, karena bagaimana mungkin suatu hukum alam tidak berlaku di mana saja di alam manapun? Kemudian ikan tersebut membuka lebih dalam rahasia alam, dan menemukan adanya lapisan hukum alam yang fundamental. Hukum yang fundamental inilah hukum yang baku, satu, dan berlaku di semua eksistensi realita alam ini. Akan tetapi ikan tidak dapat membuktikannya selama ia masih berada di dalam air.

Ikan itu ibarat manusia. Waktu adalah struktur konstruksi realita dimana semua eksistensi dapat eksis. Mungkinkah ada eksistensi yang terbebas dari kerangka waktu ini? Bila ya, maka entitas tersebut mesti-lah yang menciptakan realita itu sendiri.

Apakah kerangka realita ini - waktu - bersifat keseluruhan - mencakup semua realita yang ada, atau ia berlaku lokal saja? Apakah waktu yang menjadi kerangka realita di alam 3D (3-braneworld) hanya berlaku untuk alam 3D kita ini, sedangkan di alam 4D, 5D, dst masing-masing memiliki rangka waktunya sendiri? Sehingga rangka-rangka waktu itu terpisah dan berdiri sendiri-sendiri?
Kita tidak mengetahuinya, dan tidak tahu kapan kita bisa mengetahuinya.

Seperti yang sudah saya nyatakan di atas; dimensi ekstra adalah bentuk kesadaran. Kemampuan manusia dalam memahami alam - kebenaran yang hakiki - berbanding lurus dengan tingkat kesadarannya. Semakin paham, semakin tinggi kesadaranannya. Semakin tinggi tingkat kesadarannya, ia pun semakin paham.

Jika ruang eksis pada waktu, maka waktu adalah tapal batas evolusi kesadaran manusia.


Ini adalah sebuah perenungan;

Dalam ilmu spiritual, kita dilatih untuk mengikuti irama waktu, meresapi aliran Kesadaran illahi yang eksis di relung-relung waktu yang meliput seluruh realita ini, seluruh eksistensi tanpa kecuali. Kesadaran ini mengisi setiap waktu dan ruang. 

Waktu adalah syarat mutlak dari hadirnya kesadaran di realita ini. Kesadaran adalah syarat mutlak untuk terciptanya waktu sebagai struktur realita. Kesadaran dan waktu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Mengarungi sungai illahi adalah dengan selalu eksis bersama kesadaran illahi di aliran waktu. Inilah kesesuaian universal - keselarasan pamungkas.




"And I questioned the Master, saying: Was this thought eternal?
And answered me the Dweller, Saying: In the beginning, there was eternal thought, and for thought to be eternal, time must exist."

"So into the all-prevading thought grew the Law of Time.
Aye time which exists through all space, floating in a smooth, rhythmic movement that is eternally in a state of fixation."

"Time changes not, but all things change in time.
For time is the force that holds events separate, each in its own proper place."

"Time is not in motion, but ye move through time as your consciousness moves from one event to another."


"Dan Aku bertanya kepada Sang Master, berkata: Apakah Kesadaran ini bersifat abadi?
Sang Penghuni menjawabku, berkata: Pada awalnya, hanyalah Kesadaran abadi, dan agar Kesadaran itu bisa abadi, Waktu harus eksis."

"Maka pada Kesadaran yang meliput semuanya, muncullah Hukum Waktu.
Ya waktu yang eksis ke semua ruang, mengambang dengan pergerakan ritmis yang halus  yang abadi dalam kondisi tetap."

"Waktu tidak berubah, tetapi segala sesuatu berubah dalam waktu.
Karena waktu adalah forsa yang memisahkah setiap peristiwa pada ruangnya masing-masing dengan sesuai."

"Waktu tidak berjalan, tetapi kau berjalan / bergerak melalui waktu seperti kesadaranmu bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya."





Blinks of Existence
Kedipan Keberadaan

Pada setiap momen waktu terdapat cahaya kesadaran illahi. Waktu dan Kesadaran adalah satu-satunya yang eksis dalam kesinambungannya yang sempurna, nyata, tanpa jeda pulsa, dalam kerapatan frekuensi yang tak terhingga. Sedangkan yang lainnya eksis dalam frekuensi pulsa, tidak nyata.
Eksistensi bagai kedipan, kita eksis di setiap kedipan pada waktu.

Waktu tidak dapat berbalik. Sangatlah merugi mereka yang tidak memahami hal ini dan menyia-nyiakan hidup mereka tanpa merasakan Kearifan Agung dari kesadaran illahi yang dapat dipetiknya setiap saat. Di setiap momen, setiap satuan waktu terkecil, adalah karunia.

Melainkan mereka membiarkan waktu menuakan mereka, dari terbit hingga tergelincirnya matahari. Mereka memenuhi hidup mereka yang tak nyata ini dengan hal-hal yang tak nyata pula. Sedangkan ketahuilah, bahwa jiwa manusia memerlukan hal-hal yang nyata, yaitu Kearifan Agung dari Kesadaran illahi yang sangat berlimpah terselip di relung-relung waktu, di setiap kedipan eksistensimu.

Memberi asupan kepada jiwa dengan kesemuan membuat jiwa tetap tidur dan terbelenggu mimpi ilusi. 
Memberi asupan kepada jiwa dengan kenyataan / kebenaran hakiki akan membangunkan jiwa yang tidur, dan memiliki kesadaran yang melampaui (transcends) kesadarannya sendiri.

Tiada karunia yang lebih megah, lebih agung, dan lebih membahagiakan selain itu.

Mendekatlah pada yang nyata itu.
Mengalirlah bersama-Nya. Resapi keberadaan-Nya
Hargai yang Sekarang.
Bersyukurlah.

Sampai suatu masa kau akan menemukan lekuk-lekuk waktu dimana tiada lagi kedipan eksistensi bagimu.





"Light is thine, O man, for the taking.
Cast off the fetters and thou shalt be free.
Know ye that they Soul is living in bondage fettered by fears that hold ye in thrall."

"Cahaya adalah milikmu, wahai manusia, untuk kau ambil.
Buanglah belenggu dan kau akan bebas.
Ketahuilah kau bahwa Jiwa mereka hidup dalam tahanan.
terbelenggu oleh ketakutan yang membudakkan."


(The Emerald Tablet of Thoth, Tablet X, The Key of Time)







"By time, Indeed, mankind is in loss,
Except for those who have believed and done righteous deeds
and advised each other to truth and advised each other to patience."

"Demi waktu, sungguh, manusia berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang memiliki keyakinan dan mengerjakan kebajikan
serta saling menasihati sesamanya akan kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."

(Quran: Al-Asr)


~ Erianto Rachman ~

Tidak ada komentar: