Selasa, 05 Desember 2017

Wei Wu Wei









Dimulai dari bertanya-tanya; Mengapa alam ini ada, Tuhan itu apa? Saya ini siapa dan untuk apa saya ada? Pada mulanya banyak yang memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu, tetapi semakin banyak pertanyaan baru yang muncul dengan cakupan yang semakin meluas. Kepalamu penuh dengan kebingungan. Semakin sedikit orang yang mampu memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Dan tanpa dirasa bertahun-tahun sudah berlalu.

Di dunia ini tidaklah mungkin hanya kau seorang diri yang mengalami apa yang kau alami ini. Sebagian dari mereka adalah para pendahulumu. Sebagian mereka dikenang dan diagungkan atas ajaran yang mereka bawa, atau juga karya-karya mereka. Kau pun mencari mereka melalui literatur. Kau tenggelam dalam lautan karya-karya agung.

Alam semesta bekerja dalam kesesuaiannya. Setiap benda-benda langit berperilaku mematuhi hukum alam yang baku dan tidak berubah. Kau mengamati alam, bertanya mengapa mereka berperilaku seperti itu? Tentunya mereka tidak punya pilihan lain selain patuh terhadap hukum yang ada. Satu hal yang kau dapat simpulkan dari pengamatanmu, bahwa hukum alam itu membawa harmonisasi bagi seluruh alam ini. 

Harmonisasi? Bagaimana dengan ledakan bintang atau supernova yang terjadi di langit? Bagaimana dengan gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dll? Apa tanggapanmu mengenai kerusakan yang diakibatkan oleh hukum alam itu sendiri? Apakah itu adalah bentuk dari harmonisasi juga? Cukup lama kau merenungkan hal ini. Ada masa dimana kau merasa bimbang akan pemahamanmu mengenai alam ini. Jika hukum alam menjaga harmonisasi, mengapa ada perusakan?

Kebingunganmu berkembang menjadi gundah, cemas dan frustrasi, yang membawamu mendekati zona apathy, setelah kau memperhatikan bahwa harmonisasi yang tampak negatif ini terjadi juga pada manusia. Manusia adalah makhluk yang tercipta di dalam alam yang sama dengan alam yang sedang kau amati. Maka manusia juga seharusnya mematuhi hukum alam yang sama. Tetapi manusia juga mampu melakukan perusakan. Dimanakah harmonisasi itu?

Kau kehilangan pegangan. Apakah ada yang salah dar pemahamanmu selama ini?
Kau mencoba melupakan ini semua dan kembali ke aktivitasmu sehari-hari.

Selang beberapa tahun kemudian kau temukan dirimu dalam dahaga setelah bekerja keras. Kau ambil segelas air dan meminumnya. Air putih tawar ini masuk ke dalam mulutmu, mengalir melalui tenggorokan, menghasilkan sensasi yang sangat hebat. Sebentuk kepuasan dan kebahagiaan, karena kau terlepas dari dahaga yang tadinya menyiksamu. Seketika itu pula kau teringat kembali dengan kegundahanmu yang pernah kau hadapi dan belum terentaskan.

Sambil termenung memandangi air di dalam gelas, kau memperhatikan air yang sedikit itu membawa perubahan bagi tubuh dan perasaanmu. Namun air yang banyak jumlahnya juga bisa berbahaya dan mengganggu 'harmonisasi' yang kau pahami. Mungkinkah harmonisasi bergantung pada jumlah? Tanyamu dalam hati. Akan tetapi sedikit atau banyak-nya jumlah atas sesuatu itu menurut ukuran siapa? 

Kau menyimpulkan kemudian, bahwa harmonisasi itu bersifat relatif.
Jika harmonisasi dari hukum alam ini relatif, bagaimana kau harus menyikapinya?
Sampai di sini kau perlahan mulai melihat kejadian-kejadian alam sebagai hal yang wajar. Karena selagi kejadian-kejadian alam ini berperilaku masih mematuhi hukum alam, maka semuanya terjadi secara wajar. Kau memilih istilah "alamiah" (Natural).

Termasuk dengan semua perbuatan yang dilakukan manusia. Semua adalah alamiah. Tidak ada satu pun manusia yang dapat melanggar hukum alam ini, maka semuanya terjadi secara alamiah. Se-ekstrim apa pun suatu kejadian, semuanya terjadi secara alamiah.

Gejolak hatimu mulai reda. Perlahan kau merasakan ketenangan. Kau mulai menerima alam ini apa adanya. Kau pun mendalami meditasimu dengan rasa yang berbeda. Jika semuanya sudah harmonis dan alamiah, maka meditasi terbaik adalah "Kosong." Kau membiarkan dirimu melebur dengan seluruh alam ini, apa adanya. Tanpa pengharapan, tanpa beban. Tidak pernah kau merasakan ringan, seringan kali ini. Baru kali ini kau merasakan bebas tanpa beban, ikatan, atau kemelekatan sedikitpun.

Dengan menerima alam ini apa adanya, pikiranmu menjadi terbuka menerobos dinding-dinding yang selama ini membatasimu. Kau merasa bebas merdeka yang sesungguhnya. Dinding-dinding apakah yang dimaksud? Adalah dinding eksternal yang berada di luar dirimu, seperti doktrin dan dogma dari agama, dari ajaran, didikan orang tua, guru, masyarakat, lingkungan, budaya, dan aturan-aturan lain yang dibuat oleh manusia.

Bagaimanakah manusia dengan sombongnya membuat peraturan serta hukum baru yang jauh lebih ditakuti ketimbang hukum alam baku yang sudah ada sejak alam ini tercipta, yang terbukti sudah sempurna mengatur alam ini dari benda-benda besar hingga partikel-partikel terkecil?

Sekarang semua itu sudah tidak penting lagi bagimu. Kau hanya ingin memahami hukum fundamental alam ini. Harmonisasi yang hakiki, yang kau sebut "alamiah".





Akan tetapi kau mulai bertanya lagi, apakah ini pula termasuk harmonisasi yang relatif? Siapa yang menilai atau mem-validasi rasa-mu yang sekarang ini? Kau segera mulai dipenuhi pikiran yang bergejolak untuk kedua kalinya. Kau mencari guru baru, dan beberapa kali kau tidak menemukan jawabannya. Mungkin bukan mereka yang tidak mampu menjawabmu, melainkan kau-lah yang tidak memahami apa yang diucapkan guru-gurumu itu.

Kau terjebak di dalam persepsimu sendiri. Kau menggunakan akalmu yang sangat terbatas untuk melebur di dalam alam yang sungguh luar biasa luasnya ini. Akalmu tidak mampu menampungnya. Sekarang akalmu-lah yang menjadi penjaramu! Meditasimu yang kosong tidak pernah benar-benar kosong. Masih ada penjara persepsi yang mengurungmu dari peleburanmu dengan seluruh alam ini. Kau mulai menyadarinya. Dan mulai hari itu, kau membebaskan dirimu dari persepsimu, dan menerobos masuk ke dalam kekosongan hakiki.

Malam itu kau rasakan kesirnaan rasa tubuhmu. Tanganmu tidak ada, badanmu tidak ada. kakimu tidak ada. Kau tidak tahu apakah sedang bernafas atau tidak. Hanya ada gelap, hening, tenang, kosong sempurna. Kau sudah benar-benar memasrahkan jiwa ragamu kepada alam. 

Seluruh alam ini berada di dalam Sang Pencipta. Dia-lah yang Singular. Tiada apa pun selain Tuhan. Hanya Dia-lah yang eksis.

Untuk bisa memahami-Nya, pertama kau harus menerima seluruh alam ini apa adanya dalam kerharmonisan relatif-nya. Kemudian kau menerima Tuhan apa adanya. Tidak ada baik-buruk, tidak ada kiri-kanan, tiada surga-neraka, tidak ada mati-hidup, karena Tuhan adalah Singular. Alam pun sirna setelah kesaksianmu itu.
Inilah kesaksian terdalam yang mampu dicapai manusia; 'Tuhan adalah Singluar, dan kau adalah Singular.'

Saat mata tidak melihat, telinga tidak mendengar, dan mulut tidak berbicara, kau hanya diam, kosong, tanpa melakukan apa pun, kau mulai memahami Sang Maha Diam itu. Dialah Yang Maha Singular, Dia lah Tuhan yang hanya bisa ditemui bila kau mau berdiam sejenak saja.

Jika waktu adalah struktur alam ini, dan realita adalah proyeksi kesadaran Tuhan, maka Tuhan hanya dapat ditemukan saat kau berdiam diri di antara pilar-pilar waktu itu, di antara jeda-jeda waktu.

Pertemuanmu dengan Tuhan adalah peristiwa yang hanya dapat dicapai dalam kondisimu yang polos, telanjang, bersih, suci tanpa kemelekatan sedikitpun. Kau sudah dibersihkan dari kemelekatan duniawi selama hidupmu. Tiada lagi dogma dan doktrin eksternal yang boleh kau sertakan di dalam perjalananmu ini. Hanya ada dirimu dan Tuhan. Hubunganmu dengan Tuhan adalah langsung (direct) tanpa perantara apa pun atau siapa pun.

Kau mendapatkan Kepahaman Illahi. Inilah Kepahaman akan kebenaran hakiki yang kau cari sepanjang hidupmu. Kepahaman ini bukan datang dari manusia, tetapi langsung dari Tuhan.
Kepahaman mengenai Tuhan hanya dapat divalidasi oleh Tuhan.

Sejak itu hidupmu berubah total. Sekarang kau menyadari keberadaan Tuhan secara nyata di setiap gerakmu, di setiap nafasmu. Tidak pernah ada sekali pun kau tidur maupun terjaga tanpa adanya Tuhan. 

Inilah kondisi harmonis yang hakiki. Inilah kondisi alamiah yang hakiki.
Seluruh alam ini ada dalam kondisi harmonis dan alamiah dalam hubungan singularitas mereka dengan Tuhan.

Manusia adalah makhluk dengan akal dan ego, terhempas jauh ke dasar jurang kesadaran yang gelap. Karena gelapnya kondisi di dasar jurang itu, manusia menggunakan akal mereka untuk mencari keharmonisan sendiri. Maka dibuatlah sistem, peraturan serta hukum yang harus dipatuhi bersama. Dan mereka menciptakan penjagaan / pengawasan terhadap sistem tersebut, yaitu hadiah dan hukuman. Hadiah bagi mereka yang patuh pada sistem, hukuman bagi yang melanggar sistem.

Sayangnya dengan ego, mereka menggunakan sistem itu sendiri untuk menguasai manusia lainnya atau menjadi kelompok yang dominan dan merasa lebih penting atau lebih baik ketimbang kelompok lainnya. Jikalah mereka sadar, bahwa sesungguhnya ada tempat yang lebih terang di atas jurang itu. Yang harus mereka lakukan hanyalah mendaki naik ke atas.

Kau adalah salah satu dari sedikit yang berusaha memanjat tebing jurang yang curam itu, keluar dari sistem, berada di atas sistem, mencari penerangan, pencerahan langsung dari Tuhan. Motivasimu bukan dari eksternalmu, melainkan dari internal - sebentuk rasa yang selalu menyertaimu dalam perjalananmu. Awalnya kau tidak memahami rasa itu, namun semakin menanjak kau semakin memahaminya. Rasa itu semakin nyata muncul ke permukaan dari dirimu yang terdalam. Inilah konsekuensi dari kepahamanmu mengenai Ke-Esa-an Tuhan. Yaitu kau telah merasakan kerinduan-Nya.
Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan pulang, yang mempertemukanmu dengan dirimu yang sejati. Dalam kediaman, ketenangan, keheningan, kau termukan Tuhan yang merindukanmu sejak lahirmu.

Saya menganjurkan membaca artikel-artikel saya sebelumnya untuk lebih memahami mengenai Perjalanan Ke Dalam, Perjalanan Pulang, Kerinduan Tuhan, dll.






Setelah perjuangan yang tidak ringan, kau berhasil naik dan mencapai posisi di atas jurang. Duniamu yang gelap telah kau pahami dengan kapahaman yang sempurna. Duniamu yang terang telah kau capai dalam kesadaranmu yang tertinggi.
Di sini sadarlah kau akan keterhubunganmu dengan seluruh alam ini. Semuanya Satu tak terpisahkan. Kau dan Tuhan tak terpisahkan. Kau adalah Dia, dan Dia adalah dirimu.

Kemudian, terjadilah satu peristiwa penting.
Kebangkitan dirimu yang sesungguhnya.

Sosok yang selama ini terpendam jauh di dalam dirimu. Yang terlupakan. Yang tertutupi oleh kabut ilusi persepsi dunia fana.

Dirimu yang sejati bangkit bagaikan bayi yang baru lahir. Kehadiranmu yang baru bersinar terang menyilaukan ke segala penjuru.
Kehadiranmu disambut seluruh penjaga alam raya. Semua penghuni alam tertunduk sujud padamu.
Kaulah Sang Agung pembawa kearifan illahi.

Kini kau yang wujud bukanlah lagi dirimu yang dulu, melainkan dirimu yang baru, terbangkitkan.
Pengelihatanmu adalah pengelihatan-Nya. Gerakmu adalah Gerak-Nya. Ucapanmu adalah Ucapan-Nya. Kau kini berada di dua dunia, menguasai keseimbangan keduanya dengan sempurna.

Kau yang sekarang adalah kau yang sejati yang sesungguhnya diciptakan sejak awal. Kau dan fitrahmu sudah dalam kesejajaran tanpa penyimpangan sedikitpun. Kau hidup karena-Nya, dan Dia ada karenamu. Kalian sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Dual sekaligus Singular.

Langkahmu ringan seringan angin. Semangatmu meledak bagaikan letusan gunung berapi.
Ucapanmu menggetarkan jiwa mereka yang mendengarkanmu, namun lembut selembut kapas membuai hati.

Apa pun yang kau lakukan di dunia ini merupakan manifestasi dari kehendak-Nya.
Semua yang kau kerjakan adalah kehendak-Nya.
Kau berencana, melakukan, menentukan hasilnya, bersama Tuhan.


---------------

Wei Wu Wei diartikan sebagai; Effortless Action (Aksi tanpa Upaya), atau Action without Action (Aksi tanpa Aksi).

Untuk menjelaskan ini saya akan menggunakan analogi pohon mangga. 


Bayangkan bahwa anda adalah pohon mangga. Sejak masih dalam kondisi biji, anda adalah biji pohon mangga. Anda tercipta sebagai pohon mangga. Inilah jati diri anda yang sesungguhnya. Fitrah anda adalah tumbuh sebagai pohon mangga dan menghasilkan buah mangga di ujung ranting anda.

Namun entah bagaimana, biji mangga (anda) terdampar di tengah-tengah perkebunan apel.
Anda adalah pohon mangga yang tumbuh di tengah-tengah pepohonan apel. Semua pohon apel itu memaksakan pengaruh mereka pada anda, bahwa satu-satunya buah yang dikehendaki atau diterima di lingkungan ini adalah buah apel, maka anda pun harus menghasilkan buah apel. Dan hanya apel.

Bagaimana bisa pohon mangga berbuah apel? Mustahil. Tetapi inilah yang terjadi!
Dengan segala upaya penuh derita serta penyiksaan terhadap diri sendiri, anda pun berhasil menghasilkan buah apel dari ujung ranting-ranting anda. Dan anda harus menjaga agar hanya buah apel yang anda hasilkan sepanjang tahun.

Anda merasa bangga atas prestasi ini; menghasilkan apel manis yang diterima semua anggota masyarakat dimana anda berada.
Anda adalah pohon mangga berbuah apel!


Anda sangat takut tidak diterima oleh lingkungan anda. Anda sangat takut melanggar doktrin dan menerima hukuman yang ditetapkan oleh lingkungan anda. Padahal, hukum itu hanyalah ciptaan mereka. 

Anda tidak pernah terpikirkan apalagi berani untuk melihat ke dalam diri dan bertanya kepada diri anda sendiri, "siapakah sebenarnya aku ini?"


Jika anda mau merenung dan berdiam sejenak dalam keheningan untuk mempertanyakan hal itu, akan muncul jawaban halus nan samar yang menyadarkan anda. Anda hanya perlu mendengarkan diri anda sendiri.

Meditasi, perenungan, yang disertai pencarian, pembelajaran, akan mengasah indera-indera halus anda. Bukan hanya lima indera yang anda ketahui selama ini; mata, telinga, hidung, kulit dan lidah, melainkan indera-indera halus lainnya yang jumlahnya sangat banyak dan berpusat pada hati anda. Rasa di hati anda-lah yang akan mengartikan sinyal-sinyal yang berasal dari dalam diri itu.
Jati diri anda berseru, "Aku adalah pohon Mangga!"


Kebangkitan diri sejati anda adalah peristiwa yang sangat penting di dalam hidup anda. Menurut saya tidak ada peristiwa yang lebih penting dari kemunculan diri sejati.

Diperlukan keteguhan, kekukuhan dan kekuatan hati untuk dapat berkata dengan keyakinan, Inilah saya! Saya adalah pohon mangga!

Kemudian anda pun tidak lagi berbuah apel. Anda menghasilkan buah mangga.
Dan ini hanyalah permulaan. Yang akan anda alami selanjunya adalah kenaikan kepahaman dan kesadaran anda.

Anda mulai menyadari bahwa, tidak hanya buahnya saja yang mangga, ranting anda juga adalah ranting mangga! Daun, bunga, dahan, batang, hingga sampai ke akar, adalah mangga! 

Selama ini anda hanya fokus untuk mempertahankan tumbuhnya buah apel di ujung ranting anda. Tetapi dengan mengembalikan buah ke yang sesungguhnya sesuai jati diri anda, yaitu mangga, barulah anda menyadari bahwa ranting anda pun sesuai dengan buahnya; mangga!

Begitu pula dengan daunnya, dahan, ranting, batang, akar, semuanya SESUAI. Seluruh eksistensi anda SESUAI dan ALAMIAH, yaitu Pohon Mangga!

Setiap bagian dari pohon itu saling berkesesuaian, selaras, Synchronized.
Setiap bagian pohon saling melengkapi dan saling membutuhkan, dan merupakan rangkaian jaringan yang tak terpisahkan.
Setiap bagian pohon anda saling berbicara dalam bahasa yang sama. Inilah Keharmonisan! inilah Alamiah!

Kemudian, tidak hanya sampai di situ.
Anda baru menyadari bahwa anda memiliki akar. Akar ini tidak hanya berbicara dengan bagian pohon lainnya, tetapi juga berbicara dengan tanah, lalu dengan bumi. Bumi pun merupakan bagian dari eskosistem yang lebih besar lagi, seperti matahari, dan seluruh alam semesta ini.
Anda dan seluruh alam ini saling berkesesuaian, selarasSynchronized.

Jati diri anda terhubung dengan seluruh alam!
Anda adalah bagian dari alam ini. Anda kecil juga besar. Anda adalah seluruhnya.
Inilah yang disebut dengan harmonis. Inilah Alamiah!


---------------

Kita sampai pada bagian utama dari tulisan saya ini.

Dengan menyadari secara utuh jari diri anda yang hakiki, maka anda tidak perlu melakukan upaya apa pun untuk menghasilkan buah anda, yaitu mangga.
Karena anda memang sudah sebagai pohon mangga sejak anda tercipta.

Anda tidak perlu berupaya atau meminta diri anda sendiri untuk menghasilkan sesuatu yang memang sudah ada dan sudah menjadi bagian dari diri anda sejak anda tercipta.
Pohon mangga otomatis berbuah mangga.

Inilah yang disebut sebagai Wei Wu Wei.
Effortless Action (Aksi tanpa Upaya), atau Action without Action (Aksi tanpa Aksi).




---------------

Saya ingin menyatakan ini dengan tegas;
Jika anda menemukan jati diri sejati, anda akan hidup di alam ini sesuai fitrah anda.
Semua terjadi dengan harmonis dan alamiah. Apa adanya.

Seperti halnya planet-planet berevolusi terhadap matahari, tanpa perlu dipaksa melakukannya.
Seperti air yang mengalir ke bawah dan menempati wadah dalam bentuk apa pun, tanpa perlu diberitahu / disuruh begitu.


Perjalanan spiritual akan mempertemukan anda dengan jati diri anda. Terjadi sebentuk kebangkitan besar yang merubah diri dan kehidupan anda secara menyeluruh.

Jika anda ternyata pohon mangga di tengah-tengah kebun apel, maka terjadilah demikian. Tidak ada yang bisa mencegah anda untuk menjadi jati diri, selain anda sendiri.

Passion anda yang hakiki muncul dari dalam, meledak keluar membuka tatanan kehidupan baru.

Kebangkitan diri anda ini disambut oleh seluruh alam. Alam sudah punya tempat yang sesuai untuk anda. Anda hanya perlu hidup di tempat itu. Maka segalanya terjadi begitu saja, segalanya bergulir secara otomatis, alamiah, dan harmonis dengan seluruh alam semesta.

Kebangkitan diri anda yang sesungguhnya menjawab panggilan kerinduan Tuhan.
Dia-lah yang merindukanmu. Bukan anda yang berkedok, melainkan anda yang sejati.


Alam telah menyusun pola hidup yang terbaik untuk anda. Tanpa kekhawatiran, tanpa gusar, tanpa keresahan, asalkan anda mau menerima diri anda yang sejati, apa adanya. Tanpa syarat apa pun dari eksternal di sekeliling anda.

Eksternal tidak lagi mampu mempengaruhi anda. Karena anda sudah bertemu dan bersama Tuhan.

Anda menjadi manusia yang bebas dari semua bentuk pengaruh eksternal; dogma, doktrin, ajaran, apa pun itu. Karena anda sudah bertemu dan bersama Tuhan.
Satu-satunya validasi yang kau butuhkan hanyalah dari Tuhan.







Tanpa harus melakukan apa pun, Tuhan sudah bersamamu.
Tidak perlu ada aturan buatan manusia yang menjagamu, karena kau sudah bersama Tuhan.

Kebersamaanmu dengan Tuhan adalah di setiap nafasmu, di setiap jeda pilar-pilar waktu. Tidak ada satu masa pun kau tidak bersama Tuhan.

Tuhan akan selalu menjawab setiap pertanyaanmu, langsung ke dalam hatimu.
Dia menegurmu, menyapamu, menjawab pertanyaanmu, memberikan pengetahuan-Nya di saat kau terjaga.
Tuhan hadir di dalam mimpimu dan memberikan pesan-pesannya padamu.

Pesan-pesan -Nya dirasakan sebagai ilham, dan rasanya menggetarkan sekujur tubuh bagaikan disiram air dingin. 
Rambut kuduk dan lenganmu berdiri meremang, kau menggigil menerima pengetahuan-Nya.

Saat kau tidur, tidurmu bagai terjaga. 
Saat kau sendiri, kau tidak pernah kesepian. 
Di dalam keramaian, kau tenang dan selalu bersama-Nya.


Kaulah chakra -Nya.
Bagai bintang di langit, kau adalah salah satu bintang itu.
Memberikan cahaya kepada alam ini.

Kaulah pintu dimana Tuhan hadir di alam ini.
Kau adalah simbol kehadiran-Nya.










===============
Erianto Rachman